Ibnu Batutah Penjelajah Dunia

Ibnu Batutah Penjelajah Dunia (Saiful Amri, M.Pd.)

Ibnu Batutah seorang penjelajah Muslim yang terkenal. Nama lengkapnya Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al-Lawati Al-Tanjawi Ibnu Battutah. Dia seorang Muslim yang lahir di Tangier, Maroko pada 24 Februari 1304. Keluarganya berasal dari etnis Berber.

Seorang Ibnu Batutah ke luar dari tradisi, di mana keluarganya banyak berkiprah menjadi seorang hakim (qadhi). Dia enggan menjadi hakim, setelah belajar hukum Islam, tapi memilih menjadi petualang. Ibnu Batutah yang juga dikenal sebagai Shams Ad-Din sangat berjiwa petualang. Kemandiriannya dalam menjelajah dunia tidak diragukan lagi. Dia selalu selamat dari segala marabahaya yang menghadang di sepanjang petualangannya. Hobinya menjelajah dunia untuk bersilaturahmi dan mengenal manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya.

Di usia yang masih sangat belia, yakni 21 tahun, Ibnu Batutah menempuh perjalanan seorang diri ke Tanah Suci Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah SAW pada 14 Juni 1325. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya, Tangier, 24 tahun kemudian dia kembali dari perjalanannya. Dia berujar dalam catatan perjalanannya. “Aku berangkat sendirian, tak memiliki teman perjalanan yang dapat menghibur, tidak pula menjadi bagian dari para pelancong. Terpengaruh oleh keinginan yang tak kuasa dibendung diri, yakni untuk mengunjungi tempat-tempat suci, aku pun meninggalkan teman-teman dan rumah.”

Penjelajah ulung, Ibnu Batutah adalah orang yang menemukan Benua Amerika sebelum Christoper Columbus tersasar di sana. Pada 1349, Ibnu Batutah telah melakukan perjalanan, 125 tahun kemudian Columbus mendarat di Benua Amerika pada 1492. Dia memulai petualangannya dengan mengunjungi Tanah Suci Mekah dan Madinah. Setelah itu melakukan rihlah (perjalanan) keliling dunia dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, Cina, Asia Timur, hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ibnu Batutah melakukan pengembaraan di kota-kota besar di Afrika, Iskandariyah, Dimyath, Kairo, Aswan di Mesir, Palestina, Syam, Mekah, Madinah, Najaf, Basrah, Syiraz di Iran, Moshul, Diyarbakr, Kufah, Bagdad, Jeddah, Yaman, Oman, Hormuz, dan Bahrain. Kemudian berlanjut ke Asia kecil, Kaaram, Rusia Selatan, Bulgaria, Polandia, Istirkhan, Konstantinopel, Sayarevo, Bukhara, Afghanistan, Delhi, India (tempat ia menjadi hakim selama lima tahun), Maladewa, Cina, Ceylon, Bengali, dan Indonesia. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Iraq, Iran, kembali ke Afrika, dan Mali. Terakhir menetap di Fez, saat itu, di bawah kekuasaan Sultan Abu Inan. Dia menghabiskan tahun-tahun terkahir kehidupannya di tempat ini. Dia kembali ke kampung halamannya dan meninggal pada tahun 1369 dalam usia 65 tahun.

Jika dihitung, jarak perjalanannya melampaui rekor para penjelajah Eropa di masa itu. George Sarton, seorang Sejarahwan Barat, bahkan mengatakan, perjalanan Ibnu Batutah melampaui jarak perjalanan Marcopolo. Perjalanan darat dan laut yang ditempuhnya sejauh 120 ribu kilometer. Jarak yang ditempuh merupakan pencapaian yang luar biasa dan tak tertandingi oleh penjelajah lain saat itu.

Lebih dari separuh waktu hidupnya dihabiskan untuk menempuh perjalanan. Dia mengunjungi hampir seluruh Wilayah Islam. Sebanyak 44 negara telah dikunjunginya termasuk Indonesia. Perjalanannya menjadi catatan berharga bagi referensi sejarah hingga saat ini. Ibnu Batutah selalu mengilustrasikan setiap tempat yang dikunjunginya dengan tulisan berirama puisi.

Sebenarnya sudah banyak para penjelajah Muslim yang mengunjungi Benua Amerika, jauh sebelum Ibnu Batutah. Menurut para ahli geografi dan intelektual Muslim, para pengembara yang melakukan perjalanan ke Benua Amerika adalah Khashkhash Ibnu Saeed Ibnu Aswad (tahun 889), Abul-Hasan Ali Ibnu Al-Hussain Al-Masudi (meninggal tahun 957), Al-Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Abdin Abdul Abbas Ahmad bin Fadhl Al-Umari (1300-1384), dan Ibnu Batutah (meninggal 1369). Ibnu Batutah menjadi salah satu dari sekian banyak penjelajah Muslim yang menginjakkan kakinya di Amerika di mana Amerika telah diisi oleh peradaban Islam.

Dalam tulisannya, Rihlah yang diselesaikannya selama 12 tahun, Ibnu Batutah juga menceritakan tentang Indonesia. Dia mengatakan bahwa Sumatera adalah pulau yang menghijau. Dia tiba di Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Sumatera. Dia terkagum dengan keindahan kota di mana Kerajaan Pasai berada. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi para sejarahwan dunia untuk meneliti tentang kejayaan Kerajaan Samudera Pasai.

Ibnu Batutah tiba di Pesisir Pasai setelah mengarungi laut selama 25 hari dari India. Dalam catatannya, dia menulis bahwa Pulau Sumatera adalah pulau yang hijau dan subur. Lebih lanjut, dia menuliskan bahwa Sumatera banyak ditumbuhi kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, nangka, manga, jambu, jeruk, dan tebu.

Dia menjelaskan dalam catatannya bahwa Sultan Pasai, Al-Malik Az-Zahir, sangat ramah. Dia disambut oleh perwakilan panglima kesultanan. Menurutnya, Sultan Pasai adalah sosok yang agamis dan memerangi segala perompakan. Sultan juga melindungi kaum non-muslim. Selain tegas, Sultan juga rendah hati, biasa berjalan kaki menuju masjid untuk salat Jumat.

Ibnu Batutah mendapat pinjaman beberapa kuda dari Sultan Pasai. Dia tinggal di perkampungan sekitar empat mil dari kota kerajaan. Setelah sekitar 15 hari, dia meninggalkan Sumatera. Setelah kunjungannya ke Aceh, dia melanjutkan perjalanan ke Kanton melalui jalur Malaysia dan Kamboja. Setibanya di Cina, Ibnu Batutah melanjutkan ke Peking, kemudian menuju Calicut. Setelah itu meneruskan perjalanannya ke beberapa kota di Timur Tengah dan akhirnya sampai ke Mekah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah Saw.

Kita bisa bersilaturahmi di mana kita berada kepada berbagai kalangan yang berbeda latar belakang dan budaya. Tulislah apa yang kita alami dan kunjungi di suatu daerah maka akan memberikan informasi tentang daerah itu dan bermanfaat bagi pembacanya. (Sam).

Traveling-it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
-Ibnu Battuta-

(Traveling membuat Anda terdiam, lalu mengubah Anda menjadi seorang pendongeng.)

Sumber ilustrasi: https://www.ulamaku.com/2018/02/07

Sumber:
Republika.co.id. Jumat, 23 Rabiul Akhir 1441 / 20 Desember 2019
http://www.tribunnews.com
https://brainly.co.id/tugas/9254269
https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2017
https://www.kompasiana.com/samarief/
https://www.ulamaku.com/2018/02/07

Profil Penulis:

Saiful Amri, M. Pd. lahir di Bekasi pada 11 Juni 1969. Saat ini bertugas sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Cimahi Kabupaten Kuningan, Tutor Online UT Jakarta, Editor, dan pengurus beberapa komunitas pegiat literasi. WA 081388935209, post-el: saifulamri077@gmail.com, fb: Sam Saiful Amri, dan IG: saifelamr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.