Lomba TikTok Agustusan

Lomba TikTok Agustusan

Ada yang tidak biasa dilakukan Annisa pagi ini. Setengah melompat, ia segera turun dari tempat tidur saat alarm berbunyi. Tidak seperti biasanya, pagi ini gadis lima belas tahun itu memasang alarm pukul 03.30. Jam segitu biasanya Annisa masih meringkel di balut selimut tebal di atas kasur empuknya.

Semalaman Annisa gelisah. Dia nyaris tak bisa memejamkan mata. Dia begitu takut terlambat bangun. Ada sebuah rencana besar yang telah ia rancang. Dia sangat berharap rencananya itu bisa terlaksana dengan sukses pagi ini.

Bergegas Annisa meningalkan kamarnya menuju ke arah kamar orang tuanya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat sayup-sayup terdengar suara air mengalir dari keran di kamar mandi dekat dapur.

“Adduh! Aku terlambat!” gerutu Annisa.

“Tumben … kamu sudah bangun, Nis?” tanya uminya yang baru keluar dari kamar mandi.

“Iya, Mi. Tapi tetep saja bangunnya keduluan Umi,” jawab Annisa dengan wajah kecewa.

“Memangnya kenapa jika Umi bangun lebih dulu? Biasanya juga begitu, kan? Malah biasanya kamu baru bangun jika Umi ancam mau digury

ur air seember,” Umi Nazwa menatap heran anak gadisnya.

“Kali ini lain, Mi. Nisa ingin merekam kesibukan Umi sejak bangun hingga semua anggota keluarga sarapan dan siap beraktivitas.” papar Annisa.

“Untuk apa kamu rekam aktivitas Umi? Ga ada yang aneh, kan?” Umi Nazwa mengernyitkan dahinya.

“Eemmmm … kasih tahu ga ya?” canda Annisa.

“Ya …

terserah kamu saja. Tahajjud dulu, yuk!” ajak Umi Nazwa selanjutnya.

“Iya, Mi. Umi duluan. Nanti Nisa nyusul,” jawab Annisa sambil ngeloyor menuju sofa.

Umi Nazwa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak gadisnya yang langsung membaringkan diri di atas sofa.

**

Saat sarapan bersama, Umi Nazwa langsung menanyai  Annisa. Umi Nazwa tidak bisa menyimpan rasa penasarannya lebih lama.

“Kamu belum jawab pertanyaan Umi, Nis,” Umi Nazwa membuka obrolan.

“Pertanyaan yang mana, Mi?” Annisa menunda suapannya. Dahinya nampak mengernyit.

“Tentang rencana merekam kegiatan Umi pagi ini,” Umi Nazwa mengingatkan.

“Ooh, itu! Penasaran nih ya?” canda Annisa.

“Jeeh … ini anak, ditanya orang tua malah ngajak bercanda,” Umi Nazwa pasang wajah cem

berut.

“Jangan cemberut ah, Mi. Nanti Umi jadi kelihatan lebih tua, ha ha ha…,” canda Annisa lagi.

“Apa sih yang ibu dan anaknya ributkan pagi-pagi begini?” Abi Dava ikut nimbrung.

“Dini hari tadi, Nisa bangun. Katanya mau merekam kegiatan Umi pagi ini,” jelas Umi.

“Merekam bagaimana?” tanya Abi lagi.

“Nisa ingin merekam kegiatan Umi agar bisa dipilih kegiatan mana yang cocok dibuat video TikTok, Bi,” jawab Annisa.

“Astaghfirullah!” Abi Dava terperanjat.

“Kenapa, Bi? Kok seperti kaget gitu?” tanya Annisa.

“Kamu TikTokan?” taya Abi Dava kemudian.

“Iya Bi. Nisa mau ikutan lomba TikTok Agustusan yang diadakan Karang Taruna kampung kita. Temanya tuh Pejuang dari Rumah. Makanya Nisa mau membuat TikTok kegiatan Umi pagi-pagi. Umi kan memang pejuang keluarga kita.” Anisa menjelaskan.

“Tapi kenapa harus TikTok?” tanya Abi Dava lagi. Dari nada bicaranya, sepertinya Abi Dava tidak suka jika diadakan lomba TikTok.

“Memangnya kenapa, Bi? Ada yang salah dengan TikTok? TikTok kan salah satu tempat berkreasi yang menginspirasi juga membahagiakan,” giliran Annisa menunjukan rasa herannya.

“Kalau video biasa saja bisa, kan?” tanya Abi Dava lagi.

“Ya bisa sih. Tapi itu terlalu biasa banget, Bi. Kalau mau ada variasinya, harus diedit pakai aplikasi edit video. Kalau Tiktok kan ada musiknya, efek suara, voice-over, reaksi, dan masih banyak lagi pendukungnya. Hasilnya lebih menarik kan, Bi?” kilah Annisa.

“Tiktok itu kan produk China dan pernah diblokir di berbagai negara,” tukas Abi Dava.

“Memangnya kenapa kalau produk China, Bi? Lagian, diblokir kan dulu. Sekarang, tidak lagi. Kontennya lebih selektif,” dalih Annisa.

“Kabarnya santer kalau TikTok itu kerap dikaitkan dengan masalah politik dan komunis China,” Abi Dava pun mengeluarkan dalihnya.

“Itu sudah terbukti, atau baru dugaan, Bi?” pancing Annisa.

“Ya … Itu informasi yang Abi baca lho, Nak. Tidak salah kalau kita lebih berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi penyumbang bagi pihak yang salah,” kilah Abi Dava.

“Iya sih Bi. Tapi, TikTok ini kan kini lagi ngetren. Bukan hanya kalangan remaja lho, tapi kalangan emak-emak dan bapak-bapak gaul juga banyak yang jadi suka TikTokan. Ya … banyaknya sih memang buat seru-seruan biar ga stress,” Anisa menyudahi sarapannya. Dia tutup dengan meneguk minumnya.

“Tapi, banyak juga TikTok yang dibuat untuk mengajak berbuat baik atau mengedukasi masyarakat. Saat pandemi corona menimpa negara kita, banyak TikTok berkonten tutorial cara memutus rantai penularan covid-19, misalnya TikTok social distanching atau tutorial mencuci tangan,” papar Tania. Kakak Annisa yang sejak tadi menyimak pembicaraan ayah dan adiknya akhirnya angkat bicara.

“Betul, Kak,” Anisa menunjukkan dukungan terhadap apa yang dikatakan kakaknya.

“Kita memang harus memilah-milah mana hal yang bermanfaat dan mana yang tidak. Menyangkut dunia digital, kita memang harus lebih berhati-hati jika mau menggunaan aplikasi. Sejauh memberikan manfaat dan membuat banyak orang bahagia, tidak salah jika kita pakai juga. Kecuali jika jelas-jelas membuat kerusakan di muka bumi ini, kita harus ikut mencegah perkembangannya,” Tania melanjutkan paparannya. Mahasiswa tingkat akhir itu memang cukup serius memperhatikan perkembangan teknologi informasi digital di tanah air.

“TikTok yang kali ini dilombakan berkonten positif kan Kak? Dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan kita, lho. Setelah ini, Nisa janji deh tidak bakalan sering-sering TikTokan. Hanya jika bermanfaat saja, Nisa akan TikTokan,” timpal Annisa.

“Baguslah. Silakan kalian berkreasi dengan tetap memperhatikan kemanfaatannya bagi kita dan sesama!” Abi Dava akhirnya memberi penguatan.

“Kalau Nisa mau ikut lomba TikTok Agustusan, kita buat TikTok-nya bersama-sama ya. Biar hasilnya lebih bagus,” kata Umi Nazwa sambil memberesi piring kotor bekas mereka sarapan.***

#WCR_ditentukan_cerpensinur

rumahmediagrup/sinur           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.