Dua Lelaki (3)

Dua Lelaki (3)

Nyanyian burung saling bersahutan mewarnai pagi yang cerah. Bunga-bunga bermekaran memancarkan kecantikannya. Tetesan embun di rerumputan semakin menambah kesejukan.

Kuhirup nuansa di awal hari dengan penuh suka cita. Memejamkan mata, menikmati semilir angin yang berembus. Merasakan setiap kehangatan sinar mentari yang masuk melalui pori-pori. Menenangkan.

Aku masih belum mau menyiram tubuhku dengan dinginnya air sepagi ini. Aku masih menikmati anugerah-Nya yang Maha Indah. Merenungi setiap molekul yang telah diciptakan-Nya. Setelah salat Subuh tadi, aku melanjutkan murojaah Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 180-200.

Dalam salah satu ayatnya berisi tanda-tanda kebesaran Allah tentang penciptaan alam semesta.

Terdapat pada ayat 190-191, surat Ali Imron, Allah berfirman : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Setiap selesai membaca ayat suci Al-Qur’an, aku terbiasa membaca arti di dalamnya. Sehingga sedikit demi sedikit, tidak hanya memahami tentang bacaan surat saja, akan tetapi beserta maknanya sekaligus.

Begitu besar keagungan Allah dalam segala hal. Semuanya telah diatur dengan sangat rinci dalam Al-Qur’an. Termasuk tentang penciptaan langit dan bumi beserta isinya.

Seperti kebesaran-Nya pagi ini. Begitu menakjubkan. Nikmat yang luar biasa masih diberi kesempatan melihat keindahan tiada tara, mendengar kicauan burung bersahutan, merasakan aroma kesejukan yang merangsuk jiwa.

Langit biru yang membentang, ditemani sinar mentari yang kian terang, awan putih seperti kapas saling berkejaran. Seulas lukisan wajah terpahat di bibirnya yang manis.

Lelaki itu seperti pagi biasanya terduduk di kursi taman belakang rumahnya. Menikmati segelas susu, berteman buku-buku. Aku dengan jelas memerhatikan dari balkon rumah. Menatap lekat sosok lelaki yang beberapa hari belakangan ini telah mencuri hatiku.

“Hai…,” teriakku mencoba memberanikan diri menegurnya.

Lelaki itu celingukan mencari-cari datangnya suara.

“Aku di sini,” teriakku lagi sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Entah kenapa aku begitu berani menyapanya, padahal kami baru sekali bertemu.

Lelaki itu akhirnya menemukanku. Tatapannya tajam menukik. Dingin dan sinis. Aku bergidik ngeri melihat pandangan yang tak biasa. Aku hanya bisa mengumbar senyum, tapi ia masih menatap dengan riak wajah yang sama.

Lelaki tampan yang hampir menabrakku kemarin seperti tak sama dengan lelaki yang kini tengah menatapku. Aku makin salah tingkah. Beruntungnya ia segera berlalu dari sana, dan masuk ke dalam rumah. Aku menghirup napas lega.

Ikut berlalu sambil tak melepaskan pikiran dari lelaki itu. Kenapa sikapnya bisa berubah dalam waktu cepat? Kemarin ia masih bersikap ramah dan sopan, tapi sekarang jauh berbeda. Tak ada pancaran bersahabat yang diperlihatkan. Kepalaku pusing. Segera kumenuju kamar mandi. Membersihkan diri dan akan mencari tahu sendiri kebenarannya.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.