Gosip

Gosip

Menjelang tengah hari, sebuah mobil bak terbuka sarat dengan muatan memasuki halaman rumah yang baru direnovasi di pinggir jalan desa. Mobil itu berhenti tepat di depan teras berkeramik hitam itu. Pintu mobil terbuka. Turunlah seorang perempuan paruh baya yang terlihat masih gesit dan enerjik. Dia langsung menuju pintu depan yang terkunci. Dibukanya pintu itu dengan kunci yang dia ambil dari dalam tas kecil yang disandangnya.

“Barangnya diturunkan sekarang, Bu?” tanya sopir yang berdiri di samping mobilnya.

“Iya, Pak. Tapi tunggu sebentar ya, saya cari bantuan dulu,” jawab si empunya rumah sambil bergegas menuju rumah sebelah. Tak lama kemudian, ia kembali bersama seorang pemuda.

“Tolong bantu turunkan barang-barang Ibu ya, De!” pintanya pada pemuda itu sesampainya di dekat mobil.

“Iya. Mangga, Bu,” jawab pemuda itu seraya membantu sopir tadi membuka tali pengikat perabotan rumah tangga yang dibawanya. Tali itu diikatkan pada cantelan di pinggir bak mobil.

“Langsung bawa masuk, ya!” teriak pemilik rumah sambil melongokkan kepalanya dari pintu.

“Siap, Bu,” jawab sang sopir yang mulai berupaya menurunkan barang bawaannya itu. “Kalau bisa sih tambah lagi personilnya, Bu!” lanjutnya setengah berteriak.

Si Ibu yang punya rumah mendekat. “Di rumah ada siapa lagi yang bisa bantu, De?” tanyanya pada pemuda yang dibawanya tadi.

“Di rumah sih cuma ada ibu saya. Jam segini mah, bapak-bapaknya pada kerja, Bu,” jawab si pemuda. “Gimana kalau saya ajak teman saja, Bu?” tanyanya kemudian.

“Wah, kalau begitu sih alhamdulillah banget,” jawab si ibu dengan wajah sumringah.

Si pemuda langsung mengeluarkan telepon genggamnya. Dia memanggil temannya. Tak lama berselang, muncullah teman si pemuda tadi dengan mengendarai sepeda motor. Setelah memarkir motor di tempat yang agak teduh, dia menghampiri temannya yang sedang berdiri menunggu.

“Bantu nurunin perabotan nih, Bro!” kata si pemuda pada temannya.

“Siap, Bro!” jawab temannya sambil langsung membantu menurunkan sofa.

Tidak perlu waktu lama untuk memindahkan perabotan dari atas mobil ke dalam rumah.

“Minum dulu nih! Lumayan penghilang haus,” pemilik rumah menyodorkan minuman dalam botol kepada ketiga orang yang telah membantunya.

Tidak menunggu ditawari dua kali, isi botol itu sekejap kemudian telah berpindah ke dalam perut mereka.

“Sudah semua saya turunkan ya, Bu. Saya mau langsung kembali ke toko,” kata Pak sopir.

“Oh iya, Pak. Terima kasih ya, Pak.” kata si Ibu sambil menyodorkan sejumlah uang. “Lumayan buat beli camilan,” lanjutnya.

“Terima kasih banyak, Bu,” kata Pak sopir. “Saya pamit, Bu,” katanya pada pemilik rumah. “Ada yang mau ikut?” tanyanya kemudian pada kedua pemuda yang tadi membantunya.

“Tidak, Pak. Terima kasih,” jawab teman si pemuda.

Setelah memandu sopir untuk mengeluarkan mobi dari halaman ke jalan desa di depannya, si pemuda mengajak temannya itu ke rumahnya.

*

Sebulan sudah perempuan paruh baya yang bernama Ratih itu menempati rumah barunya di desa Sukarasa. Rumahnya kini telah dipenuhi oleh perabotan baru yang sengaja dia beli. Dia dikenal ramah dan dermawan oleh para tetangga barunya. Tidaklah mengherankan, jika dia mendapat simpati mereka. Akan tetapi, seperti rumus dunia yang selalu berpasanga, maka, selain yang bersimpati, ada pula yang merasa terganggu dengan kepindahan Ratih ke desa mereka.

Adalah Ningsih yang biasa dipanggil Bu Ning. Dia merasa gerah dengan kehadiran Ratih di desanya. Pasalnya, Ratih adalah mantan tunangan suaminya, Arja.

Lebih dari tiga puluh tahun lalu, Arja menjalin hubungan dengan Ratih. Arja pun sempat melamar Ratih. Sayang, mereka tidak sampai menikah. Badai mengguncang hubungan mereka saat Arja tiba-tiba berbalik membenci Ratih tanpa alasan yang jelas. Akhirnya, hubungan mereka kandas.

Tidak lama berselang, Arja menikahi Ningsih. Pernikahan mereka dibumbui kasak-kusuk warga bahwa Arja dipelet Ningsih. Di desa itu, keluarga Ningsih memang dikabarkan masih suka menggunakan ilmu hitam.

Ratih yang merasa tersakiti hatinya, bersikeras untuk ikut pamannya di Jakarta. Di sana Ratih berusaha melupakan kepedihan hatinya dengan membantu-bantu di restoran milik pamannya. Di situlah Ratih bertemu Arman, karyawan pamannya.

Cukup lama Arman berusaha meyakinkan akan kesungguhannya berniat memperistri Ratih. Trauma yang dialami Ratih akibat perlakuan Arja, membuatnya tidak mudah menerima kehadiran laki-laki lain di hatinya. Akan tetapi, setelah lebih dari satu tahun Arja meyakinkannya, akhirnya Ratih luluh juga. Mereka pun menikah.

Setelah menikah, Ratih dan Arja dengan dibantu pamannya, membuka rumah makan. Usahanya berkembang pesat. Dengan kehadiran tiga buah hati, rumah tangga mereka pun semakin terlihat tentram.

Sayangnya, ujian hidup kembali diterima Ratih. Arman yang begitu menyayanginya, terkena serangan jantung. Hanya sempat dirawat sehari, Arman pun dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. 

Sepeninggal suaminya, Ratih melanjutkan usaha rumah makannya. Ardian, si sulung yang baru saja berumah tangga, membantunya. Setelah melihat kesungguhan Ardian dalam menjalankan bisnisnya, Ratih mempercayakan pengelolaan rumah makan itu padanya. Ratih berniat kembali ke desanya. Setelah berembug dengan anak-anak dan menantunya, Ratih segera merenopasi rumah peninggalan orang tuanya. Rumah itu memang diwariskan pada Ratih sebagai anak bungsu.

**

Kehadiran kembali Ratih di desanya, membuat Ningsih kalangkabut. Dia cemburu pada Ratih. Tepatnya, cemburu buta. Mulailah dia berkasak-kusuk memprovokasi warga desa.

“Eh, tau ngga kalau si Ratih sekarang janda?” tanya Ningsih pada ibu-ibu yang sedang merubung tukang sayur. Ningsih mulai melancarkan rencana busuknya untuk menghasut warga.

“Memangnya kenapa kalau dia janda, Bu Ning?” Bu Euis balik bertanya. Dia sebetulnya paham akan niat buruk Bu Ning. Bu Euis tahu bagaimana dulu Ningsih merebut Arja dari Ratih.

“Ya, kita harus waspada. Jangan-jangan … dia kembali ke sini untuk mengganggu suami kita,” jawab Bu Ning.

“Masa iya Ratih seperti itu?” Bu Ratna yang dari tadi menyimak, mulai angkat bicara.

“Eeeeh … jangan salah. Dia itu kan janda kesepian. Pecicilan lagi,” jawab Bu  Ning ketus.

“Jangan suudzon ah, Bu. Saya lihat Bu Ratih anteng-anteng saja tuh di rumahnya,” Bu Tita, ibu pemuda yang dulu membant Ratih, ikut nimbrung.

“Jeeh… si Tita teh kumaha? Diam-diam menghanyutkan sih iya tuh si janda,” Bu Ning makin ketus. “Lagian, ngapain juga sih si Ratih pake ada acara kembali ke desa segala? Bukannya di kota itu lebih menyenangkan?” lanjutnya.

“Sepertinya Bu Ning perhatian sekali pada Bu Ratih. Kenapa, Bu?” Sarman, si tukang sayur ikut menimpali.

“Ah, diam kamu mah, Sarman! Anak kemarin sore, mana ngerti yang beginian,” sergah Bu Ning setengah membentak. 

“Ya, maaf atuh kalau saya salah bicara,” kata Sarman sambil menahan tawa. Dia paham betul karakter Ningsih yang mudah tersulut emosi.

“Pokoknya kita harus hati-hati! Jangan sampai si janda itu menggoda suami kita!” kata Bu Ning sekali lagi memprovokasi.

***

Semakin hari, Bu Ning semakin rajin berkasak-kusuk menghasut ibu-ibu di desanya agar mengucilkan Ratih. Akhirnya, kasak-kusuk Ningsih itu sampai juga ke telinga Bahar, kakak Ratih. Dengan membawa amarah, dia langsung menemui adiknya itu.

“Kamu dengar kasak-kusuk si Ningsih itu, Tih?” tanyanya.

“Iya, Kang. Banyak tetangga yang menyampaikan itu pada Ratih,” jawab Ratih tenang.

“Kok kamu bisa setenang  itu sih, Tih? Perempuan macam si Ningsih mah harus dilabrak, biar kapok,”  Bahar mencak-mencak.

“Biarkan saja, Kang. Percuma saja meladeni orang kayak gitu. Buang-buang energi saja,” kata Ratih dengan tetap tenang.

Hening sejenak.

“Kamu mah sabar pisan, Tih. Dulu si Arja direbutnya. Sekarang si Ningsih teh getol pisan nyebar gosip. Majar teh, Ratih mau merebut suaminya.” Arja mendengus. Meluapkan kemarahannya. Hatinya tidak menerima jika adik satu-satunya itu selalu saja disakiti Ningsih.

“Ratih mah sudah kebal, Kang. Biarkan saja dia seperti itu. Toh kita masih percaya Allah itu Mahaadil. Tidak perlu kita yang pasang badan bela diri kan, Kang. Nanti juga akan ada balasan untuknya.” Ratih menarik nafas. “Yaah … Ratih sih justru kasian pada Ningsih teh, Kang. Pasti dia capek banget tuh kasak-kusuk terus seperti itu. Hatinya pasti tidak akan pernah tenang. Lah … dia sendiri kan yang dulu merebut Arja? Mungkin dia selalu berpikiran bahwa Ratih pun akan berlaku seperti dia,” paparnya.

“Ya sudah. Kalau kamu berpikiran seperti itu, Akang juga tidak bisa memaksa. Tapi kamu tetap harus hati-hati. Si Ningsih bisa saja nekat mencelakai kamu dengan ilmu hitamnya,” Bahar mewanti-wanti.

“Astaghfirullah, Kang! Tidak boleh suudzon kayak gitu,” tukas Ratih.

“Tih … Tih, hati kamu terbuat dari apa sih? Orang jahat kayak si Ningsih, masih saja kamu baikin,” Bahar menghempaskan tubuhnya ke sofa.

“Atih sangat berterima kasih pada Akang, juga Teteh, istri Akang, yang telah begitu perhatian pada Ratih. Sekarang, Ratih mohon pada Akang, tenangkan si Teteh agar tidak terpancing oleh kasak-kusuk Ningsih. Bantu Ratih dengan doa agar tetap tegar. Ya Kang,” kata Ratih dengan suara yang bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ada rasa perih di hatinya. Bukan karena perlakuan Ningsih, tetapi karena tidak tega jika kakak dan iparnya turut terganggu karena ulah Ningsih “Semoga Ningsih segera mendapat hidayah agar kita bisa hidup dengan tenang ya, Kang,” katanya kemudian.

“Aamiin,” jawab Bahar singkat.***

#cerpen_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.