Kanker itu, Menyadarkanku Satu Hal

Kanker itu, Menyadarkanku Satu Hal

Rinai hujan turun perlahan di Jumat pagi, 14 Agustus 2020. Aroma petrikor yang menguar, menangkan jiwa yang kecewa karena tak bisa segera pergi, melakukan aktivitas Road to Jannah Keluarga Jumat Berkah yang kuikuti bersama beberpa teman komunitasku.

Adakah musim mulai berganti kini? Ataukah ini hanya penyejuk sesaat di tengah musim kemarau?

Semangatku tak surut ketika gerimis masih menyapa bumi. Kutunggu seraya bolak-balik melihat jarum jam yang serasa berdetak lebih cepat. Guliran waktu mulai melebihi batas yang disepakati untuk bisa bersilaturahmi.

Sampai di waktu yang di reschedule ulang, akhirnya aku bisa berangkat dengan tenang menuju lokasi yang dituju.

Hanya aku dan Umi, panggilan hormatku untuk sahabat sekaligus pemimpin di komunitas kami, yang bisa pergi di pagi itu.

Sesuai dengan tujuan Road to Jannah kami pekan ini, mengunjungi anak-anak almarhumah Mbak Ima, sebut saja begitu. Seorang penderita kanker rahim dan kanker serviks yang menjalani masa pengobatan selama kurang lebih 8 bulan, hingga akhirnya Allah lebih sayang dan memanggilnya pulang.

Almarhumah ini sempat disupport oleh komunitasku pada saat masih dalam pengobatan di Jakarta.

Ia meninggalkan empat anak, 3 anak laki-laki yang sudah lulus SMA dan 1 anak perempuan masih berumur sekitar 3 tahun.

Sang anak sulung yang kini tengah menempuh pendidikan kuliah di kota yang sama dengan ia tinggal, menceritakan kisah almarhumah ibunya dari awal mulai terasa sakit sampai menjalani pengobatan di Jakarta dan hingga akhirnya meninggal dunia.

Kedua netraku basah mendengar cerita yang disampaikan si sulung. Betapa cepat Allah memanggil ibunya kembali. Dalam penderitaan sakit yang tak berlangsung lama.

Kanker rahim yang pertama kali mendapat perhatian untuk segera dibersihkan melalui jalan operasi. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian dinyatakan sembuh dan terbebas dari kanker rahim.

Justru kanker serviks yang diderita ibunya merupakan jenis kanker yang ganas dan berbahaya. Hingga hanya dalam hitungan hari saja, kanker itu sudah meningkat ke stadium lanjut, hingga tak bisa disembuhkan dengan jalan operasi.

Melalui kemoterapi dan terapi sinar, pengobatan untuk kanker serviks pun dilakukan. Pada tahapan terapi sinar itulah mulai menunjukkan perubahan kondisi yang menurun.

Keadaan ibunya semakin lama makin memperlihatkan keadaan yang memprihatinkan dan sampai hilang keasadaran.

Kankernya sudah mulai menjalar ke lambung, paru-paru dan tenggorokan. Miris kala mendengar penjelasan tersebut. Secepat itu penyebaran kanker yang diderita almarhumah Mbak Ima.

Meski aku tak mengenal almarhumah, tapi aku bisa merasakan kehidupan yang ia jalani bersama keempat anaknya. Penuh perjuangan bisa membesarkan ketiga anak hingga mengantarkan mereka lulus SMA.

Aku menuliskan ini bukan untuk membuka aib seseorang yang telah meninggal. Aku hanya ingin kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada almarhumah.

Bahwa betapa kesehatan itu sangat penting bagi kehidupan kita, jika kita ingin hidup lebih lama dan mengumpulkan amalan-amalan untuk bekal jika kelak kita pulang nanti.

Karena dari kisah sang anak sulung, penyebab ibunya menderita kanker karena pola hidup yang kurang baik. Pola hidup itu bisa dari asupan makanan yang kurang sehat, minuman ringan yang mengandung pemanis buatan dan olah raga yang kurang.

Dalam hal makanan yang seperti kita tahu saat ini, banyak kandungan MSG, pewarna dan pengawet yang lambat laun bisa merusak sistem saraf dalam tubuh. Sehingga akhirnya bisa menimbulkan berbagai penyakit.

Selain itu, gaya hidup sehat dengan berolah raga itu penting untuk menunjang olah tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit.

Walaupun hidup dan mati sudah diatur Yang Maha Kuasa, tapi kita sebagai manusia tidak ada salahnya berusaha, mengisi sisa usia selain beribadah tentunya, juga dengan menjaga pola hidup sehat.

Hal ini pun menjadi pelajaran bagiku untuk lebih memperhatikan makanan yang kusuguhkan untuk keluarga. Dengan asupan gizi yang cukup, mengurangi kandungan MSG dan pewarna serta pengawet, adalah salah satu cara menghindari diri dari penyakit.

Terlebih lagi dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, banyak hal yang perlu kita perhatikan dengan cermat. Selain asupan makanan disertai pola makan yang seimbang, tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung pemanis buatan, disertai pula dengan berolah raga ringan dan bila perlu mengkonsumsi multivitamin.

Mari kita mulai gaya hidup sehat sejak saat ini. Karena kesehatan itu begitu mahal harganya sampai kita merasakan sakit nanti.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.