Ilustrasi Cerbung Aki dan Ambu

Aki dan Ambu – Bagian 18 (Musim Hajatan)

Aki dan Ambu – Bagian 18 (Musim Hajatan)

Pandemi corona telah banyak memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Salah satu yang terdampak adalah pesta pernikahan atau sejenisnya yang mengundang banyak orang. Larangan berkerumun telah menyebabkan banyak rencana pesta atau resepsi terbaksa dibatalkan. Kalaupun dilangsungkan, hanya akad nikah saja yang digelar dengan syarat harus menggunakan protokol kesehatan covid-19. Tenda dan janur kuning yang identik dengan pesta pernikahan pun ditiadakan.

Pada masa diberlakukannya New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru, beberapa pemerintah daerah mulai memberi kelonggaran bagi yang mau menggelar pesta atau hajatan. Pesta boleh digelar dengan tetap menggunakan protokol kesehatan covid-19. Jumlah undangan pun dibatasi. Penyelenggara pesta harus menyiapkan alat pengukur suhu dan tempat cuci tangan atau handsanitizer. Penyelenggara dan tamu undangan harus tetap menjaga jarak, dan memakai masker.

Meskipun pihak kepolisian setempat terus memantau penyelenggaraan pesta atau resepsi, pihak penyelenggara kadang terkesan mengakali aturan. Salah satunya ialah jumlah undangan yang jauh melebihi batas maksimal. Prasmanan pun tetap digelar. Padahal pemerintah telah menganjurkan untuk menghindari prasmanan.

“Nambah lagi undangannya, Ki,” Ambu memperlihatkan undangan dari tetangganya. “Sekarang masyarakat sudah mulai kembali pada kebiasaan lama. Sepertinya, mereka merasa jika masa pandemi sudah lewat. Makanya yang rencana hajatannya sempat tertunda karena adanya larangan menggelar pesta, sekarang seperti berlomba untuk melanjutkan rencana yang tertunda,” lanjutnya menjelaskan.

“Kata Mang Kardin, Syawal dan Zulhijjah atau lebih dikenal dengan Rayagung, memang merupakan bulan hajatan. Sebelum dan sesudah Idul Adha dianggap waktu yang baik untuk menggelar hajatan. Makanya, Ambu jangan heran jika tiap hari, akan ada undangan hajatan,” papar Aki Rahmat. Aki memang sempat mengobrol dengan Mang Kardin mengenai tradisi hajatan sekitar lebaran, yaitu Syawal dan Zulhijjah.

“Kalau dihitung-hitung, setelah lebaran Idul Adha sampai hari ini, sudah lebih dari sepuluh undangan, Ki. Lumayan lah membuat isi dompet menguap cepat,” keluh Ambu Rahmi.

“Kalau sudah tradisi, memang sulit untuk diubah. Harusnya pihak pemerintahan desa yang mengaturnya. Harus dibuat peraturan desa mengenai hajatan. Misalnya saja, dalam satu bulan yang boleh menggelar hajatan dengan mengundang itu jangan sampai lebih dari lima. Jadi, yang punya rencana hajatan harus mendaftar ke pihak desa  terlebih dulu. Selanjutnya, pihak desa yang memutuskan siapa saja yang boleh menggelar hajatan bulan itu,” Aki mengemukakan pendapatnya.

“Iya, Ki. Harusnya diatur oleh pihak desa agar tidak bertumpuk seperti sekarang ini. Bingung juga kalau pas yang ngundang orang dekat. Mau tidak mau, ya harus kondangan,” keluh Ambu lagi. “Bahkan, yang akad nikahnya sudah digelar lama, ikut-ikutan menggelar pesta juga. Padahal sang istri sudah berbadan dua,” lanjutnya.

“Ya seperti itulah masyarakat kita. Hajatan itu ada yang menganggapnya sebagai cara mendatangkan uang. Tapi tidak semuanya seperti itu. Mungkin masih ada juga yang betul-betul untuk syukuran. Yah … mudah-mudahan saja ada rezekinya, Ambu,” Aki mencoba membesarkan hati Ambu.

“Aamiin. Apa boleh buat, kita bagi-bagi uangnya biar kita bisa kondangan ke semua orang dekat. Kalau yang tidak begitu kenal sih, kayaknya kita lewat dulu ya, Ki,” kata Ambu.

Aki hanya mengiyakan dengan anggukan. ***

#WCR_tetap_cerbungsinur

Rumahmediagrup/Sinur

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.