Dua Lelaki (2)

Dua Lelaki (2)

“Aaaaaawwww ….”

Teriakan itu tak mampu menghalangi laju mobil di depan, hampir menghantam motor yang aku tumpangi.

“Akhirnya jatuh juga,” rutukku kesal. Masih dengan tubuh gemetar, aku mencoba bangkit, berdiri sambil menatap mobil yang kini sudah berhenti di sebelahku.

Tampak seorang leleki yang sudah tak asing lagi di mataku, turun dari mobil dan langsung menghampiri.

“Maaf, Mbak, saya tidak sengaja,” ucapnya terlihat panik.

Wajah tampan bak artis korea itu semakin jelas terlihat. Kulit putih tanpa cela, dengan mata agak sipit, hidung mancung sempurna dan bibir tipis kemerahan. Dibalut kemeja denim chambray dan celana jins, semakin menampakkan sosoknya yang cool.

‘Yaa Allah, tak pernah kulihat wajah setampan ini berdiri di hadapanku,’ bisikku memuji.

“Mbak ….” Panggilan kerasnya berhasil membuatku terkejut setengah mati.

Aku gelagapan. Mencoba menguasai keadaan. Seperti ada yang berloncatan dari dalam hati.

“Astagfirullah,” ucapku akhirnya.

Mungkin saat ini pipiku terlihat bersemu merah saking malunya. Kedapatan melongo menatap wajah tampan rupawan. Kualihkan pandangan ke sekitar.

“Kau tidak apa-apa ‘kan, Mbak?” tanyanya masih khawatir.

Riak wajah yang masih terlihat tampan meski kecemasan tengah menguasi hatinya. Wajah yang sama seperti yang setiap pagi dan petang aku lihat di halaman belakang rumah itu.

“Aku baik-baik saja,” kataku mencoba bersikap setenang mungkin.

“Maafkan saya ya, Mbak. Saya benar-benar kaget melihat Mbak tiba-tiba muncul di hadapan saya,” ucapnya menyesal.

“Apa Mas tidak dengar saya membunyikan klakson motor?” tanyaku heran.

“Sama sekali tidak, Mbak. Mungkin tadi saya kurang konsentrasi, sampai tidak dengar Mbak membunyikan klakson,” katanya sambil tersenyum malu.

“Ya sudah, Alhamdulillah saya juga enggak apa-apa. Lain kali, kalau bawa kedaraan harus lebih fokus, Mas. Menghindari hal seperti ini terjadi lagi,” ucapku hendak mengangkat motor yang masih tergeletak di jalan.

“Iya, Mbak, terima kasih. Biar saya bantu mengangkat motornya, Mbak,” ucap lelaki itu seraya mengambil alih posisiku.

Aku bergeser ke arah samping. Memerhatikan ia dengan tatapan kagum. Ternyata lelaki itu orang yang ramah. Meski masa lalu telah membuat ia terpuruk, tak menjadikan hubungan sosialnya memburuk.

“Sudah, Mbak. Motornya sudah saya cek, dan tak ada masalah apa-apa,” ujarnya membuyarkan keterpakuanku.

Aku langsung meraih motorku, menaikinya, kemudian menghidupkan mesin.

“Terima kasih sudah membantu. Kalau begitu, saya permisi ya, Mas,” kataku menoleh ke arahnya.

Lelaki itu menganggukkan kepala sembari melengkungkan senyuman yang membuat dadaku berdebar hebat.

Setelah mengucap salam, segera kuberlalu dari hadapannya, sebelum rasa ini membuncah dan menimbulkan rona merah di pipiku.

Sepanjang perjalanan aku menyesali diri, kenapa tak kutanyakan namanya. Kenapa tak bilang kalau aku adalah tetangga di sebelah rumahnya. Aku hanya bisa menghela napas panjang.

Sesampainya di rumah, hari sudah mulai sore. Ibu menyambutku dengan wajah riang gembira. Sementara tak kudapati Ayah, yang mungkin masih bekerja di kantor.

Kupamitkan diri menuju kamar. Seharian menjalani kuliah cukup melelahkan. Ingin rasanya berbaring di atas ranjangku yang nyaman, tapi sebelum itu, aku harus mandi dan membersihkan badan.

Setelah beranjak dari kamar mandi yang satu ruangan dengan kamar tidurku, tak sengaja mata ini memandang keluar jendela. Suasana senja mulai menyapa. Warna kekuningan terlukis jelas di langit.

Hatiku menggelitik untuk mencari tahu, masihkah lelaki itu melakukan kebiasaannya, bersantai di halaman belakang rumahnya?

Tak kudapati sosok tampan lelaki itu di sana. Mungkinkah ia belum pulang ke rumah? Ataukah ia mulai meninggalkan kebiasaannya itu? Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal hatiku, menimbulkan pertanyaan baru dalam benakku.

Tak pernah kulihat mobil yang tadi dikendarai oleh lelaki itu di rumahnya. Hanya mobil Pajero Sport dan Toyota Yaris yang selalu terparkir di halaman depan rumah itu. Mungkinkah mobil Honda HR-V yang tadi aku lihat adalah milik lelaki itu?

Aku mengedikkan bahu, mengembuskan napas panjang. Masih berseliweran tanda tanya dalam pikiranku, tapi tubuh ini tak bisa diajak kompromi. Rasa lelah sudah menjalar mengisi setiap persendian.

Kulangkahkan kaki menuju tempat tidur, dan kurebahkan diri menikmati aroma wangi yang menguar dari pewangi ruangan yang terletak di sisi ranjang.

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.