Liontin Bertakhta Mutiara (4)

Liontin Bertakhta Mutiara (4)

Gerimis menetes perlahan. Segera kulangkahkan kaki menuju rumah besar yang berada di kawasan elit ibu kota. Berdasarkan informasi, ayah lelaki itu tinggal bersama istri barunya di rumah itu.

Kuketuk pintu perlahan, sembari menenangkan hati yang bergejolak tak menentu. Pada ketukan kedua, pintu terbuka. Seorang perempuan cantik dengan hangat menyambut kedatanganku.

“Selamat malam, Bu,” kataku ragu-ragu.

“Malam, ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah.

“Perkenalkan, nama saya Zia. Apa benar ini dengan rumahnya Pak Mansyur?”

“Betul, ada keperluan apa dengan suami saya?”

Aku terdiam. Masih bingung dengan tujuan datang ke rumah ayah lelaki itu. Tapi aku harus mencari tahu mengenai orang yang telah melenyapkan nyawa lelaki itu.

“Saya hanya ingin bicara tentang Bu Rahma.”

“Maksudmu?”

“Saya ingin membicarakan tentang kondisi Bu Rahma. Karena beliau sudah tidak punya saudara, jadi saya terpaksa mendatangi Pak Masyur sebagai orang terdekatnya.”

Perempuan itu terdiam. Tampak memikirkan sesuatu.

“Masuklah, saya akan panggilkan suami saya,” ucap perempuan itu mempersilakanku masuk.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Tubuh tinggi semampai, dengan rambut hitam panjang tergerai. Wajah yang ayu rupawan, jelas saja membuat Pak Masyur jatuh cinta. Muda, cantik dan menarik. Lelaki mana yang takkan tertarik.

“Silakan duduk,” titah perempuan itu seraya mengarahkan tangannya ke kursi sofa besar di ruang tamu.

Aku mengangguk, sementara ia langsung menuju lantai atas.

‘Rumah yang mewah,’ nilaiku dalam hati.

Isi rumah yang berkelas tertata dengan sempurna. Nuansa hijau putih memberi kesan sejuk dan asri. Furniture yang hampir semuanya terbuat dari kayu itu kian menambah suasana natural.

Sambil melihat-lihat ke sekeliling, pikiranku berkecamuk, belum terpikirkan langkah selanjutnya. Apakah perempuan yang aku temui barusan dalah Santi? Atau perempuan yang mengaku dihamili dulu?

Lamunanku dikejutkan langkah kaki yang turun bersamaan. Perempuan yang tadi kutemui terlihat bersama seorang kelaki paruh baya yang masih gagah dan bersahaja.

“Perekenalkan, saya Mansyur,” ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangan ke hadapanku. Aku membalas jabatan tangannya cepat.

Lelaki itu mempersilakanku duduk. Hampir bersamaan kami duduk berhadapan. Perempuan tadi ikut duduk di samping suaminya.

“Istriku bilang kau ingin menyampaikan kabar mengenai Rahma?”

“Betul, Pak.”

“Perlu kau tahu satu hal, saya dan Rahma sudah bukan suami istri lagi. Jadi saya tidak berkewajiban lagi untuk mengurusnya,” ujar lelaki itu mengagetkanku.

“Bapak tahu yang terjadi dengan Bu Rahma dan anak Bapak?” tanyaku menahan kesal.

“Tentu saja saya tahu, tapi kejadian yang menimpa anak saya sudah merupakan takdir yang tak harus selalu saya sesali, begitu pun yang terjadi dengan Rahma, mantan istri saya.”

“Apa Anda tahu kalau semua itu terjadi karena mereka dianiaya, hingga menyebabkan putra Bapak meninggal, dan Bu Rahma depresi?”

“Berita itu menjadi buah bibir di tempat itu, tentu saja saya juga mengetahuinya. Tapi kenapa kau tanyakan hal itu?”

“Apa Bapak tahu juga siapa penyebab peristiwa itu terjadi?”

“Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?” tanya Pak Masyur mulai emosi.

“Bapak tak perlu marah, tinggal jawab saja pertanyaan saya.”

“Tentu saja saya tidak tahu siapa pelakunya. Itu tugas polisi, saya hanya dijadikan saksi setelah peristiwa itu terjadi.”

“Tidakkah Bapak tergerak dengan keadaan Bu Rahma yang memprihatinkan? Tak bisakah Bapak memasukannya ke tempat layak yang bisa menyembuhkan jiwanya?”

“Sudah saya katakan tadi, saya sudah bukan lagi suaminya, jadi itu mungkin tugas pemerintah setempat untuk membawa Rahma ke rumah sakit jiwa, jika dirasa sudah mengganggu ketentraman warga.”

“Bapak sudah melihat keadaan Bu Rahma sekarang?”

“Untuk apa? Saya sudah tidak peduli lagi padanya.”

Aku mencoba menahan amarah yang hendak membuncah. Sungguh lelaki tak berperasaan. Sudah tega meninggalkan, tega pula membiarkan.

“Bila sudah tak ada urusan lagi, kamu bisa pergi sekarang,” ujar lelaki itu mengusirku.

Aku tak bisa bertahan lebih lama di rumah ini. Lelaki itu sudah tak nyaman dengan keberadaanku. Aku harus segera pergi. Tapi belum ada petunjuk yang kudapat. Bagaimana bisa aku tahu tentang peristiwa sebenarnya. Aku berpasrah.

“Tunggu dulu. Siapa kau sudah begitu peduli dengan mantan istri suami saya?” tanya perempuan itu menyelidik.

“Saya bukan siapa-siapa, Bu. Hanya tetangganya saja,” kataku bangkit, dan hendak beranjak pergi.

Belum sempa kakiku melangkah, ketika tiba-tiba sebuah suara barang dilempar, membuatku terlonjak kaget.

Tampak Pak Mansyur dan istrinya pun terkejut, dan mereka segera bergegas menuju ruang belakang, saat suara lemparan barang itu kembali terdengar.

Aku mengikuti langkah mereka dengan terburu-buru. Ingin mengetahui apa yang tengah terjadi.

Mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan. Tak langsung membuka pintu itu.

“Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.

Pak Mansyur dan istrinya hampir bersamaan menoleh ke arahku dengan tatapan tak suka.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Pak Mansyur dengan wajah memerah.

“Siapa yang melempar barang di dalam sana, Pak?” tanyaku tak peduli dengan kemarahannya.

“Orang yang ada di dalam itu adikku. Dia mengalami depresi karena ditinggalkan kekasihnya pergi. Kami terpaksa mengurungnya karena ia hampir beberapa kali mencelakai kami,” ujar perempuan itu ragu.

Aku merasa mereka menyimpan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang disembunyikan. Aku semakin penasaran, tapi kucoba menguasai keadaan. Tak mau membuat mereka makin curiga dengan kedatanganku. Aku pun berusaha bersikap tenang.

Tak berselang lama, suara lemparan itu terdengar lagi. Tak hanya itu, pintu di depan kami tampak digedor dengan keras dari dalam. Sepertinya orang yang ada di balik pintu ruangan itu tengah mengamuk.

Aku makin penasaran dengan perempuan yang berada di dalam ruangan. Apa benar ia adik dari istrinya Pak Mansyur? Kenapa mereka tak memasukan ke rumah sakit jiwa? Berbagai pertanyaan silih berganti bergelayut dalam pikiranku.

“Sebaiknya kau pergi dari sini,” ucap Pak Mansyur kasar.

Mau tak mau aku pun melangkah pergi meninggalkan suami istri yang tengah dilanda cemas itu.

Aku tak keluar dari rumah, melainkan bersembunyi di balik lemari kayu yang terletak di dekat ruang tamu. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak memakan waktu lama, sepuluh menit kemudian, kudengar suara bedebum jatuh dari arah ruang makan yang kulewati tadi.

‘Rencanaku berhasil’ bisikku girang.

Sengaja aku bubuhkan obat tidur dosis aman, pada minuman di atas meja makan. Aku yakin, mereka akan meminum air putih itu, dan sejenak tertidur cukup panjang.

Segera aku mengendap perlahan menuju ruang makan. Kudapati dua sosok pingsan dengan gelas yang pecah berserakan. Aku tersenyum puas penuh kemenangan.

Segera kuhampiri ruangan yang tertutup tadi. Kuketuk pintu dengan cukup keras. Tak ada reaksi.

“Halo, aku Zia, kau baik-baik saja di dalam?” tanyaku sembari mengetuk pintu dengan keras.

Hening sejenak. Detik kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.

“Siapa pun kau, tolong lepaskan aku dari sini.”

“Apa jaminanmu kau tak akan berbuat jahat padaku?”

“Aku sedang hamil, tak mungkin aku melakukan perbuatan yang dapat mencelakakan aku dan bayiku.”

Hamil? Mungkinkah dia perempuan yang mengaku dihamili oleh Pak Masyur? Apakah aku harus menolongnya? Sementara aku belum mendapatkan titik terang tentang siapa yang bertanggung jawab dengan peristiwa malam itu.

“Percayalah padaku, aku akan sangat berterima kasih jika kau dapat menolongku. Sudah tiga bulan mereka mengurungku di sini.”

“Kenapa mereka mengurungmu di sini?”

Diam sesaat.

“Karena aku tahu rahasia mereka.”

“Rahasia apa?”

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.