Dua Lelaki (6)

Dua Lelaki (6)

Kulangkahkan kaki menuju halaman depan rumah. Siang ini aku ada janji bertemu dengan teman kuliah, di cafe yang tak jauh dari rumah. Saat hendak menaiki motor, kulihat Andra hendak masuk ke mobilnya, bersama Pak Mamat, sopir pribadi keluarga itu.

Andra memandangku sekilas, dengan tatapan dingin tak bersahabat. Aku tak begitu menghiraukan sikap acuhnya itu, yang masih belum pergi dari pikiranku, mengenai lelaki yang berwajah sama, tapi sikap yang berbeda.

Kulajukan motor keluar dari halaman rumah, berlainan arah dengan mobil yang membawa Andra pergi. Selama setengah jam perjalanan kutempuh untuk sampai di cafe. Di sana kutemui Rena, temanku yang sudah lebih dulu datang dan menikmati segelas jus jeruk.

“Maaf ya, aku datang terlambat,” kataku seraya mengambil tempat duduk di depan Rena.

“Tak apa, aku baru sepuluh menit di sini.”

Setelah berbincang sejenak, seorang pramusaji membawakan pesanan yang dipesan tadi. Sedang asyik menikmati sepiring spageti, aku dikejutkan dengan sosok yang sudah tak asing lagi di mataku, tengah duduk sendiri sambil menikmati hidangannya.

“Andre!”

Aku merasa lelaki yang duduk tak jauh dari tempatku itu adalah Andre. Karena yang sempat kulihat sebelum pergi tadi, Andra memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru, sedangkan lelaki yang tengah kulihat mengenakan kaos hitam, dan gaya rambut itu, terlihat berbeda dengan Andra.

Rasa penasaranku kian membuncah. Aku akan mencari tahu sendiri, ada hubungan apa antara Andre dengan Andra? Jika mereka bukan saudara kembar, kenapa wajah mereka sangat mirip? Mungkinkah ada dua orang yang sama persis rupanya terlahir dari rahim berbeda?

Aku melangkah menuju kursi tempat lelaki itu duduk. Dengan hati berdebar, kucoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kebenarannya. Merasa ada yang memperhatikan, lelaki itu menoleh ke arahku.

“Maura?”

Lelaki itu terkejut melihatku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Hai Andre…,” sapaku ragu-ragu.

“Hai juga, sedang apa kau di sini?”

“Aku ada janji dengan temanku, kami sudah cukup lama di sini,” kataku sambil menunjuk meja tempatku duduk tadi.

Andre manggut-manggut sembari tersenyum. Sungguh lelaki yang berbanding terbalik dengan Andra. Lelaki yang ramah dan enak diajak bicara.

“Andre, bolehkah kutanyakan sesuatu padamu?” tanyaku mulai berani. Mungkin terlalu cepat menanyakan hal pribadi padanya, mengingat pertemuan kami yang baru dua kali. Tapi aku tak sabar mengetahui kebenaran yang ada.

“Tentu saja boleh, tapi sebelum itu, alangkah lebih baiknya kau duduk dulu.”

Aku mengikuti arahan Andre. Duduk di depannya semakin jelas melihat wajah Andre bak pinang dibelah dua dengan Andra, tetangga sebelah rumahku.

“Sekarang, apa yang kau ingin tanyakan padaku?”

Aku terdiam sesaat. Semoga pilihanku tak salah, melangkah lebih jauh hanya untuk mengetahui hubungan Andre dan Andra.

“Apa kau punya saudara kembar, Andre?” tanyaku hati-hati.

Lelaki yang tadi tampak serius menyimak, hanya tertawa mendengar pertanyaanku.

“Apa pertanyaanku salah?” tanyaku ragu.

“Tidak, Maura, pertanyaanmu tidak salah, hanya saja kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?”

“Karena tetangga sebelah rumahku memiliki wajah yang sama persis denganmu, hanya saja, sikap kalian sangatlah berbeda.”

Andre langsung terdiam. Seperti ada yang mengganjal pikirannya. Lama menunggu ia kembali bicara, tapi yang kusaksikan hanya keterpakuan seraya mengaduk-aduk minuman.

“Apa kali ini perkataanku salah, Andre?” tanyaku mulai tak enak hati.

Andre menatapku dengan sorot mata yang berbeda. Tajam dan menukik. Aku salah tingah dibuatnya. Haruskah kutinggalkan saja ia dengan kebungkaman yang meraja? Ataukah harus kubertahan demi sebuah jawaban? Kuputuskan untuk menunggu saja.

“Aku tak punya kembaran,” ucap Andre datar.

Aku merasa ada yang Andre sembunyikan, tapi aku tak ingin melangkah lebih jauh lagi. Biarlah seiring waktu, kucoba mencari tahu tanpa harus mendesak lebih dalam lagi.

Setelah berpamitan dengan Andre, aku langsung mengajak Rena untuk segera meninggalkan cafe. Memandang lelaki itu sekilas sebelum melangkah keluar, dan tatapan kami bertemu lalu menguar seiring kepergianku.

**

Di tengah malam yang sunyi, aku dikejutkan oleh teriakan yang melengking dari kejauhan. Kurapatkan selimut, hampir menutupi seluruh tubuh. Teriakan itu kembali terdengar melintasi indra pendengaranku disertai benda-benda yang menghantam dinding.

Semakin kuperdengarkan, kian jelas suara itu datang dari sebelah rumah, dan itu suara seorang lelaki. Andra? Segera kusingkap selimut dan berlari menuju pintu, membukanya dengan cepat menuju kamar Ayah dan Ibu.

Sebelum sampai membuka daun pintu, mereka sudah muncul dengan wajah keheranan.

“Itu suara dari sebelah rumah kita ‘kan?” tanya Ibu agak ketakutan.

“Sepertinya itu suara Andra, Bu,” kataku menambahkan.

“Ayah akan melihat keadaan di sana, siapa tahu mereka membutuhkan pertolongan. Pak Surya ‘kan sedang tak ada di rumah saat ini, dia ada tugas di luar kota,” ucap Ayah bergegas menuju lantai bawah.

“Aku ikut,” seruku sambil mengikuti Ayah dari belakang.

“Ibu juga kalau begitu.”

Kami pun memutuskan untuk menuju rumah Andra di tengah malam buta. Jam di dinding rumah sudah menunjukkan pukul satu lebih empat puluh menit.

Setelah memijit bel beberapa kali, dengan langkah tergesa Bi Lastri datang membukakan pintu gerbang. Wajahnya pucat pasi penuh ketakutan.

“Ada apa, Bi?” tanya Ayah segera.

“Den Andra ngamuk lagi, Pak,” ujar Bi Lastri gemetar.

“Bolehkah saya masuk, Bi?”

“Silakan, Pak. Bu Sarah juga sampai kewalahan menghadapi Den Andra.”

Kami pun masuk bersamaan, langsung menuju kamar Andra di lantai atas. Tante Sarah dengan bersimbah air mata langsung menghampiri Ibu, dan mereka pun berpelukan.

“Tenangkan dirimu ya, Jeng,” ucap Ibu sembari mengelus-elus punggung Tante Sarah.

“Saya takut terjadi apa-apa dengan Andra, Mbak. Ini sudah ketiga kalinya ia mengamuk, seperti tak sadar akan kelakuannya.”

Ayah yang sedari tadi masuk ke kamar Andra merasa terkejut dengan keadaan Andra yang membabi buta melempar segala benda yang ada di sekitar. Sudah ada Pak Mamat dengan usaha kerasnya mencoba menenangkan Andra, tapi sia-sia, lelaki itu seperti kerasukan.

Ayah tak bisa tinggal diam, dengan dibantu Pak Mamat, ia terpaksa melayangkan tinjunya tepat di pipi Andra, kala lelaki itu hendak menyakiti dirinya sendiri. Seketika Andra pun jatuh pingsan.

Segera Ayah menghubungi rumah sakit untuk memesan ambulans. Andra harus mendapatkan perawatan khusus, jika tidak, ia akan menyakiti dirinya kembali.

Malam yang sepi seketika berubah menjadi ramai di rumah keluarga Tante Sarah, saat sebuah ambulans membawa Andra yang masih pingsan, diiringi Tante Sarah mengikuti dengan mobil yang disopiri Pak Mamat.

**

Bersambung ….

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.