Peri Danau Wildsee

Dongeng Jerman

            “Aku adalah anak gembala. Selalu  riang  juga gembira. Karena aku rajin bekerja. Tak kenal lelah …. Syaaa  lalaaa, lala, lalaaa. Syaa  lala, lala, lala lala!”, senandung Penggembala Biri-Biri dengan riang sambil sesekali meniup seruling.

            Tiba-tiba terdengar sayup bunyi harpa  dengan alunan yang pas sekali mengiringi senandungan Sang Penggembala Biri-Biri.            Sang Penggembala Biri-Biripun penasaran. Tergeraklah untuk mencari sumber suara  harpa tersebut. Kemudian beranjaklah ia menuju segala penjuru tempat menggembala Biri-Biri. Sampailah ia di pinggir Danau Wildsee.

            Harum semerbak memenuhi tepian Danau Wildsee. Oh ternyata ada bunga mawar di tengah danau dan, terpanalah Sang Penggembala Biri-Biri melihat gadis cantik sedang memainkan harpa.

            Gadis tersebut merasakan kehadiran Sang Penggembala Biri-Biri. Ia pun terkejut tatkala melihat sorot mata Sang Penggembala Biri-Biri menatapnya. “Hai, namaku Meline. Tolong jangan panggil namaku, maka danau ini akan menjadi kuburanmu”, seru Meline kemudian menghilang.

            Sang Penggembala Biri-Biripun terdiam, merasakan kesedihan dan rasa jatuh cinta yang bersamaan. Sedih karena baru saja merasa jatuh cinta tapi, Meline sudah menghilang. Berhari-hari sang Penggembala Biri-Biri dirundung duka. Menggembalakan biri-biri tidak semenyenangkan dahulu. Kini yang ada rasa hampa dan sedih tiada tara.

            Pada suatu senja, Sang Penggembala Biri-Biri bertemu dengan kakek tua yang turut merasakan kesedihannya. “Hai, Nak! Pergilah engkau dari sini. Bila Engkau tetap disini, maka Engkau akan mati”, begitu saran Sang Kakek.

            Namun, Sang Penggembala Biri-Biri tak menghiraukan nasihat Sang Kakek. Rasa rindu terhadap Meline membawa Sang Penggembala Biri-Biri ke tepian Danau Wildsee. Iapun memanggil-manggil Meline. Namun, tak kunjung ada jawaban. Tetiba muncullah bunga mawar di tengah danau dengan harum semerbaknya. Sang Penggembala Biri-Biripun meraih bunga mawar tersebut. Dan tubuhnya terpeleset, sampai akhirnya tenggelam di tengah Danau Wildsee, membawa rindu kepada Meline.

Pesan Moral : Hendaknya kita mendengarkan dan melakukan nasihat dari orang tua.

rumediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar pexels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.