Liontin Bertakhta Mutiara (2)

Liontin Bertakhta Mutiara (2)

Sepanjang hari aku melakukan aktivitas seperti biasanya. Bekerja pada salah satu perusahaan properti sudah menjadi rutinitas buatku. Bertemu dengan banyak orang dan meyakinkan mereka untuk berinvestasi pada bidang yang kami tekuni sudah menjadi makanan sehari-hari.

Banyak penolakan, tapi tak sedikit pula yang bersedia mau membeli rumah yang perusahaanku tawarkan. Dengan hunian asri dan kawasan yang strategis, memudahkanku untuk meyakinkan pelanggan.

Selalu seperti itu dari hari ke hari. Terkadang melelahkan, tapi sebagai perempuan yang masih berstatus lajang dan bukan keturunan konglomerat, menjalani setiap apa yang sudah ditakdirkan, merupakan kewajiban yang harus dijalani dan disyukuri.

Dalam kesibukan pekerjaan yang semakin padat, mengharuskanku pulang lebih sore lagi, bahkan terkadang sudah larut malam. Hal itulah yang membuatku merasa keberatan, karena dengan kepulanganku yang tidak seperti biasanya, otomatis kesempatan melihat hal-hal di luar nalar pun akan semakin besar.

Namun aku mencoba menguasai keadaan. Sebisa mungkin melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan perbanyak zikir menjadi pilihan untukku bisa lebih fokus ke kehidupanku yang nyata.

Malam ini aku pulang dari kantor selepas Magrib. Dengan menggunakan jasa taksi online, aku pulang tanpa membawa perasaan apa pun. Laju mobil pun berjalan membelah jalanan panjang yang disambut rintik hujan.

Tiba-tiba suara notifikasi dari benda pipih dalam tas, mengusikku untuk melihatnya. Sebuah pesan whatsaap dari nomor tak dikenal terpampang jelas di layar.

[Bisa kita mulai petualangan kita malam ini?]

Deg. Pesan dari lelaki itukah? Bagaimana bisa? Sungguh makhluk astral zaman sekarang, secanggih manusia milenial saat ini.

Ting. Kembali suara notifikasi masuk lagi ke gawaiku.

[Jangan terkejut, sopir taksi akan membawamu ke suatu tempat.]

Aku menoleh ke arah lelaki yang berada di balik kemudi. Terlihat dari kaca spion, nampak lelaki itu tersenyum penuh arti.

Ting, lagi notifikasi masuk.

[Aku harap kau tak berubah pikiran, karena kau yang memilihku, dan aku telah memilihmu.]

Sepi. Kuletakkan kembali gawai di dalam tas. Dadaku berdebar kencang seketika saat memikirkan petualangan yang lelaki itu maksud?

‘Semoga aku bisa melewati ini, Yaa Allah,’ bisikku cemas.

Laju mobil berbelok menuju jalan yang tak pernah aku lewati. Sepi dan mencekam. Hanya satu dua rumah terlihat dengan jarak agak berjauhan. Selebihnya terhampar lahan kosong seluas mata memandang. Gelap.

Hatiku sudah mulai dihinggapi perasaan tak menentu. Terlebih saat mobil berhenti di depan sebuah rumah yang gelap dan mencekam.

“Sudah sampai, Teh,” ujar sang sopir dengan ramahnya.

Aku menatapnya asing. Bagaimana bisa ia mengantarku ke tempat ini? Sementara pesanan di aplikasi jelas tertulis alamat rumah kosku. Apakah ia menyadari kejadian ini?

Aku turun perlahan, sementara mobil itu melaju pergi meninggalkanku sendiri. Bulu kuduk tiba-tiba meremang. Dingin kurasakan begitu menusuk pori-pori kulit.

‘Yaa Allah, semoga pilihanku tak pernah salah,’ bisikku sembari memandang rumah yang berdiri di antara hamparan tanah kosong.

“Masuklah.”

Sebuah suara berhasil membuatku terlonjak seketika. Kutoleh lelaki yang tengah berdiri, bersandar di dinding rumah.

“Mau apa kau membawaku ke sini?” tanyaku diliputi rasa penasaran.

“Masuk saja dulu, nanti kau akan tahu sendiri jawabannya,” ucap lelaki itu seraya berjalan ke dalam rumah.

Aku mengikuti dari belakang. Pintu terbuka dengan sendirinya. Tak kulihat lagi sosok lelaki itu yang hilang di tengah gelap suasana.

Aku melangkah semakin dalam. Remang cahaya yang kulihat dari sebuah kamar, tak jauh dari pintu yang kulewati tadi, menggelitik jiwa untuk menuju ke sana.

Kubuka pintu perlahan. Bunyi berderit terdengar memecah kesunyian. Setengah tak percaya kulihat sosok seorang perempuan setengah baya, duduk di tepian ranjang.

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.