Liontin Bertakhta Mutiara (1)

Liontin Bertakhta Mutiara (1)

Aku tengah menikmati senja di tepian pantai. Semilir angin sepoi-sepoi meniupkan rambut panjangku. Ombak di kejauhan saling berkejaran. Hempasan ombak di tepi pantai meninggalkan jejak. Berbicara dalam lirih dengan embusan napas yang terhitung satu-satu. Aku sedang berusaha berdamai dengan takdir.

Takdir yang membawaku ke dalam dunia yang tak pernah aku kenal. Dunia yang membuatku bisa melihat sosok dari alam yang berbeda. Mengembara mencari jejak yang hilang terbawa oleh suratan nasib, dan mencari kebenaran akan realita sebenarnya.

Sekilas aku melihat sosok lelaki yang tengah duduk di tepian pantai. Dia seperti menyimpan luka yang teramat dalam. Ditatap lautan luas yang baginya hanya potret alam, yang telah menempa menjadi seorang tanpa rasa. Hampa, sepi. Aku mulai menyelami.

Perlahan kuberjalan diam-diam. Duduk di sampingnya. Ia bergeming, masih begitu asyik dengan dunia yang ia cipta sendiri. Aku mencoba bersabar menghadapi. Lelaki itu begitu dingin, sedingin aroma tubuh yang menguar. Mungkin pula sedingin hatinya.

“Aku tak memintamu untuk berada di sini,” ucapnya dingin, masih bergeming.

“Aku pun tak mau berada di sini, tapi kehadiranmu yang telah memaksaku untuk akhirnya duduk di dekatmu.”

“Aku bisa mengatasi masalahku sendiri, tanpa bantuan siapa pun.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi. Maaf karena telah mengganggumu.”

Aku pun beranjak, hendak melangkah dari sana.

“Tunggu!”

Aku menoleh ke arahnya.

“Mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk menerima bantuanmu, tapi ini tak akan mudah bagi kita,” katanya dengan tatapan begitu tajam menghujam.

“Aku siap menghadapi tantangan apa pun bersamamu,” jawabku tak mau kalah. Ia hanya mengangguk, dengan mimik wajah yang datar.

Aku dan lelaki itu masih menikmati deburan ombak di bawah sinar senja yang mulai temaram. Lembayung di kejauhan menghiasi langit cakrawala. Senja di kota biru, kunikmati dengan suasana baru. Kami belum bercerita tentang apa pun. Masih menikmati hari yang sudah berganti dengan langit malam.

**

Kurapatkan selimut yang membungkus tubuhku. Dingin yang setiap malam kurasakan, begitu menyiksa. Aku terlonjak tatkala sebuah ketukan di pintu mengusik kantuk yang menyerang. Entah siapa malam-malam begini berani mengganggu tidurku, sungguh terlalu.

Dengan enggan kuberanjak menuju pintu, kubuka perlahan, sepi, tak ada siapa pun di sana. Suasana di luar kamar pun begitu sunyi, hanya suara desau angin melintas di telinga. Aku bergidik ngeri.

Segera kututup pintu. Membayangkan gadis kecil dengan wajah pucat yang berdiri di luar pagar malam itu, belum mampu membuatku lupa. Meski kini harus terbiasa dengan sosok makhluk astral yang menampakkan diri, tapi aku belum bisa mengimbangi.

Kubaringkan tubuh kembali di atas ranjang. Merapatkan lagi selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Berharap malam segera berlalu. Belum sempat kupejamkan mata, saat sebuah suara berhasil membuat jantungku lompat, memacu lebih cepat.

“Katanya siap menghadapi tantangan apa pun, tapi mendengar ketukan di pintu saja sudah membuatmu mati ketakutan,” ujar suara itu mengejekku.

Dengan sigap kubuka selimut, dan kudapati sosok lelaki yang senja itu kutemui, tengah duduk di sudut kursi dekat jendela. Dengan wajah pucat pasi dan tatapan yang dingin, membuatku kian merinding.

“Jadi kau yang telah menggangu tidur lelapku?” rutukku kesal.

Dia tak tersenyum. Hanya menyilangkan salah satu kakinya dan memejamkan mata.

“Mau apa kau di kamarku?” Kataku lagi. Merasa terganggu dengan kehadirannya saat ini.

“Aku ingin tidur di sini malam ini,” ujarnya asal.

“Apa? Tidak, kau keluar dari kamarku, kita ini bukan mahram,” sahutku protes.

“Tenang saja, Zia, tak akan ada yang melihatku. Lagi pula, aku tak akan mengganggumu,” ucapnya acuh.

“Dengan kedatanganmu di sini saja sudah membuatku terganggu, apalagi dengan kau tidur di sini. Tapi tunggu dulu, memangnya makhluk sepertimu bisa tertidur?” tanyaku merasa heran.

Tak ada jawaban. Ia masih memejamkan mata, tak merespon. Aku kesal dengan sikapnya, tapi tak ada guna menanggapi. Dengan terpaksa kuterima lelaki itu tidur di kamarku. Jika saja ia bukan makhluk dari dunia lain, sudah kutendang jauh-jauh dari sini. Aku mendengus kesal.

**

Suara azan subuh telah membangunkanku dari tidur yang tak lelap. Bagaimana bisa tenang, sementara lelaki lain tinggal dalam satu ruangan bersamaku. Meski kami tak melakukan apa pun, tapi tetap saja, aku merasa canggung.

Lelaki itu sudah tak ada di sana. Entah kapan dia menghilang. ‘Bukankah dia bisa datang dan pergi kapan pun dia mau?’ Gumamku dalam hati. Aku hendak menuju kamar mandi saat ekor mataku menangkap sebuah benda berkilau di atas meja, tepat di samping kursi yang lelaki itu duduki semalam.

Kumelangkah mendekati. Sebuah liontin bertakhtakan mutiara putih dengan hiasan permata di pinggirannya, tergeletak begitu saja. Mungkinkah ini milik lelaki itu? Tapi untuk apa ia menyimpannya di sini? Akan kutanyakan nanti saat ia kembali. Sementara harus kuselesaikan segera urusan dengan Sang Ilahi.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.