Berpikir Kritis

Berpikir Kritis

Dahsyatnya hasil dari berpikir kritis. Kemajuan-kemajuan yang tercapai di dunia ini tak lepas dari hasil berpikir kritis. Ia bisa dikatakan menjadi sentra lahirnya sebuah peradaban. Tanpa berpikir kritis kehidupan tak berjalan dinamis.

Lihatlah misalnya cikal bakal lahirnya pesawat terbang, ia bermula dari sikap kritis terhadap burung yang terbang bebas di udara. Sikap kritis ini dipertajam dengan analisa yang mendalam diikuti perakitan perangkat terbang hingga uji terbang sederhana. Cikal bakal penemuan pesawat terbang tersebut terus dikembangkan hingga kita dapat melihat kesempurnaan bentuknya seperti sekarang.

Begitu pula dengan hadirnya kamera, tempat penyimpanan data, kapal selam, percakapan jarak jauh dan sebagainya. Semua itu berawal dari mengkiritsi apa yang ada di alam semesta termasuk di dalamnya penciptaan diri, hal tersebut mengantarkan pada penemuan-penemuan yang menakjubkan abad 21. Jikalau begitu, betapa pentingnya berpikir kritis itu.

Ternyata di dalam Al-Qur’an sendiri, Allah sudah memerintahkan agar hamba-Nya berpikir kritis terhadap apa yang Dia ciptakan. Perintah ini mengandung hikmah yang besar, tentunya demi kebaikan manusia itu sendiri. Bukankah apabila Allah perintahkan terhadap sesuatu, pasti sesuatu itu memiliki keutamaan yang agung, dan apabila diabaikan ia akan memberikan dampak yang buruk.

Bertaburan ayat-ayat di dalam Al-Quran berupa pertanyaan Allah secara retoris berkaitan dengan manusia dalam memanfaatkan akal pikirannya: Apakah kamu tidak memikirkan; jika kamu orang-orang yang berakal; apakah mereka tidak berakal, dan penyebutan lainnya. Allah menohok langsung dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, artinya objek yang disebut adalah hal luar biasa, tidak boleh dianggap remeh.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali-Imran [3]: 190-191).

Di atas hanyalah salah satu dari sekian ayat tentang urgensinya berpikir mendalam terhadap peristiwa yang terjadi di alam. Lihatlah efek dahsyat dari mengkritisi fenomena dalam kehidupan. Nabiyullah Ibrahim ‘alahissalam setelah melalui perenungan mendalam serta akal yang terus mengkritisi terhadap apa yang ia lihat, sampailah akhirnya beliau pada kesimpulan tentang siapa tuhan yang sesungguhnya, Dialah Allah. Sama halnya dengan ilmuan berkebangsaan Prancis, Jaques Yves Cousteau, kerisauannya tentang penyebab bertemunya dua air lautan namun tak saling bercampur warna dan rasanya telah membawanya kepada kebenaran hakiki, yakni Islam.

Berpikir kritis sendiri bila kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) setidaknya memilliki 2 makna, yakni tidak lekas percaya dan tajam dalam menganalisa. Bukankah kedua pola pikir seperti demikianlah yang selalu melekat pada setiap aspek kemajuan. Tak ada pilihan yang lain, kecuali mulai saat ini kita bertekad mengasah daya pikir, sehingga bernilai kritis.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.