Tradisi Hajatan di Desa Kami

Tradisi Hajatan di Desa Kami

Hallo, Pembaca!

Adakah  acara resepsi yang kalian hadiri sekitar bulan Juli dan Agustus tahun ini?

Di beberapa wilayah, Sekitar akhir Juli dan awal Agustus tahun ini adalah waktu yang mereka pilih untuk menggelar resepsi. Bagi umat Islam waktu tersebut bertepatan dengan bulan Zulhijjah. Bulan tersebut memang dipercaya sebagai bulan baik untuk menggelar resepsi atau lebih tepat disebut hajatan, baik itu hajatan khitanan ataupun pernikahan.

Selain dipercaya sebagai bulan baik, banyaknya resepsi digelar pada waktu tersebut karena sejak masa pandemi corona, warga dilarang menggelar resepsi. Setelah memasuki masa New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru, pemerintah mulai mengizinkan warga menggelar resepsi. Meskipun dengan aturan ketat karena selain harus memiliki izin, pihak penyelenggara resepsi pun harus menggunakan protokol kesehatan covid, warga seperti berlomba untuk segera menggelar pesta.  

Berbeda dengan resepsi atau hajatan yang digelar dengan melibatkan jasa event organizer dan jasa boga (katering), hajatan yang digelar dengan melibatkan warga masyarakat sekitar masih berlaku di banyak daerah. Di daerah seperti itu, masyarakat akan bahu membahu membantu demi terlaksananya acara resepsi tersebut.

Salah satu daerah yang masih menjalankan tradisi bergotong royong membantu warga yang akan menggelar resepsi adalah daerah tempat tinggalku. Salah satu desa di wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tepatnya Desa Sumbakeling, Kecamatan Pancalang. Warga desa kami merupakan contoh masyarakat yang sulit melepaskan tradisi, termasuk tradisi yang berkenaan dengan hajatan atau resepsi, terutama resepsi pernikahan.

Di antara tradisi itu adalah seminggu sebelum resepsi digelar, diadakan acara pembentukan panitia. Acara ini biasanya digelar selepas isya. Waktu itu dipilih karena pada malam hari, warga yang bekerja sudah kembali ke rumah. Dengan demikian, warga bisa hadir dalam acara tersebut.

Keesokan harinya, undangan pun disebar. Biasanya undangan itu ada dua macam, yaitu undangan berupa kartu dan undangan dengan lisan. Undangan dengan kartu biasanya ditujukan untuk para bapak atau teman-teman mempelai. Sementara itu, ibu-ibu diundang secara lisan oleh utusan yang punya hajat. Utusan ini, biasanya ibu-ibu. Dia berkeliling dari rumah yang satu ke rumah yang lain untuk mengundang.

Selain disebarnya undangan, pada hari itu, dibuatlah dapur sementara. Tungku besar pun dibuat dengan menyusun batu bata dibalut tanah liat basah yang dicampur sekam. Di tungku itulah, para pengobeng (istilah bagi warga yang membantu) nantinya akan memasak. Selain tungku besar itu, disiapkan juga tungku-tungku gerabah yang disebut keren.

IKarena di daerahku masih terdapat banyak pohon yang bisa dijadikan kayu bakar, maka untuk memasak pun mereka banyak menggunakan kayu bakar. Adapun kompor gas, mereka gunakan untuk memasak menu dalam jumah sedikit atau menggunakan alat masak yang tidak memungkinkan digunakan di atas tungku.

Tungku tanah liat itu baru bisa dipakai sekitar tiga hari kemudian. Saat itu, tungku mulai kering. Pada hari itu, para pengobeng mulai berbagi tugas. Pembagian tugas ini berlangsung secara alami. Para pengobeng itu memosisikan diri berdasarkan keahlian masing-masing. Di antara para pengobeng itu, ada yang biasa ditunjuk sebagai juru masak utama. Juru masak utama membantu yang punya hajat menentukan menu dan kapan mulai memasak. Juru masak utama itu pulalah yang memberi komando kepada para pengobeng mengenai apa yang harus disiapkan dan  dimasak terlebih dulu.

Memasak dengan tungku kayu bakar (dokpri sinur)

Pada H-4, beberapa pengobeng mulai mengumpulkan daun pisang. Daun pisang yang dicari biasanya daun pisang klutuk. Pisang klutuk adalah sejenis pisang yang buahnya dipenuhi biji. Daun pisang tersebut berkualitas baik jika dijadikan pembungkus penganan khas karena tidak mudah sobek. Sementara itu, pengobeng yang lainnya mulai mengupas kentang dan menggoreng kerupuk untuk prasmanan para tamu undangan. Ada dua macam makanan khas yang juga digoreng pada hari itu, yaitu pareredan dan rangginang.

Pareredan adalah kerupuk yang dibuat dari tepung beras yang dibuat bersusun seperi bunga. Biasanya, tiap susun diberi warna yang berbeda. Sementara itu, rangginang dibuat dari nasi ketan yang dibuat bulat dan dijemur hingga kering. Setelah kering, barulah bisa digoreng. Keduanya, baik pareredan maupun rangginang, biasa dijadikan bahan untuk berekat. Berekat adalah istilah untuk bingkisan yang diberikan empunya hajat kepada mereka yang kondangan, sebelum hari “H”. Biasanya mereka adalah para pengobeng, dan tetangga dekat.

Selain makanan khas yang sudah disebutkan di atas, ada juga kue lapis dan kue cucur. Selain itu, ada juga papais keplek (semacam kue pipis berasa gurih), papais koci (semacam kue unti), dan papais bugis (kue bugis). Semuanya dibuat dari tepung beras. Bedanya, keplek dibuat dari adonan tepung beras biasa dicampur  kelapa muda parut lalu diseduh dengan air mendidih. Untuk menambah rasa gurih, maka adonan ini diberi garam.

Sementara itu, koci dan bugis dibuat dari tepung ketan. Bahan untuk koci diseduh dengan air godogan gula merah, sementara untuk bugis diseduh dengan ar mendidih dan diberi pewarna hijau. Kedua adonan itu diuleni hingga kalis lalu didiamkan beberapa saat, setelah itu dibuat  bulatan dengan isi kumbu dan enten. Kumbu adalah bahan isi koci yang terbuat dari kacang merah yang direbus dengan gula merah, lalu ditumbuk. Adapun enten (unti), terbuat dari kelapa muda parut yang disanggrai dengan gula merah. Semua adonan itu dibungkus dengan daun pisang. Untuk membedakan satu dengan lainnya, maka cara membungkusnya pun dibedakan.

Membuat papais (dokpri sinur)

Untuk membuat semua penganan itu, diperlukan waktu dan tenaga yang banyak. Meskipun sangat merepotkan, tetapi masyararakat masih tetap membuatnya karena itu merupakan ciri desa kami. Menghilangkan tradisi itu memang sangatlah sulit. Meskipun sudah sering muncul dalam obrolan para pengobeng untuk meniadakan berekat, tetapi dalam pelaksanaannya tetap saja hal itu dilakukan

Para pengobeng pun bahu membahu memasak sesuai menu yang telah ditentukan empunya hajat dengan juru masak utama. Mereka memasak untuk dua kepentingan, yaitu untuk berekat yang kondangan sebelumnya dan untuk prasmanan para tamu yang datang pada hari “H”.

Ada hal menarik yang dilakukan juru masak utama. Saat memasak, beberapa kali dia menaburkan garam korosok dengan cabe rawit kering ke dalam tungku yang menyala. Garam yang terbakar pun menimbulkan bunyi gemeletak yang membuat suasana dapur mendadak menjadi ramai. Menurut kepercayaan mereka, membakar garam dan cabe itu merupakan ritual agar undangan banyak yang datang.

Setelah hajat selesai digelar, biasanya ada pembubaran panitia. Panitia termasuk para pengobeng berkumpul kembali di tempat hajat. Setelah ucapan terima kasih dari yang empunya hajat, mereka pun makan bersama. Ada kalanya pula, pembubaran panitia itu cukup dengan mengirimi mereka makanan.

Itulah sebagian tradisi yang masih hidup di desaku. ***

#WCR_segar_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.