Berkali-kali Kehilangan

Berkali-kali Kehilangan

Ini adalah kisahku. Kuawali kisahku ini dengan sekelumit kisah masa kecilku dulu. Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Saudaraku semuanya laki-laki. Jadi, aku adalah satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Meskipun satu-satunya anak perempuan, tapi aku tidaklah dimanjakan oleh kedua orang tuaku.

Aku bersama saudara-saudaraku diberi kebebasan untuk menikmati masa kecil yang indah. Akan tetapi, kami diajari pula arti tanggung jawab. Kami memang gemar sekali bermain, tetapi saat orang tua memiliki banyak pekerjaan, maka kami pun akan membantu mereka dengan senang hati. Jika di antara kami ada yang melakukan kesalahan, maka kami akan mendapatkan teguran dari mereka.

Dalam memberikan hukuman terhadap anak-anaknya, orang tua kami tidak pernah main fisik. Jika kami bersalah, Ayah atau Ibu akan langsung menegur kami. Ibulah yang paling sering mengomel atau memarahi kami. Maka, Ibu terkesan lebih cerewet dibandingkan Ayah. Ayah memang jarang bicara. Akan tetapi, sekalinya menegur karena kami bersalah, kami bisa sampai menangis dibuatnya. Bukan karena bentakan atau kata makian yang membuat kami menangis. Tetapi kata-kata Ayah yang langsung mengena di hati.

Dengan kakak sulung, aku terpaut usia yang lumayan jauh. Dia lebih fokus pada pelajarannya daripada bermain dengan kami. Karena itulah, aku lebih dekat dengan kakak keduaku yang selisih usianya sangat dekat denganku. Adik ketigaku usianya terpaut lima tahun lebih muda dariku. Karena itulah, aku sering membawanya bermain sekaligus mengasuhnya. Sementara itu, adik bungsuku masih bayi. Makanya, saat itu ibuku belum mengizinkanku untuk membawanya bermain jauh dari rumah.

Seperti layaknya anak kampung dulu, saat libur sekolah, kami terbiasa bermain sepuas hati. Semua jenis permainan anak-anak, kami jajal. Bukan hanya siang hari, tetapi juga malam, terutama saat malam bulan purnama. Kami bergabung dengan teman-teman sebaya untuk bermain gobak sodor,  jor-joran (saling kejar dengan tim lawan), atau permainan anak lainnya. Saat kami kecil, malam bulan purnama memang merupakan momen yang paling dinanti. Saat itu kampung kami belum terjamah oleh listrik. Saat purnama, kampung yang biasanya gulita menjadi terang benderang.  Karena itulah, kami memanfaatkannya untuk mulan,  menikmati terangnya purnama, sambil bermain aneka permainan anak kampung.

Semua yang ada di dunia ini memang fana. Itu juga yang kurasakan. Kebahagiaan bersama keluargaku tidaklah kekal. Beberapa  kali aku berduka karena harus berpisah dengan orang-orang yang kusayangi. Satu per satu mereka dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Pertama, aku ditinggal kakakku yang kedua. Saat itu dia duduk di kelas satu SMP. Sementara aku duduk di kelas enam SD. Bagiku, dia bukan sekadar kakak, tapi juga sahabatku. Banyak sekali kenangan bersamanya. Misalnya, saat hujan deras siang hari, kami berkumpul di rumah. Kami suka memandangi air hujan yang mengucur deras dari cucuran atap melalui kaca jendela. Dalam sekejap, halaman rumah kami pun tergenang. Misalnya pun berteriak senang jika ada sandal milik salah satu dari kami hanyut terbawa air. Kami sebut itu sebagai perahu.

Untuk mengusir suntuk karena hujan tidak reda juga, kami melakukan permainan bersama di dalam rumah. Yang paling sering kami mainkan adalah bermain lempar karet dengannya. Sebagai tiang, kami biasa menggunakan tunggul obat nyamuk. Dia memang sangat mahir mengarahkan karet-karet gelangnya agar bisa masuk ke tunggul itu.  Karena itulah, aku sering kali kalah darinya. Dia juga sering menjahiliku. Jika aku kesal, dia malah tertawa senang.

Jika bosan bermain, kami suka berebut tempat agar bisa berbaring dekat Ayah yang sedang beristirahat. Kehebohan kami sepertinya membuat Ayah terganggu. Karena itu, beliau meninggalkan kami di tempat tidur. Jika sudah begitu, maka kami pun beradu cepat meninggalkan tempat tidur untuk bisa mendapatkan kursi kosong dekat Ayah. Kami memang merasa sangat nyaman jika berada dekat dengan beliau.

Saat itu, kakakku bersekolah di sekolah yang berada jauh di kota kecamatan. Jarak dari rumah kami ke sekolahnya sekitar tiga KM. Saat itu pun masih jarang kendaraan yang bisa ditumpangi menuju sekolahnya. Karena itulah tak jarang kakak pulang pergi dengan berjalan kaki.

Suatu ketika, dia mengeluhkan kakinya sakit. Dampal kaki kanannya terluka karena tertusuk pangkal pohon liar saat bermain di pinggir telaga. Anak-anak kampung kami memang sering bermain di telaga itu. ada yang sekadar mandi, berenang, atau pun bermain rakit dari batang pisang.

Saat itu aku belum paham apa yang telah terjadi dan akibatnya bagi kakakku. Sepertinya, Ayah juga tidak menganggap serius luka Kakak. Aku ingat betul bahwa saat itu bulan Agustus tahun 1982. Ayah menyuruh Kakak untuk berobat ke puskesmas yang berdekatan dengan sekolahnya.

Sepulang sekolah, Ayah menanyainya untuk memastikan dia sudah berobat atau belum. Saat itu, kakakku menjawab, “Belum”. Ayah terlihat kesal saat itu. Tapi beliau tidak banyak berkata-kata. Keesokan harinya, kakak tidak bisa ke sekolah karena kakinya semakin dirasa sakit. Akhirnya ayah membawanya berobat ke mantri. Saat itu, belum ada dokter di wilayah tempat tinggal kami. Jika mau berobat, maka kami berobat ke mantri.

Aku menunggu mereka kembali. Saat ada mobil berhenti depan rumah kami, aku segera mendekat. Mobil itu sengaja dicarter Ayah karena kakak sudah tidak bisa berjalan. Tubuhnya mulai kaku. Aku merasa sangat kasihan melihatnya. Saat itu, aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Kata Mantri Suhud, dia terkena tetanus.” kata Ayah menjelaskan pada kami.

Kakak hanya bisa berbaring. Semua jendela ditutup dengan tirai. Kata Ayah, itu yang disuruhkan Pak Mantri. Kamar Kakak harus dalam keadaan gelap.

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, aku menyempatkan melongok ke kamar Kakak. Dia terbaring ditunggui kakek dari Ayah. Setibanya di sekolah, aku pun melakukan aktivitas seperti biasa.

Selepas istirahat, kami pun kembali melanjutkan pelajaran. Tiba-tiba, ada adik kelas yang tinggal dekat rumahku melongok dari jendela dekat tempat dudukku. Dia berbisik, “Kakakmu meninggal.”  Saat istirahat, kami memang bebas bermain atau pulang ke rumah dulu. Mungkin tadi, dia juga sempat pulang dulu ke rumahnya dan mendengar kabar tentang meninggalnya kakakku. Saat itu, belum ada toa masjid. Sehingga pemberian informasi mengenai meninggalnya warga dilakukan dengan memukul kentongan lima kali- lima kali. Dan itulah yang kemudian kudengar.

Saat itu, aku begitu tersentak. Aku berdiri menatap guru kelas yang sedang mengajar. Tanpa bisa berkata sepatah kata pun, aku menyambar tasku lalu lari meninggalkan teman-teman dan guru kelas yang menatap dengan tatapan keheranan. 

Aku terus berlari menuju rumah. Di jalan, sesekali aku berpapasan dengan warga desa yang menatapku heran. Aku terus berlari ingin memastikan kabar yang kudengar tadi. Aku berharap, bahwa itu hanyalah keisengan adik kelasku saja. Aku berharap kakakku masih hidup.

Setibanya di rumah, aku mendapati tikar telah tergelar di ruangan depan dan tengah. Aku meihat banyak kerabat yang duduk  terdiam di situ. Tatapanku beradu dengan Ayah. Beliau tidak berkata apa-apa. Tapi, matanya itu menyorotkan kesedihan yang mendalam.

Aku menerobos masuk ke kamar Kakak. Kudapati dia telah terbujur ditutupi kain. Saat itu, aku belum begitu merasakan adanya rasa kehilangan. Aku sendiri tidak tahu, perasaan apa yang berkecamuk saat itu.

Hari berganti. Semakin waktu berlalu, semakin aku merasakan ada yang kosong di ruang hatiku. Aku rindu kakakku. Bahkan, kini, saat menulis kisah ini, aku betul-betul merindukannya. Dia yang ceria. Dia yang suka menjahiliku. Aku tak bisa menjumpainya lagi. Hanya pusara yang kudatangi, juga doa yang kupanjatkan. Semoga Tuhan menyayanginya, dan mempertemukan kami di sana dengan bahagia. Aamiin.

Waktu melaju begitu cepat. Sekitar dua puluh tahun berlalu sejak kepergian kakakku. Aku pun telah berkeluarga. Anakku dua. Saat itu, adik yang  persis di bawahku, yang dahulu biasa kugendong-gendong dan selalu kuajak bermain ke mana pun menyusul Kakak. Dia lama mengeluh sakit. Setelah mencoba beberapa obat herbal, adikku pun akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di daerahku. Sayang, di rumah sakit itu, dia kurang ditangani dengan baik. Setelah dirawat, kondisinya bukan membaik malah semakin buruk. Informasi yang kuterima dari pihak rumah sakit, dia sakit lever. Akhirnya dia ngotot meminta pulang.

Kami kembali mencoba obat herbal. Berdasarkan informasi yang kuterima, aku mencari rebung bambu kuning untuk diambil airnya. Selain itu, ada juga yang memberi saran agar dia juga diobati dengan godogan daun sukun dan air bunga mawar merah. Semua kami coba. Akan tetapi, kondisi adikku semakin parah. Ada yang memprediksi, dia tidak akan bisa bertahan lama. Hatiku mempercayainya. Karena pernah termimpikan olehku, dia mengatakan ingin naik ranjang yang bisa terbang. Seketika aku terbangun dan yang terbayang saat itu adalah sebuah keranda.

Dia hanya bisa terbaring. Kami menungguinya. Ada juga kerabat yang turut menungguinya. Malam itu, dia meminta agar  dipangku Ayah dan Ibu. Keinginannya itu pun segera dikabulkan. Dia terlihat sangat tenang. Saat mendengar ada yang terisak, dia memintanya untuk tidak menangis. Dia ingin segera menghadap Sang Pencipta. “Aku takut jika terlalu lama menunggu, nantinya akan muncul keluh kesah dan rasa putus asa.”

Keesokan harinya, dia meminta agar badannya dibersihkan. Saat itu, kakak sulung kami yang membersihkannya. Dia tampak begitu tenang. Saat azan zuhur berkumandang. Dia minta ditayamumkan. Setelah itu, dia meminta semua orang meninggalkannya sendirian di kamar untuk melaksanakan salat zuhur. Suamiku menyuruhnya untuk sekalian menjama dengan Asar.

Kami pun meninggalkannya sendirian. Selang beberapa saat, ibuku menjerit di pintu kamar. Saat melewati pintu kamar Adik, dari sela tirai yang terbuka, Ibu melihatnya menghembuskan nafasnya. Setelah itu, tidak ada gerakan lagi darinya. Adikku telah menyusul kakaknya menghadap Sang Pencipta. Kami pun berduka.

Ayah dan Ibu begitu terpukul. Bahkan, Ayah tak kuasa melangkah untuk ikut mengantar ke peristirahatan yang terakhir adikku. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak ikut ke pemakaman. Selang beberapa hari kemudian, Ayah meminta diantar untuk berziarah ke makam Adik. Dia mengatakan bahwa Adik datang dalam mimpinya, meminta Ayah untuk melihat rumah barunya.

Kata Ayah, “Ditinggal mati anak, sakitnya luar biasa.” Mungkin karena itu pulalah sejak kepergian Adik menghadap Sang Pencipta, Ayah dan Ibu sering sakit-sakitan. Ibu terkena serangan jantung, Saat itu, di sekitar wilayah tempat kami tinggal belum ada rumah sakit khusus untuk penderita jantung. Ibu pernah dirawat di rumah sakit milik pemerintah daerah hingga dua puluh satu hari.  Dalam kurun waktu perawatan itu, enam hari ibu dirawat di ICCU. Tidak lama kemudian, masih dalam masa pengobatannya, Ibu menyusul kedua anaknya kembali pada Sang Pencipta.

Pukulan bertubi-tubi tentu saja kami rasakan. Yang paling terpukul adalah Ayah. Ayah semakin sering sakit. Kami berusaha untuk mengobatinya melalui beberapa dokter. Ayah pernah juga dirawat di rumah sakit. Setelah diperbolehkan pulang, kami melanjutkan ikhtiar dengan melanjutkan proses pengobatan, termasuk mengikutkan program terapi. Akan tetapi, kondisi ayah semakin memburuk. Akhirnya dia pun dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Innalillahi wainnailaihi rooji’uun.  Kini, lebih dari lima belas tahun sejak Ayah meninggal. Semakin waktu berlalu, bayangan mereka semakin melekat dalam ingatan. Semakin hari, semakin sering bayangan mereka muncul. Aku semakin merasakan, betapa baiknya mereka. Ada sesal jika mengingat bahwa aku belum sempat memberikan kebahagiaan pada mereka. Aku belum sempat membalas kebaikan dan jasa-jasa mereka.

Bayangan mereka, terutama ayah dan  ibu, sering kali hadir saat aku menghadapi suatu masalah. Mereka seolah memberi solusi dari masalah yang aku hadapi. Terngiang kembali apa yang dikatakannya mengenai hal serupa itu. Setelah lama mereka tiada, barulah aku merasa bahwa mereka berdua telah mengajariku banyak hal dan mendidikku untuk bisa menjalani kehidupan dengan baik.

Aku merasakan kehilangan yang semakin hari justru semakin dalam. Kerinduan pada mereka membuatku selalu berdoa agar bisa berkumpul kembali utuh sekeluarga di surga-Nya. Aamiin Allahumma aamiin. ***

#WCR_ditentukan_sinur

Rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.