Ketika Cinta Harus Melepaskan (2)

Ketika Cinta Harus Melepaskan (2)

Ketika cinta datang mengisi relung jiwa, hati menerima dengan tulus ikhlas, tak ada paksaan. Mengalir laksana gemuruh ombak di lautan, menggelitik menghias semburat lukisan.

Saat kasih tak sempat diraih, tinggal harapan tak berkesudahan. Hanya kesetiaan tersisa dari sebuah impian. Mengukir rindu yang entah kapan tersampaikan.

Lelaki dengan gurat keriput di sebagian wajahnya itu selalu tersenyum, tatkala murid-muridnya menyapa dengan riang. Potret keramahan melekat pada diri yang tak pernah ingin menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Menjalani kesepian, menua dalam kesendirian.

Semua murid dan guru di SMA Tunas Bangsa, sudah memahami jika Rahadian adalah sosok yang tegas tapi bersahaja, diam tapi perhatian, suka menyendiri tapi dikenal ramah. Sayangnya, tak ada seorang pun perempuan yang menarik hatinya. Ia tetap dalam kesendirian yang tak bertepi.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, saat muda dulu, Rahadian sempat menjalin cinta dengan seorang gadis keturunan kaya raya. Sayangnya, hubungan mereka mendapatkan pertentangan dari orang tua sang gadis. Hingga mereka menjodohkan gadis itu dengan keturunan pengusaha besar.

Tak pernah terdengar lagi kabar mengenai sang gadis dan kehidupannya. Ia seolah hilang ditelan bumi, tanpa berita pasti. Sejak saat itu, Rahadian memutuskan tak akan pernah lagi menjalin hubungan dengan perempuan mana pun.

Baginya, gadis itu adalah cinta pertama dan terakhir, cinta sejati yang takkan pernah terganti. Bagaimana pun pandangan orang mengenai Rahadian, pasti tak pernah dipedulikan, hanya mengurut dada pilu dalam kenestapaan.

Hidup sebatang kara sejak usia kecil, telah menempanya menjadi lelaki kuat dan tahan banting. Hidup yang keras tak menjadikan ia lemah, ujian yang mendera semakin mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa.

Lelaki berusia lima puluh dua tahun itu masih terlihat gagah dan menawan. Sebagai guru senior, ia sangat disegani bukan hanya oleh murid-murid saja, akan tetapi guru-guru pun menghormati dedikasinya, yang diberikan untuk kemajuan sekolah.

Sebagai guru bahasa indonesia, ia berhasil mengantarkan murid-muridnya meraih berbagai kejuaran sastra di beberapa tingkatan. Dari mulai antar sekolah se-kabupaten sampai di tingkat nasional. Ia adalah orang yang memiliki banyak kemampuan dalam bidang sastra.

Dalam hal puisi tentu ia jagonya, begitu pun karya fiksi, tak perlu diragukan lagi. Hal itulah yang membuat gadis masa lalunya jatuh cinta. Rahadian hanya guru honorer biasa kala itu. Penghasilan yang tak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Itulah mengapa ia hanya mampu menghadiahi kekasih pujaan dengan puisi romantis dan setangkai bunga yang ia ambil dari toko kecil miliknya.

Rahadian adalah salah satu dari sekian banyak lelaki di muka bumi ini yang masih memegang teguh cinta sejati. Hidup sekali, mati sekali, dan jatuh cinta pun hanya sekali. Cinta itu telah ia serahkan seluruhnya pada sang belahan jiwa, Nurmalita.

Tak ia sisakan ruang kosong bagi cinta yang lain. Tak diizinkan siapa pun masuk ke dalam hatinya, Mengisi jiwa patah yang tak pernah hancur. Ia hanya berpasrah, menjalani takdir apa pun yang terjadi. Jika Nurmalita bukan jodoh yang ditentukan Tuhan, ia akan belajar ikhlas merelakan. Meski sakit berdarah-darah, ia mencoba tak bersikap lemah.

**

Dengan langkah tergesa, Rahadian bergegas mengikuti langkah perempuan muda, yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Namanya Alena, ia mengaku sebagai keponakan Nurmalita.

Datang ke sekolah tepat pada saat bel masuk berbunyi. Ia utarakan maksud kedatangannya. Rahadian terguncang. Mimpinya seakan jatuh luruh bersama penjelasan yang ia dengar. Sakit yang ia rasa, mencabik-cabik jiwa yang selama ini ia jaga. Ia berpasrah.

Kaca jendela berukuran besar terpampang di depan Rahadian saat ini. Tapi bukan itu yang tengah ia pandangi, sosok perempuan yang ia rindukan selama tiga puluh tahun lamanya itu, kini terbaring lemah tak berdaya.

Dengan berbagai selang yang terhubung ke beberapa anggota badan, hanya memperpanjang hidupnya saja. Rahadian menatap lekat wajah yang masih tetap sama seperti dulu. Cantik dan menawan.

Hanya saja, kini tak terlukis sebentuk senyuman yang menghisi wajah cantik itu. Entah kapan perempuan yang selalu dicintai, akan bangun dan melihat kedatangannya. Ia ingin menyaksikan binar mata yang selalu menggoda.

Satu jam Rahadian hanya berdiri, tak bosan memandang. Kali ini ia berada di samping pembaringan, tepat di sebelah Nurmalita yang terbaring, masih bergeming. Penantian itu akhirnya tiba, perempuan itu membuka mata, menggerakan jemari dengan sangat lemah.

Bola mata itu tertuju pada Rahadian. Seperti mimpi, Nurmalita ditemani lelaki yang selama ini ia rindu dalam diam.

“Mas Raha …,” ucapnya pelan dan terbata.

Rahadian mendekatkan wajahnya ke arah Nurmalita.

“Aku rindu padamu,” ucapnya terbata

Kembali Rahadian menatap kedua mata yang terlihat sayu, tak ada sinar yang terpancar dari dalam sana. Kelabu.

“Aku juga merindukanmu.”

Rahadian meraih tangan Nurmalita, menggenggamnya, mengalirkan kekuatan dalam bentuk cinta.

“Maafkan aku.” Nurmalita lega setelah mengatakan itu.

Kembali ia menutup mata, dan tak pernah membuka lagi. Air menetes dari sudut mata Nurmalita. Rahadian tak bisa membendung rasa yang hendak tertumpah. Pipi yang mulai keriput itu telah basah. Ia ikhlas melepas kepergian satu-satunya perempuan yang dicintai, mencium kening itu dengan penuh kasih sayang.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.