Aki dan Ambu – Bagian 19 (Agustusan)

Aki dan Ambu – Bagian 19 (Agustusan)

Sore itu, dua orang pemuda dengan menenteng map biru mendatangi rumah Aki Rahmat. Salah satu di antaranya memberi salam dan menyapa Aki Rahmat yang sedang menyirami tanamannya.

“Assalamu’alaikum, Ki. Rajin sekali, Ki,” sapanya.

“Wa’alaikumsalam. Eh, kalian. Tumben sore-sore ke sini,” balas Aki.

“Iya, Ki. Tapi sebelumnya kami mohon maaf jika kedatangan kami ke sini mengganggu Aki,” kata Tito yang tadi menyapa Aki.

“Sama sekali tidak mengganggu. Silakan kalian duduk dulu. Tunggu sebentar ya! Aki cuci tangan dulu,” Aki mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di kursi teras. Setelah mencuci tangannya, Aki menghampiri kedua tamunya. “Ayo, kita duduk di dalam saja, di sini kursinya cuma dua,” ajak Aki. Dia melangkah masuk ke ruang tamu diikuti kedua tamunya itu. “Silakan duduk!” kata Aki mempersilakan tamunya untuk duduk. ”Ambu! Ada tamu nih,” teriak Aki.

Ambu segera menghampiri. “Ooh, kalian. Tumben sore-sore ke sini,” sapa Ambu. “Sebentar ya, Ambu buatkan minum dulu,” lanjutnya. Tanpa menunggu jawaban tamunya, Ambu kembali ke dalam. Sebentar kemudian, Ambu kembali ke ruang tamu dengan tiga cangkir teh manis. “Silakan minum, De,” Ambu mempersilakan tamunya untuk minum.

“Terima kasih, Ambu. Jadinya ngerepotin Ambu,” jawab Rendi, teman Tito.

Ambu duduk di samping Aki. Dia ingin tahu apa keperluan kedua anak muda itu.

“Emm …. Begini Ki, Ambu. Kami merupakan panitia kegiatan agustusan. Seperti biasanya, setiap memperingati hari ulang tahun kemerdekaan, Karang Taruna di kampung kita mengadakan berbagai kegiatan. Nah, kami ditunjuk untuk mencari dananya. Untuk itulah kami keliling mengumpulkan dana dari masyarakat,” papar Tito.

“Ooh … begitu. Berapa Aki harus menyumbang dananya?” tanya Aki.

“Seperti yang sudah-sudah, sumbangan dari warga sifatnya suka rela. Terserah Aki dan Ambu mau nyumbang berapa. Agar Aki dan Ambu mempunyai gambaran mengenai biaya yang kami perlukan, silakan Aki dan Ambu baca proposal kegiatannya,” Rendi menyodorkan map yang dibawanya pada Aki Rahmat.

Aki segera menerima map berisi proposal kegiatan yang disebutkan Rendi. Aki mulai membuka-buka lembar demi lembar proposal itu. Aki terlihat manggut-manggut.” Baiklah, Aki menyumbang seratus saja, ya,” katanya kemudian.

“Alhamdulillah …. Terima kasih banyak Ki, Ambu. Semoga bertambah banyak lagi rezeki yang Aki dan Ambu dapat,” kata Tito dengan girang. Wajahnya sumringah. “Silakan Aki mengisi daftar pemberian donasinya,” lanjutnya.

“Tuliskan saja oleh kalian,” sahut Aki.

“Maaf ya, De. Kami tidak bisa memberi lebih banyak. Dananya tersedot untuk kondangan,” Ambu menambahi.

“Ini juga terima kasih banyak, Ambu. Memang, sekarang masih musim kondangan. Saya juga sampe pusing,” sahut Rendi.

“Oh, ya. Tadi Aki baca banyak juga kegiatan yang akan digelar, terutama lomba-lomba. Sudah dipikirkan bagaimana teknisnya biar tidak melanggar protokol kesehatan covid?” tanya Aki.

“Sudah, Ki. Kami pun sudah meminta pendapat Pak Kades mengenai itu,” jawab Tito.

“Makanya, lomba-lomba yang mengharuskan kontak fisik seperti panjat pinang, kami hilangkan,” sambung Rendi.

“Sayang sekali ya! Padahal panjat pinang itu ikon agustusan kan ya?” Ambu turut menimpali.

“Apa boleh buat, Ambu. Demi keselamatan bersama, kita harus tetap menjaga jarak,” kilah Rendi.***

#WCR_tetap_cerbungsinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.