Rames dan Literasi

Rames dan Literasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia rames berarti bercampur menjadi satu (nasi, lauk, sayur, dan sebagainya).

Bermacam-macam sayur dan lauk yang menemani nasi. Ada sayur tempe, kangkung, mi, dan sebagainya. Untuk lauk ada tempe, telur, ayam, ikan, dan lain-lain. Tapi bagiku lauk yang tepat untuk rames, ya, tempe mendoan. Kalau sudah dipasangkan dengan ikan atau ayam bukan rames lagi namanya. Itu pendapatku, lo hehehe.

Rames ini dikangenin. Jika hari raya atau hari libur tiba, di kotaku yang kecil, penjual rames akan disibukkan melayani pembeli yang bermobil-mobil. Seperti kakakku jauh-jauh datang dari Tangerang kadang pulang alasannya karena rindu rames, pengen makan rames!

Sewaktu aku masih SD, jika ibu tidak sempat memasak untuk sarapan anak-anaknya yang akan berangkat ke sekolah, rames jadi andalan. Kebetulan ada tetangga, Mak Sai namanya, yang berjualan rames. Hingga kini aku belum pernah menemukan rames seenak rames Mak Sai. Tempe dan mendoannya yang renyah, serta sayur tempenya yang pedas manis, belum pernah kutemukan tandingannya hingga kini. Sayang setelah Mak Sai meninggal, tak ada yang mewarisi ilmu Mak Sai ini. Putrinya, Mbak Upik, memilih untuk berjualan sayuran keliling. Masakannya memang enak, tapi bagiku tak seenak masakan ibunya.

Hingga kini rames tetap menjadi favoritku. Selain enak juga murah. Harga Rames yang biasa kubeli sekitar empat hingga lima ribu rupiah dengan isi nasi plus 2-3 macam sayur plus 1 tempe mendoan. Murah banget, kan?

Sebenarnya, ada sesuatu yang penting selain menu rames dengan harganya yang relatif murah itu. Yaitu bungkus rames! Biasanya selain dibungkus dengan daun pisang, rames dibungkus dengan kertas minyak, atau koran.

Yang hebat dari Mak Sai dan emak-emak penjual rames ini adalah ternyata tanpa sengaja mereka ini juga Pejuang Literasi!

Maksudnya begini nih hehe ….
Saat makan rames, tanpa sengaja mataku akan memandang bungkus rames yaitu KORAN. Tak peduli isinya hanya iklan jual beli, loker alias lowongan kerja, atau bahkan berita duka cita pasti akan kubaca. Hal itu ternyata menjadi suatu pembiasaan.

Dan kebiasaan “buruk’ itu hingga kini masih berjalan.
Jika sedang makan sendiri, aku akan sibuk mencari bacaan. Apa saja yang bisa kubaca. Tak ada koran pembungkus, bisa buka medsos. Hehehe ….
Bukankah membaca itu merupakan salah satu kegiatan Literasi?

rumahmediagrup//windadamayantirengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.