Dua Lelaki (1)

Dua Lelaki (1)

Lelaki itu sedingin salju. Tak pernah terlihat senyum terukir di bibir tipisnya. Tubuh yang tinggi kurus, dibalut kemeja putih panjang yang digulung sampai batas siku, dengan celana panjang warna senada.

Keseharian yang ia lakukan hanya berkutat dengan buku-buku yang bertumpuk di atas meja taman belakang rumahnya. Aku selalu memerhatikan dari atas balkon setiap pagi selama seminggu ini.

Di kala pagi hari mulai menyapa, ketika sang mentari menyembul malu-malu, tetesan embun yang menghiasi rerumputan disertai bunga-bunga bermekaran, menambah sensasi hangat. Menghirup bau aroma kesejukan yang menggelitik indra penciuman. Melepas penat setelah tertidur sepanjang malam.

Lelaki itu keluar dari rumah sambil menenteng tumpukan buku di kedua tangan, lalu meletakannya di atas meja berbentuk bulat. Tak berselang lama, seorang perempuan paruh baya, menyusul keluar dari rumah, menyuguhkan segelas susu dan roti.

Lelaki itu sepanjang hari sampai kisaran waktu pukul sepuluh pagi, tak jemu membaca buku di tangannya sambil menikmati sarapan pagi yang tersaji. Setelah itu ia masuk kembali ke rumahnya, dan tak pernah kulihat keluar lagi.

Saat senja turun dengan warna-warni lembayung di langit, menambah keindahan menjelang malam. Jingga di kejauhan seakan melambai mesra pada tiap insan di dunia. Suasana sejuk setelah diterpa teriknya mentari, meneduhkan hati, menenangkan jiwa.

Sepulang dari kuliah, aku pulang seperti biasa. Jalanan masih ramai dengan lalu lalang kendaraan. Aku menepikan motor matik yang baru dibelikan Ayah dua minggu lalu.

Ya, sudah dua minggu ini aku dan kedua orang tuaku pindah rumah di kawasan elit kota kembang ini. Usaha Ayah di bidang travel perjalanan haji dan umroh maju pesat, perekonomian keluarga kami pun cukup meningkat. Itulah sebabnya Ayah memilih pindah ke rumah yang lebih besar.

Tak banyak yang aku tahu tentang lingkungan yang baru aku tempati ini, termasuk dengan tetangga sebelah rumah yang selalu menutup diri. Hanya beberapa tetangga dekat yang sudah Ayah dan Ibu kunjungi.

Hanya sebelah rumah yang belum sempat disambangi. Pemilik rumah dan istrinya jarang sekali di rumah. Hanya lelaki itu ditemani perempuan paruh baya yang tak lain adalah assisten rumah tangga mereka dan seorang bapak tukang kebun.

Entah kenapa lelaki yang sering kulihat di setiap pagi dan petang itu jarang kulihat keluar rumah. Hanya sesekali ia diantar supir, pergi entah kemana. Sempat terlintas dalam benakku untuk berkunjung ke rumahnya, tapi aku ragu.

Setelah bernegosiasi dengan Ibu, akhirnya kami pun mencoba bersilaturahmi ke rumah sebelah itu. Tak berselang lama, assisten rumah tangga mereka datang dengan tergopoh-gopoh membukakan pagar yang tinggi menjulang.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya perempuan paruh baya itu sopan.

“Saya tetangga baru di sebelah rumah ini, Bu. Hanya ingin bersilaturahmi karena sudah dua minggu kami tinggal di sini,” ujar Ibu sembari memberikan sekotak kue.

Perempuan itu tersenyum ramah sambil menerima kotak kue dan mempersilakan kami masuk.

“Sebentar ya, Bu, saya panggilkan Ibu Sarah dulu di dalam,” ujarnya seraya masuk dan meninggalkan kami yang duduk terpaku di ruang tamu.

Sekitar dua menit aku dan Ibu menunggu, datanglah seorang peeempuan cantik dengan anggun berjalan ke arah kami.

“Maaf menunggu lama ya, Saya Sarah, pemilik rumah ini.”

Perempuan yang usinya mungkin sama dengan Ibu itu menyalami kami dengan ramah.

“Saya Mirna, dan ini putri saya, Kinara.”

“Putri yang cantik. Berapa usiamu, Sayang?”

“19 tahun, Tante.”

“Tak berbeda jauh dengan usia anak Tante kalau begitu.”

“Kemana anak Tante sekarang?”

Aku mencoba memberanikan diri bertanya.

“Dia di kamarnya. Sehari-harinya memang seperti itu. Sejak kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawa kekasihnya, dia lebih memilih mengurung diri.”

Deg. Aku terdiam. Ternyata kisah lalu lelaki itu begitu pilu dan menyedihkan.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.