Dua Lelaki (5)

Dua Lelaki (5)

Dengan tekad kuat, kuyakinkan hati untuk berkunjung ke rumah di sebelah. Ingin kupastikan siapa sebenarnya lelaki yang biasa kulihat setiap pagi dan petang, dan siapa pula lelaki bernama Andre itu.

Gerimis kecil mengiringi bias senja yang mulai berlalu. Meretas kutapaki waktu yang bergulir satu-satu. Berharap takkan salah kuputuskan cari tahu. Melangkah melewati pintu menuju rumah itu.

Dengan wajah santun menyambut kedatanganku, perempuan paruh baya itu tergopoh-gopoh, membuka pintu gerbang. Kubalas sapaan sopan penuh senyuman, bertanya tentang keberadaan Tante Sarah, sang pemilik rumah.

“Ibu kebetulan ada di dalam, Neng. Mari silakan masuk.”

Aku mengikuti langkahnya yang buru-buru. Setelah dipersilakan duduk di ruang tamu, Bi Lastri, yang biasa disapa itu, pergi menuju lantai atas.

Tak lama menunggu, seorang perempuan yang selalu terkihat anggun dengan kecantikan menawan itu datang, mengenakan gaun panjang warna hitam, dengan lengan sebatas siku.

“Halo Kinara, apa kabarmu, Sayang?”

Sembari menyalamiku, perempuan berambut panjang itu menyambut dengan suka cita.

“Alhamdulillah baik. Tante apa kabar?”

“Seperti yang kamu lihat, Tante juga baik.”

“Maaf ya, Kinara mengganggu Tante,” kataku tak enak hati, tapi kuberanikan diri mengatakannya. Demi sebuah misi.

“Tidak, Sayang. Kebetulan Tante akan makan malam, kamu makan di sini ya?”

Tanpa berpikir aku tersenyum senang. Makan malam? Itu berarti lelaki dingin itu akan ada di sana. Aku bersorak riang.

Dari arah belakang, Bi Lastri tampak berjalan menghampiri, menyampaikan jika makan malam telah siap tersaji.

Aku dan Tante Sarah berjalan menuju ruang makan. Dalam hati sebenarnya malu, tiba-tiba datang langsung diajak makan. Tapi demi sebuah jawaban, aku pantang pulang sebelum menang.

Tak berapa lama, seorang lelaki dengan wajah sedingin es itu melangkah acuh menuju meja makan. Ia tak berkata apa-apa, tak juga menyapa.

“Sayang, ini ada Kinara. Dia tetangga sebelah rumah kita yang baru pindah itu,” ujar Tante Sarah menjelaskan.

Lelaki itu tampak enggan menanggapi. Ia hanya menatap sekilas, tak bersahabat. Masih tanpa suara.

Tante Sarah tampak tak enak hati dengan sikap putranya terhadapku, aku hanya membalas dengan senyuman yang agak dipaksakan.

“Jangan sungkan memilih makanannya ya, Kinara, anggap saja rumah sendiri.”

Ucapan Tante Sarah membuatku merasa diakui. Sedangkan lelaki itu dengan diam mengambil sedikit nasi dengan menu capcay.

Kami menikmati makan malam dengan pikiran masing-masing. Sesekali kucuri pandang ke arah lelaki itu. Wajah yang sama, tapi sikap yang berbeda. Ada apa sebenarnya dengan lelaki yang kutemui dalam tempat dan waktu yang berbeda ini?

“Bagaimana makanannya, Kinara?” tanya Tante Sarah tiba-tiba.

Aku yang tengah memerhatikan lelaki di hadapanku ini merasa salah tingkah.

“Enak, Tante.” kataku singkat, sambil mengunyah lagi makanan yang masih tersisa di mulutku.

“Kenapa ibumu tak diajak kemari, kita mungkin bisa makan bersama,” ucapnya lagi, mencairkan suasana.

“Ibu dan Ayah tak ada di rumah, Tante. Mereka tengah menghadiri undangan koleganya Ayah.”

“Kinara tak ikut?”

“Tidak, Tante. Kinara baru pulang kuliah, jadi lebih memilih sendiri di rumah. Itulah sebabnya Kinara datang ke sini, ternyata sendirian cukup membuat Kinara kesepian.”

“Kinara bisa ke sini kapan saja, Tante tidak keberatan. Begitu pun Andra, dia malah bisa ada teman ngobrol. Iya ‘kan, Sayang?”

Tante Sarah menoleh ke arah lelaki itu. Ia hanya menatap datar, mengangguk pelan.

“Andra?” Aku semakin heran. Lelaki yang sudah dua kali bertemu denganku memperkenalkan dirinya dengan nama Andre. Apakah kedua lelaki ini kembar? Aku semakin penasaran.

“Tante punya anak kembar?” tanyaku akhirnya memberanikan diri. Rasanya sudah tak tahan meluapkan rasa penasaranku. Tapi yang semakin membuatku terkejut adalah ekspresi Tante Sarah.

“Anak kembar? Tante hanya memiliki satu anak, yaitu Andra,” ucapnya yakin.

Kepalaku semakin tak karuan. Penuh tanya menari-nari silih berganti. Jika Tante Sarah tak memiliki anak kembar, lalu siapa Andre, lelaki yang wajahnya mirip dengan Andra tapi sikapnya berbeda?

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.