Dua Lelaki (7)

Dua Lelaki (7)

Dengan langkah perlahan, kuhampiri Andra yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kedua tangan yang kemarin masih terikat, sudah terlepas. Wajahnya terlihat lebih tenang.

Belum sempat kulangkahkan kaki ketika hendak meninggalkannya, saat sebuah tangan mencekal pergelangan tanganku. Aku terkejut dan menoleh, dengan tatapan sendu Andra memintaku untuk tetap tinggal.

“Temani aku di sini, Maura,” ucapnya lemah.

Aku mengangguk pelan, duduk di sebuah kursi samping pembaringan.

“Maafkan aku, Maura.”

“Untuk apa kau minta maaf padaku?”

“Untuk sikapku saat terakhir kali kita bertemu. Aku tak bermaksud membuatmu kecewa.”

Deg. Aku benar-benar tak menyangka dengan apa yang barusan aku dengar. Bagaimana bisa, lelaki yang kemarin mengalami depresi, akibat trauma mendalam atas kecelakaan yang menyebabkan kekasihnya meninggal, kini bicara mengenai perlakuan yang pernah dilakukan Andre?

Tubuh yang sekarang ada di hadapanku adalah milik Andra, lalu kenapa ia bisa bicara seolah ia adalah Andre? Apakah Andra dan Andre adalah orang yang sama? Mereka memiliki sifat berbeda dalam tubuh yang sama?

“Kau siapa?” tanyaku mencoba bersikap tenang.

“Aku Andre. Kau kenapa Maura?”

“Kenapa kau bisa di sini?” tanyaku lagi penasaran, tak memedulikan pertanyaannya.

“Aku mengalami kecelakaan, setelah pulang dari cafe kemarin.”

Aku semakin yakin, ada yang salah dengan Andra. Dalam ilmu psikologi yang aku pelajari, ada yang disebut Dissociative Identity Disorder (DID), yang sebelumnya dikenal dengan Multiple Personality Disorder atau yang biasa disebut kepribadian ganda, adalah kelainan di mana seseorang memiliki lebih dari satu identitas dalam satu tubuh.

Kemungkinan besar Andra mengidap kepribadian ganda, melihat dua karakter berbeda hidup dalam tubuh yang sama. Yang menjadi persoalan, apakah hanya aku yang menyaksikan sosok Andra yang lain dalam wujud Andre? Ataukah ada yang tahu selain aku? Satu hal yang pasti, aku harus membicarakan masalah ini dengan Tante Sarah.

**

“Bagaimana anak saya bisa mengalami kepribadian ganda, Dokter?” tanya Tante Sarah saat dokter menjelaskan keadaan Andra.

Aku yang ikut serta menemani Tante Sarah menemui dokter, ikut menyimak pembicaraan mereka.

“Kepribadian ganda bisa terjadi diakibatkan trauma yang mendalam. Saat seseorang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ada jiwa lain yang berusaha keluar dari dalam diri aslinya. Jiwa lain inilah yang terkadang mencoba mencari kepuasan, dalam hal ini kebahagiaannya sendiri.”

Penjelasan dokter telah menjawab rasa penasaranku. Tante Sarah yang merasa terpukul dengan kondisi putranya, hanya bisa menangis tergugu. Aku hanya bisa menenangkan dengan merangkul dalam pelukan.

**

Aku mengunjungi Andra untuk kedua kalinya. Ia tengah berdiri di dekat jendela, dengan pandangan menerawang.

“Mau apa kau ke sini?” tanyanya ketus, tahu akan kedatanganku.

Aku yang berada di balik punggungnya, meletakkan buket bunga di atas ranjang.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Sepertinya kau sudah membaik, aku akan pergi dari sini,” ucapku berbalik, hendak melangkah pergi.

“Tunggu dulu,” sergahnya cepat.

Aku kembali menoleh. Melihat Andra yang masih menatap keluar jendela.

“Mulai saat ini, jauhi mamaku, jangan campuri urusan keluargaku. Aku tak ingin melihatmu lagi di rumahku.”

“Apa hakmu melarangku menjauhi Tante Sarah? Lagi pula, aku tak pernah berniat mencampuri urusanmu atau pun keluargamu. Hanya sebatas berkunjung karena kita tetangga, apa itu salah?”

“Aku tak suka kau berada di rumahku atau dekat dengan mamaku. Apa pun alasanmu, tolong jauhi kami.”

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan, tapi satu hal yang perlu kau tahu, sedalam apa pun rasa sakit yang kau alami, tak ada penawar yang paling baik selain mau menerima orang lain dalam hidupmu, sebagai apa pun statusnya, dia yang akan menjadi tempat kau berbagi luka.”

Setelah berkata begitu, aku segera keluar dari kamar perawatan, meninggalkan Andra yang terlihat tercengang mendengar ucapanku.

Dengan langkah gontai, aku tersenyum senang. Menghadapi Andra memang harus bersikap tegas. Mendorongnya untuk berpikir, jika masih ada orang lain yang bisa diajaknya berbagi.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.