Satu Kata “Merdeka” dari Anak Lelakiku

Satu Kata “Merdeka” dari Anak Lelakiku

Makna kemerdekaan Negara Republik Indonesia memang begitu besar. Perjuangan para pahlawan terdahulu untuk menjadikan bangsa kita terbebas dari segala bentuk penjajahan di bumi Pertiwi, dilakukan dengan penuh pengorbanan, darah dan air mata.

Bentuk kemerdekaan yang terjadi kini sedikit berbeda. Kita tak perlu berperang mengangkat senjata dan melawan musuh asing yang hendak menguasai negeri. Namun pada dasarnya tetaplah sama, kita akan selalu berperang melawan ketidakadilan di bumi tercinta Indonesia.

Dalam hal ini, aku tidak hendak menuliskan tentang kemerdekaan dulu mau pun saat ini. Tapi lebih kepada bentuk kemeriahan dalam rangka hari kemerdekaan negara Republik Indonesia yang diperingati tanggal 17 Agustus dalam usia ke-75 tahun.

Di lingkungan warga RT 03 GSI tempatku tinggal, telah beberapa hari lalu bentuk kemeriahan itu diselenggarakan dengan berbagai perlombaan dan tasyakuran di lingkungan perumahan, kali ini bentuk perlombaan itu diselenggarakan oleh sekolah anak lelakiku, Mas Zio.

Dalam perlombaan yang dilakukan via daring ini, dilakukan sebagai bentuk pembelajaran mandiri dan melatih kreativitas serta keberanian siswa dalam melaksanakan berbagai jenis lomba yang diselenggarakan dari mulai kelas 1 hingga kelas 6.

Kali ini, Mas Zio mengikuti lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an dan lomba baca puisi tema “kemerdekaan”.

Berbagai persiapan pun tentu dilakukan semaksimal mungkin. Hari ini, jadwal lomba baca puisi yang akan dibawakan dari rumah dan dikirim dalam bentuk video.

Dengan tema kostum hari kemerdekaan, dipilihkan pakaian merah putih dengan ikat kepala warna serupa, menjadikan anak lelakiku terlihat gagah.

Puisi dengan judul : Satu Kata, “Merdeka”. Menyampaikan pesan tentang perjuangan para pahlawan terdahulu, yang mempertaruhkan jiwa raga hingga tetes darah terakhir untuk kemerdekaan bangsa.

Penggalan puisi : Satu Kata “Merdeka”

Hingga detik ini ribuan darah telah tertumpah
Hingga detik ini ribuan nyawa telah melayang
Hingga detik ini ribuan belulang telah berserakan

Sebuah harga yang harus dibayar
Demi terwujudnya kemerdekaan bangsa
Demi terwujudnya
Satu kata “Merdeka”

Sebelumnya, aku menceritakan pada anak lelakiku tentang perjuangan para pahlawan yang tak pantang menyerah, untuk mempertahankan negara kita tercinta ini dari penjajahan bangsa asing. Dengan semangat rela berkorban, para pahlawan yang gugur di medan perang, dengan bangga mempersembahkan Indonesia yang sudah terbebas dari segala bentuk penjajahan.

Penghayatan dan penjiwaan pun di bacakan dengan sepenuh hati oleh Mas Zio. Sesuai arahan dan latihan yang hanya beberapa menit saja, ia akhirnya bisa menyelesaikan pembacaan puisi dengan baik.

Ia memang menyukai dunia puisi, begitu pun dengan membacanya. Akan tetapi, hingga saat ini aku belum menemukan wadah untuk mengajari dan membentuknya sampai ia layak mengikuti berbagai ajang lomba baca puisi.

Semoga seiring waktu, meski hanya dengan bimbinganku dan ayahnya dari rumah, ia bisa menciptakan karya berupa puisi-puisi sederhana dan terus berlatih membaca puisi dengan penuh penghayatan.

Selain itu, semoga ia bisa memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Menghormati dan menghargai perjuangan para pahlawan dengan menjadi generasi penerus yang membanggakan agama, nusa dan bangsa.

Sumber gambar : Koleksi pribadi (Mas Zio).

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.