Liontin Bertakhta Mutiara (3)

Liontin Bertakhta Mutiara (3)

Kondisi perempuan itu sungguh mengenaskan. Rambut tergerai panjang, dengan gaun tidur yang menjuntai. Tatapan mata itu kosong. Kedua tangannya tampak menarik-narik baju yang dikenakan. Masih terlihat gurat kecantikan membingkai wajah yang memucat.

Aku menghampirinya dengan langkah perlahan. Ia masih bergeming saat jarak antara antara kami hanya tinggal beberapa senti.

“Dia ibuku,” ujar sebuah suara kembali membuatku terkejut.

Lelaki itu telah berdiri di sisi ranjang yang lain. Tatapannya terlihat menyiratkan kesedihan.

“Bagaimana bisa ibumu seperti ini?” tanyaku hati-hati.

Dia tak segera menjawab. Menunduk dalam kesedihan yang sepertinya telah menorehkan luka yang begitu dalam. Aku menunggunya sembari menatap perempuan di depanku.

“Mereka yang telah membuat kekacauan ini,” katanya lagi penuh amarah.

“Siapa?”

“Aku tak tahu pasti, tapi satu hal yang kutahu, lelaki yang tak pantas aku sebut ayah, yang namanya pun tak pernah ingin lagi ada dalam hidupku itu yang telah membuat kehancuran keluargaku,” ucapnya disertai dendam tak berkesudahan.

“Ayahmu yang menyebabkan semua kehancuran ini?”

Dia mengangguk pasti.

“Tak hanya itu, perempuan yang entah siapa dia pun ikut terlibat, yang liontinnya berhasil aku rampas sesaat sebelum nyawaku melayang.”

“Liontin yang kau tinggalkan di kamarku malam itu?”

Dia mengangguk lagi.

“Bagaimana ceritanya ini semua bisa terjadi?” tanyaku penasaran.

Aku sudah berjalan sejauh ini. Mau tak mau, aku harus mengetahui cerita rinci sebenarnya. Agar aku bisa membantu menyelesaikan permasalan yang ingin dituntaskan lelaki itu.

Lelaki itu kembali menerawang ke masa silam. Masa yang telah menciptakan luka yang mendalam, yang membuatnya harus terpisahkan dari ibunya yang disayang. Sungguh nasib malang tak dapat ditentang.

“Aku, Ibu dan Ayah adalah keluarga yang bahagia. Hidup kami serba berkecukupan. Ayah yang seorang pemilik perkebunan teh adalah orang terpandang dan disegani banyak orang. Banyak yang iri dengan kesuksesan Ayah, tak sedikit pula yang merasa terbantu dengan kebaikan hatinya.”

Lelaki itu menghela napas panjang. Menundukkan kepalanya dalam kelam.

“Namun semua kebahagiaan itu seketika sirna, kala seorang perempuan hadir dalam kehidupan kami. Namanya Santi. Dia yang telah meracuni pikiran Ayah, hingga seiring waktu sikap Ayah pun mulai berubah. Tak lagi sehangat biasa, tak lagi sebaik sebelumnya. Ayah semakin jauh dari keluarga,” terangnya menahan luka.

“Hal itu membuat Ibu depresi, tak siap menerima kenyataan Ayah berpaling pada perempuan lain. Sampai suatu ketika, peristiwa itu terjadi. Datang seorang perempuan lain ke rumah kami, dia meminta pertanggung jawaban Ayah atas kehamilannya. Kami pikir Ayah hanya menjalin hubungan dengan perempuan yang bernama Santi itu, tapi ternyata ada perempuan lain lagi yang mengaku telah dihamili Ayah.”

Lelaki itu kembali terdiam. Merangkai peristiwa yang telah dilalui dulu. Kemudia ia melanjutkan kembali ceritanya.

“Saat Ibu tanyakan tentang perempuan itu, Ayah tak mengaku. Hingga terjadi perang mulut, dan aku hanya duduk menangis di balik pintu kamar.”

Air mata lelaki itu berlinang. Kepedihan yang menimpa hidupnya pasti sangatlah berat.

“Kejadian tak berhenti di situ saja. Teror demi teror terus menghantui keluarga kami, terutama aku dan Ibu, karena sejak menjalin hubungan dengan Santi, Ayah jarang pulang ke rumah. Peristiwa malam itu menjadi saksi bisu hancurnya keluargaku.”

Kembali lelaki itu menangis tergugu. Menelungkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajah. Menahan perih yang membuncah dari dalam dada. Aku yang sudah berlinang air mata sedari awal cerita, hanya bisa menyusut perlahan basah di pipi.

“Dua orang lelaki masuk secara paksa ke rumah kami, bersama seorang perempuan yang tertutupi sebagian wajahnya. Dua lelaki itu menghajarku habis-habisan, mereka pun menyiksa Ibu yang lemah tak berdaya. Hingga sebuah benda tajam terhunus tepat di dadaku, di hadapan Ibu yang hanya menatap nanar dengan linangan air mata.”

Sungguh mengenaskan kejadian yang dialami lelaki itu bersama ibunya. Tega sekali orang yang telah melakukan itu terhadap mereka, dua orang tak berdaya yang sudah teraniaya, oleh perlakuan buruk lelaki yang seharusnya menjadi pelindung keluarga.

Takdir Allah memang penuh misteri. Dengan mudah menguji hati yang baik hati, menjadi lelaki tak tahu diri. Meninggalkan keluarga hanya demi kepuasan duniawi, menghancurkan keluarga yang sedari awal mendampingi.

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.