Rahasia Belahan Hati

Rahasia Belahan Jiwa
Endah Sulistiowati

“Kita minggu depan jadi ke Bromo kan Dek, ada fieldtrip mahasiswa baru yang harus kuurus, sekalian kita liburan.”

Sambil mengelus ujung kepalaku, dia berujar lembut. Aku hanya mendongak, lalu menganggukkan kepala. Sisa pertengkaran semalam masih terasa sakit direlung hatiku, lagi pula sudut bibirku yang pecah masih terasa perih.

Tuhan, hambamu ini terkadang tidak paham, tipe manusia seperti apa suamiku ini. Satu waktu sangat kejam laksana harimau menemukan mangsa, satu waktu lembut seperti malaikat. Kalau sudah begini hamba hanya pasrah pada-Mu. Hati kecilku hanya bisa merintih.


“Ayo Dek, cepat!” Seru Mas Adit sambil mengambil alih tas yang ku pegang.

Jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi hiruk pikuk peserta fieldtrip dikampus putih ini sudah membuatku berkeringat. Ada tiga bus dan satu mobil carry yang berangkat, dua bus milik kampus, dan satu lagi bus sewa. Para dosen tidak gabung di bus, karena tidak muat lagi. Jadi aku dan mas Adit pun ikut naik mobil dinas milik kampus. Pukul 05.30 kami berangkat menuju Probolinggo.

Jalanan masih cukup lengang ketika kami berangkat. Hanya butuh waktu dua jam saja, kami sudah tiba di Probolinggo. Rombongan berhenti sebentar di pom bensin, sekalian istirahat, bagi peserta yang mau ke toilet pun bisa menyelesaikan hajat mereka.


Fieldtrip kali ini meliputi tiga tujuan yaitu green house paprika milik alumni yang sudah berhasil, sekarang dia sebagai supplier paprika di kawasan tapal kuda. Kemudian berikutnya kebun anggur milik petani probolinggo, dan yang terakhir bakti social kepada penduduk lereng gunung Bromo sekaligus suamiku dan asistennya mengambil sampel tanah per ketinggian 1000 -2000mdpl, sebagai bahan tugas mata kuliah pertanahan untuk dianalisa kadar kesuburannya.

Aku pun adalah alumni Fakultas Pertanian di kampus putih ini. Jadi, aku sangat familiar dengan agenda fieldtrip ini, pun saat membantu para mahasiswa baru itu membuat catatan perjalanan. Karena pastinya setelah ini membuat laporan perjalanan akan menjadi tugas berikutnya.

Pukul 16.30 seluruh rangkaian acara selesai. Semua rombongan sudah berangkat, tinggal kami berdua disini. Kamipun menuju penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya untuk beristirahat malam ini.


Selesai sholat Isya, aku memindahkan semua foto hasil jepretan hari ini ke lepi (sebutanku untuk net book manisku), baik dari kamera digital ataupun dari memori smartphone, biar memori benar-benar ready digunakan dalam perjalanan besok. Aku sangat menggilai photography sejak mengenal dunia jurnalistik waktu kuliah semester tiga. FYI, aku pernah berfoto dengan Dahlan Iskan CEO nya Jawa Pos saat mengunjungi gedung Graha Pena di Surabaya, waktu itu aku sedang mengikuti training jurnalistik yang diadakan pabrik rokok terkenal yang berpusat di Kudus Jawa Tengah.

Lamunanku buyar tiba-tiba, saat terasa ada yang menjenggut rambutku keras.

“Apa-apaan ini, sudah aku bilang siapkan makan malam, malah asik main lepi saja.”

“Astagfirullah…, itu di meja sudah Adek siapkan dari tadi Mas.”

“Kenapa tidak bilang, hah!” Mas Adit berteriak sambil melotot, rambutku masi bergelung ditangannya, sakit sekali.

“Tadi Adek kan sudah bilang, tapi Mas masih sibuk dengan gawai.” Sahutku berusaha sabar.

Ya Allah ini kejadian ke empat selama satu bulan ini. Mas Adit berlaku kasar, diluar batas kewajaran. Siapa yang menyangka dia bisa bertindak seperti itu. Perangainya sangat lembut, penuh perhatian dan dia punya empati yang sangat tinggi terhadap kesulitan teman atau saudaranya, termasuk para mahasiswanya. Aku belum pernah bercerita sama siapapun, aku masih berusaha menyelesaikan urusan rumah tanggaku sendiri. Ya Allah semoga aku kuat, aku kembali merintih dalam hati.

Memang kami menikah sebagaimana tuntunan syari’at Islam, kami dita’arufkan oleh ustadzah tempatku mengkaji Islam selama ini. Sebenarnya kami pun pernah satu organisasi, aku tidak pernah melihat Mas Adit marah ataupun emosi. Yaaa, baru setelah menikah ini. Entahlah, ku tarik nafas dalam-dalam, hingga udara memenuhi rongga dada, kemudian pelan dan pasti kuhembuskan, kuulangi beberapa hingga hatiku berangsur tenang.


“Sarapan, Mas!” Tidak ada sahutan, tapi jika aku tinggal nanti marah lagi, Mas Adit masih sibuk dengan gawainya.

Aku letakkan bungkusan berisi sarapan yang aku beli di luar penginapan ini, di ujung jalan dari penginapan ini ada semacam pasar “krempyeng” orang kampung sini menyebutnya begitu, karena hanya buka dari jam 5-10 pagi. Penginapan tidak menyediakan makanan, hanya ada kompor dan dispenser saja.

“Mas…!”

“Mas, ayo sarapan dulu!” Ujarku sangat berhati-hati, takut memancing amarahnya.


Kami menuju pos pendakian ke gunung Bromo mengendarai motor tril yang kami sewa dari pemilik penginapan. Rencananya kami akan melakukan pendakian sore hari, sengaja agar bisa menunggu sunrise. Ini adalah pendakian pertamaku, tapi bagi Mas Adit ini sudah yang kesekian kalinya. Jadi, aku nggak banyak tanya, tinggal ngikut apa kata Mas Adit. Termasuk persiapan pendakian Mas Adit semua yang menyiapkan, aku hanya membantu.

Tepat adzan Ashar kami berdua tiba di pos pendakian, cuaca cukup bersahabat, setelah menitipkan motor, kami menuju mushola terdekat untuk menunaikan kewajiban. Banyak tawaran dari pemuda setempat untuk menjadi pemandu kami dan menyewakan kuda, tapi karena Mas Adit sudah pengalaman, kami memilih jalan kaki. Biar romantis katanya. Cie cie.


Kami melaksanakan sholat Magrib dan Isya diperjalanan menuju puncak Bromo, hamparan alam beratap langit, bagiku yang baru pertama kali mendaki gunung adalah sesuatu yang luar biasa. Bacaan tasbih tak henti-hentinya meluncur dari bibir ini.

Jelang tengah malam kami tiba di pos terakhir. Lelahnya pendakian terbayar lunas dengan indahnya hamparan lukisan Illahi. Allahu Robbii, diri ini merasa kerdil atas kebesaran-Mu, tidak layak bila ada kesombongan sebesar dzarrah pun dalam diri ini.

Selesai melepas lelah, Mas Adit pun mulai membongkar peralatan kemah. Aku membantu sebisanya. Setelah selesai menghamparkan sleeping bag dilantai kemah, kami pun terlelap sejenak.


Aku menggeliat, mencoba meluruskan otot dan tulang. Sayup-sayup telingaku mendengar suara orang tadarus Al-Qur’an, di alam terbuka begini membuat bulu kudu berdiri, merinding rasanya. Ku intip keluar tenda, meskipun aku tahu pasti itu suara suami ku.

Melihatnya begitu tenang, tidak pernah terbayang kalau dia mampu berbuat kasar pada ku, aku semakin yakin kalau sebenarnya suamiku itu sedang ada masalah, tapi apa? Ya Allah, aku berazam dalam diri aku akan disampingnya dalam kondisi apapun.


“Sudah bangun?” Akhirnya dia sadar aku perhatikan, aku hanya mengangguk pelan.

“Ini!” Disodorkannya minuman hangat dalam termos mini.

Aku segera beranjak mengikuti Mas Adit menuaikan sholat tahajud, aku berwudhu dari air yang kami bawa. Ya Allah, nikmat Tuhanmu yang mana yang Engkau dustakan. Air mata tiba-tiba meluncur jatuh, aku malu sekali, hanya masalah suami yang kadang kasar saja, sudah merasa menjadi wanita yang paling menderita.


Selesai sholat Shubuh kami segera mencari tempat terbaik, untuk mendapatkan view yang sempurna dari lukisan Illahi. Aku pasang kamera ditempat yang bisa looos mengabadikan sunrise tanpa penghalang.

Sungguh keindahan yang sempurna dan pengalaman yang menakjubkan bagiku. Allahu Akbar. Tiba-tiba tangan kokoh disampingku mengambil jemari ringkihku dan mengecupnya.

“Dek, Mas minta maaf ya, setiap Mas marah selalu kasar sama kamu. Tapi sunggu itu bukan keinginan Mas untuk berbuat begitu. Mungkin di usia satu tahun pernikahan kita, kenapa Allah belum berkenan menitipkan amanah anak ke kita, dikarenakan emosi Mas yang tidak stabil”

Sungguh, hatiku tersentak mendengar permintaan maafnya. Aku hanya diam, menunggu kelanjutannya.

“Jujur, Mas sebelum menikah tidak pernah mengalami hal ini. Marah-marah tidak jelas. Entahlah sejak ada Adek, rasanya nggak rela kalau adek memperhatikan yang lain padahal ada Mas di dekat Adek, habis itu rasanya dada ini kaya dihempas-hempas.”

“Ya Allah, Mas. Adek minta maaf ya, Adek akan bantu Mas seperti dulu lagi, Adek tidak tahu kalo sikap Adeklah yang memicu kemarahan Mas.”

Akhirnya bendungan air mataku jebol juga, aku menghambur kepelukan laki-laki gagah didepanku.


Sejak kembali dari pendakian gunung Bromo, kami mulai rumah tangga kami dari nol lagi. Kami saling terbuka, menceritakan segala aktivitas dan masa lalu kami. Berusaha saling memperhatikan dan mengingatkan, bahkan sampai hal yang sepele.

Hingga kami menemukan benang merah, pemicu emosi Mas Adit yang sepintas seperti orang dengan dua kepribadian. Pengabaian dari orang-orang terdekat terutama orang tualah yang menjadi pemicu emosinya saat ini, ketika aku istrinya ini seakan-akan juga mengabaikan kehadirannya.

Aku pun semakin sering searching masalah ini hingga aku menemukan tentang inner child. Banyak orang dewasa yang mengalami luka atau trauma pada masa kecil, tak menyadari bahwa mereka masih memiliki sosok anak kecil (inner child) yang tersakiti dalam diri mereka. Bila dibiarkan atau tidak disembuhkan, inner child bisa menjelma menjadi perasaan dan perilaku negatif ketika seseorang tumbuh dewasa.

Mas Adit terus instropeksi, demikian juga aku. Kami terutama Mas Adit berusaha menerima masa lalunya, dan berusaha memaafkan orang-orang yang terlibat didalamnya. Karena kami pun paham, orang tua kami tidak mungkin bermaksud mengabaikan kami, tapi hal itu terjadi tidak lebih karena ketidak pahaman beliau.

Alhamdulillah setahap demi setahap, masa-masa menegangkan itu telah berakhir. Allahu Robbii, sesungguhnya dalam kesulitan itu ada kemudahan.


Email: enliseksus0@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.