Liontin Bertakhta Mutiara (5)

Liontin Bertakhta Mutiara (5)

“Merekalah yang telah membunuh anak lelaki itu dan menyiksa ibunya.”

Deg. Benarkah itu? Jadi Pak Mansyur dan istrinya dalang dari peristiwa yang terjadi pada lelaki itu dan ibunya?

“Aku janji akan menceritakan semuanya jika kau mau menolongku keluar dari tempat ini.”

Aku tak punya pilihan lain. Dengan menolongnya mungkin akan membantuku mengungkapkan kebenaran.

Kucari benda yang bisa membantuku melepaskan gembok. Sebuah pisau pemotong daging yang berada di dapur sepertinya bisa membantu. Dengan susah payah akhirnya gembok pun terbuka.

Aku menunggu perempuan di dalam ruangan itu keluar. Dengan berjaga-jaga aku mengantisipasi kemungkinan terburuk. Benar saja, saat aku hendak masuk ke ruangan, ia menyerangku dengan sebuah kursi di tangan. Segera kutepis dan melumpuhkan perempuan itu dalam satu tendangan di kaki.

Tak sia-sia latihan taekwondoku selama masa sekolah dulu. Berguna dalam situasi seperti saat ini. Ia terkapar lemah sambil memegangi perutnya. Memang benar, ia dalam keadaan hamil. Benarkah ia adalah kunci rahasia Pak Masyur dan istrinya?

Aku membawanya keluar dari ruang gelap itu.

“Maafkan aku harus melakukan ini padamu,” kataku sembari membantunya berdiri.

“Aku yang minta maaf sudah tak percaya padamu, karena kupikir kau akan mencelakaiku.”

“Tenang saja, aku ada di pihakmu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum suami istri itu sadar dari pingsannya.”

“Bisakah kau bawa aku pulang ke rumahku?” tanyanya sambil meringis menahan sakit.

Aku mengangguk, memapahnya berjalan keluar dari rumah. Saat hendak mencari taksi, sempat kulihat sosok lelaki itu tengah berdiri di bawah pohon Akasia, di seberang jalan. Segera aku membantu perempuan itu masuk ke mobil saat taksi datang di depan kami. Sesuai alamat yang disebutkan perempuan itu, kami pun menuju sebuah rumah sederhana yang sepi dan gelap.

“Kau tinggal sendiri di sini?” tanyaku sesaat setelah kami turun dari mobil.

“Ya,” jawabnya singkat.

Kembali kupapah perempuan itu ke teras rumah. Ia mengambil kunci di lubang angin, atas pintu. Membuka pintu perlahan. Ia berjalan sendiri dengan tertatih-tatih, menuju ke sebuah kamar yang terletak di paling depan.

“Aku berganti pakaian dulu,” katanya seraya memasuki kamar.

Aku tak menjawab. Menunggu di sebuah kursi yang sudah berdebu. Memerhatikan sekeliling. Tampak sederhana. Kedua mataku terbelalak saat menangkap sebuah foto. Di sana tampak perempuan itu bersama istrinya Pak Mansyur, saling berangkulan, seperti dua orang sahabat dekat, dengan tawa tanpa ada beban.

Kembali kutatap lekat foto itu dari jarak dekat. Kuambil hingga jelas terpampang kalau itu bukanlah rekayasa. Tapi tunggu, ada hal yang jelas sangat mengganggu, foto perempuan itu tampak mengenakan sebuah kalung dengan liontin mutiara yang sama persis bentuknya dengan yang ada padaku.

‘Apakah mungkin?’

“Kau sedang apa?” sebuah tanya berhasil membuatku terkejut. Segera kuletakkan figura itu kembali ke tempatnya.

“Itu fotomu bersama istrinya Pak Mansyur ‘kan?” tanyaku menetralkan suasana.

Aku harap perempuan itu tak curiga jika aku tahu soal liontin yang dikenakannya.

“Ya, dia adalah sahabatku.”

“Sahabatmu?”

“Kami bersahabat sejak masih di sekolah dasar dulu. Sampai dewasa kami masih menjalin hubungan baik. Hingga suatu ketika, aku bertemu dengan Mas Mansyur di salah satu acara bisnis. Kami berkenalan, sampai menjalin hubungan dekat. Aku tak peduli dengan statusnya sebagai suami dan ayah, yang terpenting kehidupanku bisa terjamin.”

Perempuan itu diam sejenak menghela napas panjang.

“Namun semuanya berubah saat aku memperkenalkan Santi, sahabatku itu pada Mas Mansyur. Mereka berkhianat di belakangku. Sampai aku kedapatan hamil anak Mas Mansyur, tapi ia tak mau bertanggung jawab. Lelaki itu mencampakkanku seperti sampah, ia memilih Santi jadi pendamping hidupnya.”

“Lalu kenapa kau bisa sampai dikurung oleh mereka?”

“Aku melihat perbuatan mereka yang telah menghabisi anak lelaki itu, dan menyiksa ibunya yang tak lain istri pertama Mas Mansyur sendiri, hingga ia mengalami depresi. Tapi mereka mengetahui keberadaanku, sampai akhirnya aku dikurung oleh mereka di rumah itu, karena takut rahasia mereka terbongkar olehku.”

“Tak ada siapa pun yang mencarimu selama masa kau dikurung?”

“Entahlah. Aku sudah tak punya keluarga, mana ada yang akan mencari keberadaanku.”

“Kalau mereka dalang dari pembunuhan anak itu, kenapa mereka bisa lolos dengan mudah?”

“Mereka telah merekayasa semuanya, seolah mereka tengah berada di kota lain saat kejadian itu berlangsung.”

Aku tak bisa memercayai ucapan perempuan itu. Dengan melihat liontin mutiara yang melekat di lehernya, itu membuat pemikiranku berubah. Mungkin saja pelakunya perempuan yang kini tengah berada di depanku? Tapi, bagaimana bisa aku membuktikannya?

“Istri Pak Mansyur tidak lebih cantik darimu. Dia akan menyesal telah meninggalkanmu.”

“Dulu Mas Mansyur sangat perhatian sebelum aku memperkenalkan Santi padanya. Selalu membelanjakanku barang-barang mewah.”

“Termasuk kalung liontin yang kau pakai di foto itu?” tanyaku sambil menunjuk foto yang tadi kulihat.

“Ya, itu salah satunya. Tapi sayang, semuanya habis terjual demi memenuhi kehidupanku.”

Aku semakin yakin jika perempuan ini adalah pelaku pembunuhan lelaki itu. Ia tak menyangkal jika kalung liontin mutiara yang dikenakan dalam foto adalah miliknya. Penuturan yang ia sampaikan sudah menunjukkan, kalau ia adalah perempuan yang malam itu datang, bersama dua orang lelaki ke rumah istri pertama Pak Mansyur dan merampas kebahagiaan mereka yang tersisa.

Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apa motifnya sampai melenyapkan nyawa anak Pak Mansyur dan menyiksa Bu Rahma? Jika perempuan itu adalah pelakunya, kenapa Pak Mansyur dan istrinya harus mengurung ia di ruangan itu? Apa ada sesuatu yang ia ketahui sehingga tak diserahkan ke polisi?

Saat kami asyik dalam pikiran masing-masing, terdengar suara ketukan di pintu depan. Aku bergegas membuka pintu, sementara perempuan itu cemas menunggu siapa yang datang.

“Selamat malam, apakah benar ini dengan rumahnya Bu Rika?” tanya seorang lelaki berseragam polisi.

“Bu Rika itu maksud Bapak?” tanyaku sembari menoleh ke arah perempuan yang masih duduk di kursi.

Kedua polisi berseragam itu masuk saat aku mundur perlahan.

“Ada keperluan apa Bapak datang ke rumahku?” tanya perempuan itu terlihat cemas.

“Saudara Rika, Anda harus ikut ke kantor untuk dimintai keterangan, terkait pembunuhan yang terjadi pada putra Bapak Mansyur tiga bulan yang lalu,” ucap salah seorang polisi.

“Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Mereka pembunuh yang sebenarnya, bukan saya.”

“Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor.”

“Sebentar, Pak, ada yang ingin saya serahkan pada Bapak. Mungkin bisa membantu penyelidikan kasus ini,” kataku seraya menyerahkan sebuah liontin dari dalam tas selempang.

“Dari mana kau dapatkan itu?” tanya perempuan itu heran.

“Dari anak lelaki yang malam itu harus meregang nyawa karena ketidakberdayaannya.”

Perempuan itu tampak terkejut. Matanya menatap tajam ke arahku.

“Jadi kau menjebakku?” katanya dengan nada marah.

“Tuhan yang telah menuntunku hingga sampai ke sini, dan menunjukkan kebenarannya.”

“Kau keterlaluan. Aku pikir kau bisa dipercaya. Kalian semua sama-sama pengkhianat,” teriaknya sebelum kedua polisi itu menggiringnya menuju mobil.

Aku mengikuti sampai mobil polisi itu melaju di tengah sepinya malam.

“Terima kasih,” ucap seseorang di sampingku.

Aku menoleh, kudapati sosok lelaki tengah tersenyum puas.

**

Kasus pembunuhan yang terjadi pada Amar, lelaki itu, melibatkan pula Pak Mansyur dan istrinya. Mereka sengaja mengurung Rika, perempuan berliontin mutiara itu, karena takut rahasia mereka terbongkar.

Rika memiliki bukti tentang penyelundupan teh berisi ganja ke luar negeri, yang diproduksi oleh pabrik Pak Mansyur. Oleh karena itu, mau tak mau, Rika mereka sekap agar tak bisa buka mulut.

Sementara Ibu Rahma dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ia dirawat dengan baik di sana. Sesekali aku mengunjunginya.

“Sekarang aku bisa tenang meninggalkan Ibu,” ucap lelaki itu, duduk di sampingku.

Kami berdua menatap Bu Rahma yang tengah dilayani makan malam oleh perawat rumah sakit.

“Aku harap kau ikhlas dengan apa yang terjadi denganmu.”

“Sekarang aku ikhlas, Zia. Sungguh aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu.”

“Selama aku bisa membantu, akan kulakukan semampuku.”

“Kuharap kau bahagia dengan hidupmu. Aku pergi.”

Aku hanya mengukir senyum, melepas kepergiannya yang sudah lapang. Ia berjalan dalam gelap malam. Menghilang dalam kabut asap di bawah remang cahaya lampu jalan.

‘Semoga di sana kau bisa hidup dengan tenang,’ bisikku meremang.

SELESAI

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.