Contoh Teks Anekdot

Foto diambil dari google

Teks anekdot di bawah ini jika dicermati, seperti biasa saja. Tidak terlalu memuat hal lucu yang membuat kita tertawa. Namun apabila dievaluasi isi dan maknanya, kita akan terkejut dengan amanatnya. Anekdot ini merupakan kritik sosial, penasaran isinya. Silakan baca dan pahami isinya!

Abu Nawas Memindahkan Istana

Baginda Raja baru saja membaca cerita tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke dekat Istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Hal itu tidak mustahil dilakukan karena di negerinya ada Abu Nawas yang amat cerdik.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum.

Tanpa menunggu lama, Abu Nawas dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Ar Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, “Abu Nawas engkau harus memindahkan istananya ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku!” Perintah Baginda sambil memerhatikan reaksi Abu Nawas.

Abu Nawas terpaksa menyanggupi tugas berat itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masygul

Setiap malam Abu Nawas hanya berteman dengan bulan dan bintang-bintang. hari-hari dilewatinya dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalan hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Namun, pada hari kesembilan, ia tidak lagi merasa gundah gulana. Pada hari kesepuluh, Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati, Baginda mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.

“Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti; kata Abu Nawas.

“Apa usul itu?”

“Hamba akan memindahkan istana Paduka yang Mulia tepat pada Hari Raya Idul Adha yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi.”

“Kalau hanya itu usulmu, baiklah,” kata Baginda.

“Satu lagi Baginda…” Abu Nawas menambahkan.

“Apa lagi?” Tanya Baginda.

“Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi gemuk untuk dibagikan langsung kepada fakir miskin,” kata Abu Nawas.

“Usulmu kuterima,” kata Baginda menyetujui.

Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh, nanti bila waktunya tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkannya ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.

Dedas Desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Meskipun demikian, sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun, tetap ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.

Saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan salat Hari Raya Idul Adha. Seusai salat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih, dimasak, kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin. Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu.

Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampainya di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja, “Ampun, Tuanku yang Mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?”

“Tidak ada,” jawab Baginda Raja singkat.

Selanjutnya, Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Ia berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Baginda akhirnya tidak sabar.

“Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?” tanya Baginda Raja.

“Hamba sudah siap sejak tadi, Baginda,” kata Abu Nawas.

“Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap , lalu apa yang engkau tunggu?” Tanya Baginda masih diliputi rasa heran.

“Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang Mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka.”

Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar lubang jarum.

(sumber: http://www.ceritalucuku.com dengan pengubahan)

Yustinah. 2016. Produktif Berbahasa Indonesia untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Erlangga.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.