Kepergian Bapak Mertua, Hilangnya Sosok Seorang Ayah

Kepergian Bapak Mertua, Hilangnya Sosok Seorang Ayah

Ayah ….
Adalah sosok yang selalu dirindukan dalam hidupku. Bila bicara tentangnya pasti kedua netra ini basah, dan sesuatu dari dalam dada menyeruak hendak tertumpah.

Sosok ayah begitu kudamba sejak kecil. Di saat anak lain bisa dengan bebas bersenda gurau dengan ayah mereka, aku hanya bisa menyaksikan iri sekaligus haru.

Selama bertahun-tahun hingga beranjak dewasa, hanya sekelebat sosok ayah hadir. Itu pun kudapatkan bukan dari ayah yang yang kuharapkan akan datang dalam hidupku.

Sahabat mama yang sudah menganggap keluarga kami seperti saudaranya sendiri, menjadi cerminan lelaki bernama ayah. Kasih sayang dan perhatian yang meski kudapat hanya sekejap, tapi bisa meninggalkan arti terdalam.

Hingga suatu ketika, aku ditakdirkan berjodoh dengan seorang lelaki saleh nan bersahaja. Aku bahagia. Hadir di tengah keluarga sempurna dan sederhana, membuatku menjadi satu-satunya menantu perempuan di sana.

Bapak dan Inak, sebuatan ibu dalam bahasa Sasak, Lombok, adalah orang tua yang begitu perhatian. Mereka menerimaku sebagai satu-satunya menantu perempuan dalam keluarga suamiku.

Sosok Bapak yang meski lebih banyak diam, tapi terlihat penuh kasih dan berwibawa. Ia begitu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Untuk pertama kalinya, aku merasa iri terhadap suamiku yang bisa mendapatkan sosok ayah yang istimewa.

Namun seiring waktu, justru kehadiranku di tengah-tengah keluarga suamiku merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Aku mendapatkan ayah dan ibu juga keempat kakak dan seorang adik yang baik lagi perhatian.

Sosok Bapak mertuaku seakan menjawab mimpi yang selama ini menyelusup relung jiwa. Kerinduan terhadap sosok ayah yang sebenarnya terpatri dalam pribadi Bapak yang bersahaja.

Bapak adalah sosok yang begitu mencintai anak-anaknya, terutama suamiku sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga. Ia tak banyak bicara, tapi sekalinya mengeluarkan suara, kata-katanya selalu mengandung makna yang mendalam.

Bapak cukup banyak mengajarkan tentang arti hidup. Dari setiap ceritanya selalu memiliki kisah yang penuh arti. Terkadang ia bercerita lucu tentang masa lalunya atau kehidupan lampau putra tercintanya.

Meskipun aku jarang sekali bertemu dengan Bapak karena jarak yang memisahkan, tapi setiap kali bertemu ketika lebaran tiba, selalu meninggalkan kesan yang membekas di hati.

Bapak selalu suka memainkan alat musik harmonika, kepunyaannya sejak lama. Dawai nada yang keluar dari keahliannya itu membuatku terkagum-kagum. Dari sosoknya yang sederhana, tersimpan kharisma sebagai seorang lelaki.

Lelaki yang diam-diam selalu romantis terhadap Inak, istrinya. Seumur hidup Bapak, tak pernah sekali pun mereka terpisah jarak dan waktu. Selalu bersama hingga akhir hayat Bapak.

Aku selalu ingin memiliki cinta dalam pernikahan seperti Bapak dan Inak. Harmonis dan bahagia hingga hari tua, sampai maut yang memisahkan mereka.

Bapak mengalami sakit selama beberapa bulan. Itu pun bukan penyakit yang mematikan. Takdir yang sudah ditentukan untuk Bapak kembali pulang di usianya yang ke-80 tahun.

Beberapa minggu sebelum Bapak mengembuskan napasnya, suamiku sudah bolak-balik Cirebon-Lombok karena kondisi Bapak yang sudah tidak stabil.

Di saat-saat terakhirnya, Bapak sempat menyuruh suamiku kembali ke Cirebon. Saat itu kondisi Bapak sudah mulai membaik dan terlihat sehat.

Baru saja menginjakkan kaki di stasiun Gambir-Jakarta, kabar itu pun datang. Bapak masuk rumah sakit dan kondisinya sudah tak sadarkan diri.

Suamiku pulang terlebih dulu ke Cirebon sesuai perintah Inak. Tentunya dalam keadaan hati tak tenang. Baru keesokan harinya, ia kembali menuju Lombok.

Perasaan suamiku berkecamuk tak menentu selama dalam perjalanan ke kampung halaman. Bersiap dengan keadaan yang terburuk jika sewaktu-waktu Allah menghendaki Bapak kembali pulang. Meski hati belum sepenuhnya ikhlas melepaskan, tapi takdir sudah dijatuhkan.

31 Agustus 2017, Allah memanggil Bapak kembali ke haribaan-Nya. Tepat beberapa saat setelah suamiku sampai di rumah sakit, mendampingi Bapak hingga deru napasnya yang terakhir. Dalam keadaan tenang dan senyum tersungging di sudut bibirnya.

Kami pun mengikhlaskan Bapak pergi untuk selamanya. Allah lebih menyayangi Bapak.

Hampir 3 tahun kepergian Bapak, sosok ayah pun hilang menguar bersama doa yang terpanjatkan. Aku tak boleh menyesali takdir yang sudah Allah tentukan, karena selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.

Allah selalu punya cara yang indah untuk membuat hambanya bahagia. Meski dari setiap tetes air mata tertumpah karena kepergian seseorang yang kita cinta, tapi selalu ada setitik cahaya yang akan menyongsong hidup kita di depan.

Boleh kita menangis sepuas hati, meratapi kehilangan yang tak bisa kita ganti dengan apa pun juga, tapi segeralah bangkit dari kesedihan yang melanda,

Karena Allah menyukai keikhlasan dari setiap kehilangan. Dia selalu membersamai orang-orang yang mau bersabar atas setiap ketetapan-Nya.

Semoga Bapak tenang di sana dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Alfatihah ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.