Ketika Cinta Harus Melepaskan (1)

Ketika Cinta Harus Melepaskan (1)

Ditatapnya ratusan surat yang tertumpuk di sudut kamar. Ia tak pernah bosan menuliskan salinan surat-surat itu. Surat yang asli selalu ia kirim di setiap bulan, untuk kekasih hati yang sudah tiga puluh tahun dinantikan.

Tiga puluh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Seorang gadis dengan rambut panjang hitam legam, mata bulat yang selalu bersinar, bibir merah merekah dengan pipi merona, telah mampu membuat lelaki tampan dengan jambang tipis itu terpana.

Tangan-tangan Tuhan yang Maha Baik, selalu punya cara menyatukan dua hati yang mencinta. Lelaki sederhana itu berhasil meraih hati sang gadis pujaan. Mereka menjalin kisah romantis sepanjang zaman. Merenda kasih mesra bak pangeran tampan dan putri jelita.

Namun takdir tak selamanya berpihak pada ikatan yang tengah dicandu cinta. Ayah sang gadis murka, melihat anak semata wayang salah memilih pasangan. Keluarga ningrat yang berlimpah harta, tak mungkin untuk bisa sederajat dengan pemuda sederhana yang hanya seorang guru honorer dan pemilik toko bunga.

Lelaki itu didera rasa kecewa, meratapi nasib harus terpisah secara paksa dengan belahan jiwa. Sementara sang gadis merasa terpuruk menderita dalam sepi berkepanjangan, tanpa hadirnya sang kekasih hati, pelipur lara.

Lelaki bernama Pramudya itu tak bisa merelakan gadis yang dipuja sepenuh jiwa, Nurmalita, pergi dari hidupnya. Ia terus mencari sang kekasih yang telah dibawa paksa ke suatu tempat di belahan bumi bagian barat, Amerika.

Pramudya tak patah semangat. Impian akan bersanding dengan Nurmalita selalu menjadi harapan yang takkan terkikis meski waktu terus bergulir. Setiap surat yang ia tuliskan untuk sang kekasih itu selalu dikirim ke alamat rumah lama yang masih dihuni ayah dan bundanya.

Dalam goresan tinta hitam yang tertuang dalam kertas putih beraromakan wangi bunga, ia tuliskan kerinduan yang mendalam akan kehadiran gadis cantik yang telah mengisi seluruh hatinya. Meski tak satu pun balasan akan surat-surat yang dikirimkan, tapi ia tak pernah lelah.

Selama tiga puluh tahun ia masih menuliskan rindu itu. Selama itu pula, tak pernah cinta siapa pun singgah mengisi jiwa yang kosong. Pramudya masih setia menungu cintanya datang.

Banyak orang berkata jika ia mengharapkan sesuatu yang semu, yang tak mungkin ia bisa miliki lagi. Ia hanya menanggapi dengan senyuman, tak pernah marah atau pun terluka. Ia percaya suatu saat nanti cintanya akan bermuara pada tujuan yang sama.

Bayang-bayang gadis semampai dengan senyum terlukis di bibir indahnya, selalu membuat Pramudya bahagia. Telah cukup baginya mengulum rindu yang bertumpuk dalam hati. Tak pernah ia sisakan ruang hampa tanpa ungkapan rasa.

Pramudya masih setia dengan cinta suci yang ia jaga sedemikian rupa. Menyimpan setiap salinan surat di sebuah kotak. Jika ia rindu kehadiran sang kekasih, ia akan membaca satu demi satu surat lalu yang dituliskannya.

Jika ada cinta sedalam cinta lelaki sederhana seperti Pramudya, mungkin tak akan pernah ada luka yang mendera. Kekuatan yang menjadi dasar kesetiaan tak pernah bisa diukur meski waktu menyita sisa umur yang ada. Karena sejatinya cinta adalah untuk bahagia, walau harapan tak selaras kenyataan.

Bagi Pramudya, bahagia itu sederhana, selalu mencintai sang kekasih hati tanpa menuntut apa pun, menjadikan seumur hidupnya hanya penantian. Merangkai seuntai tawa dalam derai air mata.

Surat itu masih Pramudya tuliskan untuk Nurmalita. Berisikan rindu berkepanjangan, harapan tak berkesudahan, cinta tanpa jeda dan impian yang tak pernah terkikis.

**

Nun jauh dibelahan bumi Amerika, dalam sebuah rumah bernuansakan minimalis, seorang perempuan beranjak senja duduk di kursi rodanya. Menatap taman bunga yang beraneka rupa di halaman belakang. Rambut yang mulai memutih, kulit yang kian keriput, tubuh yang makin renta, hanya berteman sepi.

Genangan air yang merembes di kedua pipinya tak pernah menyurutkan harapan akan sebuah penantian panjang. Dalam setiap doa yang ia panjatkan, hanya ingin menepis sunyi bertemu kekasih hati.

Selama tiga puluh tahun lamanya, ia selalu setia dengan khayalan yang menari di kepala. Menerawang jauh ke masa di mana ia pernah bahagia bersama sang belahan jiwa. Ia telah ikhlas melepas nyawa yang tak berarti, tanpa kehadiran lelaki yang selama ini mengisi hati, dengan semua cinta tulus tak terbatas.

Dengan setangkai mawar putih yang dulu biasa ia terima kala pertemuan di depan toko bunga milik sang kekasih, ia menghela napas satu demi satu dalam rintihan doa. Mengharap dipertemukan kembali di tempat terindah nanti. Dalam satu embusan napas, ia terkulai lemas dengan hati ikhlas melepas harapan yang tuntas.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.