Belahan Jiwa

Belahan Jiwa

Tak ada hal yang paling indah dalam hidup ini kecuali menua bersama pasangan yang telah dipilih menjadi penyempurna kita. Karena sejatinya hidup adalah tentang saling menerima kekurangan, saling melengkapi satu sama lain, menjadikannya sempurna sehingga terciptanya hubungan yang harmonis.

Itulah yang terjadi pada Diana dan Yusuf. Mereka telah mengarungi banyak purnama, menempuh perjalanan empat puluh tahun usia pernikahan mereka.

Tak mudah memang melewati setiap detik waktu dengan orang yang sama. Menyatukan setiap perbedaan yang ternyata selalu saja muncul di awal usia pernikahan mereka.

Setiap kekurangan ternyata tidak menjadi masalah yang membuat mereka menyesal telah melangkah sejauh ini. Justru hal itu membuat mereka belajar banyak hal. Ya, bukankah pernikahan itu merupakan pelajaran sepanjang usia?

Mereka saling memahami satu sama lain, saling melengkapi kekurangan tanpa ingin menonjolkan setiap kelebihan yang ada pada diri masing-masing. Itu semua hanya untuk menjadikan hubungan mereka tetap harmonis.

Tak pernah sepatah kata pun keluar kata-kata kasar apalagi menyakiti, sepanjang mereka mengarungi bahtera yang dibangun dengan pondasi kokoh berlandaskan kata “saling”. Saling sayang, saling perhatian, saling pengertian, saling percaya, saling jujur, saling memaafkan, saling menerima, saling setia dan saling tanggung jawab atas perannya masing-masing.

Selain semua itu, yang paling penting dan utama agar suatu hubungan itu berjalan mulus adalah iman. Dengan memiliki dasar iman dan takwa yang kuat kepada Sang Khalik, tak ada yang sulit untuk melewati setiap ujian yang diberikan. Karena hanya Allah saja yang mampu menolong setiap hambanya yang mau meminta kepada-Nya.

Dengan kekuatan doa semua masalah yang ada akan terasa begitu ringan. Mereka tak pernah putus melakukan pengabdiaannya pada Sang Maha Kuasa, karena mereka percaya, kehidupan yang abadi adalah setalah hidup di dunia.

Tak pernah ada yang instan untuk mendapatkan sesuatu yang abadi. Semua butuh proses yang terkadang sulit untuk dijalani. Tergantung sejauh mana kita mampu menghadapi setiap proses yang ada dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.

Pernikahan mereka tak ada bedanya dengan pernikahan pasangan lainnya. Namun ketika dua karakter disatukan dalam kurun waktu yang tak terbatas dan dalam satu ruang lingkup yang sama, hal itulah yang membuat mereka terus berusaha saling melengkapi perbedaan yang ada.

Bahkan ketika dua anak mereka terlahir setahun setelah pernikahan, peran sebagai orang tua menjadi landasan utama mereka harus tetap bersama demi membesarkan kedua buah hati. Apa pun yang terjadi, mereka harus tetap saling bergandengan menciptakan rumah tangga yang bahagia lahir dan batin.

**

Yusuf yang ketika itu tengah duduk di ruang keluarga, sembari menunggu kopi buatan istrinya selepas salat subuh berjamaah, hanya menanggapi sekilas ucapan Diana.

“Ibu mau tiduran dulu ya, Pak. Bapak tidak apa-apa ‘kan Ibu tinggal sendirian?” tanya Diana di hadapan sang suami yang langsung menyesap kopi buatannya.

“Ya tidak apa-apa, Bu. Tidurlah, nanti Bapak menyusul,” ucap Yusuf sambil tersenyum.

Diana membalasnya dengan senyuman dan langsung beranjak dari duduknya, kemudian melangkah menuju kamar.

Kurang lebih dua puluh menit berlalu, Yusuf pun beranjak setelah sebelumnya meminum sisa kopi hingga tandas. Ia menuju kamar dengan langkah gontai, membuka daun pintu dengan pelan dan mendorong pintunya perlahan.

Yusuf menyaksikan Diana tampak tertidur dengan lelap di atas ranjang. Tiba-tiba ia menatap wajah yang selama empat puluh tahun ini telah menemaninya dalam keadaan suka dan duka.

Dihampiri tubuh kurus sang istri, lalu ia duduk di sisi pembaringan dengan hati-hati, takut Diana terbangun.

Dengan penuh kasih ia belai rambut istrinya yang sudah memutih, kemudian diraih tangan yang sudah keriput itu, digenggam dengan lembut dan diciumnya dengan rasa sayang yang tak pernah pudar.

Tanpa bicara, ia merasa ada yang memanas di kedua netranya, dan bulir bening itu menetes di kedua pipi yang juga sudah keriput, jatuh di tangan sang istri. Segera saja ia sapu dengan lembut air mata yang jatuh itu, ia berharap semoga tak membangunkan Diana.

Ia bersyukur, perempuan itu masih terlelap dalam posisi yang sama. Tak berselang lama, Yusuf pun beranjak tidur di samping istrinya.

Dua jam berlalu ketika Yusuf sayup-sayup mendengar ketukan di pintu depan rumahnya. Dengan mata masih mengantuk, Yusuf pun beranjak bangun kemudian berjalan menuju pintu depan.

Yusuf amat bahagia saat melihat putri bungsu bersama suami dan cucu perempuannya berdiri di hadapannya. Segera ia merengkuh cucu yang masih berusia sepuluh tahun itu dengan penuh kerinduan.

Sudah kurang lebih setahun mereka tak bertemu. Anak perempuannya yang tinggal di luar pulau karena tugas suaminya itu tak bisa membuat mereka sering bertemu.

“Bang Rayhan sedang dalam perjalanan menuju kemari, Pak. Mereka sebentar lagi juga sampai,” ujar Rania, anak perempuannya itu.

Rayhan, putra pertamanya yang juga sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak laki-laki itu juga tinggal di luar kota. Tiga bulan yang lalu mereka berkunjung dan menginap di rumahnya.

Yusuf bahagia, tepat di usia empat puluh tahun pernikahannya, kedua anaknya datang tanpa diminta. Ia bersyukur memiliki anak-anak yang saleh dan peduli terhadap orang tua.

Tak ada yang lebih indah selain memiliki keluarga yang penuh perhatian dan kasih sayang.

Setelah melepas rindu dengan anak, menantu dan cucunya, Yusuf segera mengajak mereka untuk menemui Diana di kamar. Ia sengaja tak membangunkan Diana, ingin memberinya kejutan.

Dengan perlahan Yusuf menyentuh bahu sang istri, memanggil namanya lembut, tak ada reaksi. Kembali ia mencoba membangunkannya, tapi tubuh itu masih bergeming.

Rania yang mulai panik, segera menghampiri ibunya, dengan berjongkok ia sentuh wajah yang terlihat pucat itu. Dingin.

“Bu …,” ucap Rania di telinga ibunya. Masih tak bereaksi. Rania mulai menangis sembari menoleh ke arah ayahnya.

Yusuf hanya menatap nanar wajah sang istri. Ia berharap istrinya hanya tertidur lelap. Tak ingin berpikir macam-macam karena ia tak akan sanggup menerimanya.

Galih, suami Rania segera menghampiri ibu mertuanya, mencoba mengecek keadaannya. Memastikan pernapasan masih ada di hidung dan denyut nadi di pergelangan tangannya.

Semuanya tak ia rasakan. Ia mencoba mengeceknya sekali lagi dan hasilnya tetap sama.

“Innalillahi wa innaillaihi roji’un,” ucapnya pelan, namun terdengar jelas di telinga Yusuf dan Rania.

Galih segera merangkul Rania yang mulai histeris sambil memanggil-manggi ibunya, sementara Yusuf masih tak bereaksi apa-apa selama beberapa detik.

Air mata mulai merembes dari kedua netra yang sayu. Diraihnya tangan sang istri yang sudah dingin, dikecupnya perlahan. Selama beberapa saat, Yusuf masih mencium tangan Diana dengan bersimbah air mata.

“Bapak sangat menyayangi Ibu, Insya Allah, Bapak ikhlas melepas Ibu pergi,” ucap Yusuf dalam isak tangisnya.

Dikecupnya kening sang istri dengan penuh cinta, dibisikan perasaan penuh kasih yang selalu bersemayan dalam jiwa. Meski sakit akan kehilangan istri yang begitu disayangi, tapi ia harus merelakan kepergiannya kembali pada pemiliknya.

Segera ia hapus air mata yang membasahi wajah, kemudian menoleh pada Rania dan Galih, menantunya.

“Tolong persiapkan pemakaman ibumu, Bapak yang akan memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkannya,” ucap Yusuf masih terisak, tapi tampak ketegaran ia coba perlihatkan.

Hari itu, tepat empat puluh tahun usia pernikahan mereka, Diana berpulang ke rumah Allah dengan senyum terukir di bibir dan tenang dalam riak wajahnya.

Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Meninggalkan kenangan yang takkan pernah terlupakan.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.