Rasa Sakit Terbayar Lunas

Rasa Sakit Terbayar Lunas

Tak pernah terbayangkan oleh Kemala, akan mengalami nasib ditinggal pergi oleh suami yang selama ini ia kasihi sepenuh hati. Ia pikir lelaki tampan rupawan bak pangeran itu, akan menerima perempuan sederhana seperti dirinya.

Namun ternyata, semua itu hanya semu belaka. Lelaki yang ia puja setengah mati, yang ia bela mati-matian di hadapan ayah ibu, hanyalah mengejar harta peninggalan almarhum suaminya terdahulu.

Kemala terluka. Rasa sakit penghianatan suaminya hanya bisa ia terima dengan sakit yang berdarah-darah. Tak bisa berkata-kata, tak dapat berbuat apa-apa.

“Kau pikir aku mencintaimu tulus, Kemala? Ngaca kamu. Wajahmu yang pas-pasan itu takkan pernah menarik perhatianku. Kulitmu yang hitam itu pun sebenarnya membuatku muak. Entah apa yang suami kaya rayamu itu lihat dari dirimu. Aneh aku.”

Perkataan Haris begitu menghujam jantung Kemala. Perih tersayat-sayat berhasil membuat perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu meringis. Tangis sudah membasahi wajahnya. Hancur sudah harapan membangun rumah tangga bahagia.

“Tega kamu bicara seperti itu, Bang. Kamu pikir aku tak punya hati, yang bisa kau perlakukan sesukamu,” isak Kemala menahan lara.

“Masih untung aku mau menikahimu, Mala. Kalau bukan karena hartamu yang berlimpah, takkan mungkin aku mau seranjang denganmu,” teriak Haris sambil menudingkan jari telunjuk di depan Kemala.

“Kau jahat, Bang. Aku mencintaimu sepenuh jiwa, menerimamu meski pengangguran, menghidupi seluruh keluargamu dengan uangku, masih saja kau tega melukaiku seperti ini.”

Kemala mulai emosi. Nada bicaranya pun mulai meninggi.

“Itu deritamu, aku tak peduli, yang jelas aku bisa melakukan apa pun sesuka hati. Kau tak bisa mencampuri,” ujar Haris tersenyum sinis.

“Cukup, Bang. Aku terima kau berkata kasar padaku, tapi aku takkan terima kau mengkhianatiku. Sudah cukup penderitaanku. Lebih baik kita pisah saja.”

Kemala sudah tak tahan lagi. Meski sulit mengatakan itu, tapi ia tak punya pilihan lain. Haris sudah sangat keterlaluan. Ia tak mau lagi tersakiti. Pilihan sudah dijatuhkan, tak bisa lagi ia pertahankan pernikahan yang sudah tak ada kasih sayang.

“Baiklah, aku setuju. Tapi kau ingat satu hal, rumah dan pabrik sepatu sudah atas namaku, jadi kau tak berhak lagi memilikinya. Aku masih berbaik hati padamu, silakan kau ambil sepetak sawah untuk melanjutkan hidupmu.”

Semakin nyeri rasanya hati Kemala. Buah kebodohannya telah memercayai lelaki seperti Haris, ia harus kehilangan harta peninggalan almarhum suaminya dulu.

Kemala dengan rela menandatangani surat balik nama rumahnya menjadi atas nama Haris kala pabrik sepatu membutuhkan suntikan dana untuk menopang kekurangan modal.

Rumah tergadaikan, pabrik pun mau tak mau dipindah tangankan atas nama lelaki itu, karena kebutuhan administrasi bank.

Setelah pernikahan mereka setahun yang lalu, Kemala memang memercayai Haris untuk meneruskan usaha pabrik sepatu. Lelaki itu memang cekatan dan ulet. Setelah pabrik yang hampir kolaps sepeninggal almarhum suaminya dulu, Harislah yang mengurus kembali dari nol.

Hingga tambahan dana cair, kondisi pabrik pun mulai membaik, bahkan terlihat perubahan yang signifikan. Sampai cicilan rumah yang tergadaikan pun bisa dilunasi dalam waktu enam bulan.

Kemala tak berdaya. Ia tak punya kekuatan hukum untuk mempertahankan hartanya. Haris lebih pintar merencanakan semuanya dari awal. Sampai ia tak menyadari jika cinta dan perhatian lelaki itu hanyalah palsu. Kemala pun pasrah.

***

Setahun berlalu dari pandangan. Dengan bermodalkan sepetak sawah, Kemala melanjutkan hidup dan pindah ke kota lain. Ia mulai membuka usaha kecil-kecilan. Keahliannya memasak ia jadikan hobi yang menghasilkan.

Dalam hitungan setahu saja, usaha kemala mengalami kemajuan. Tak lagi warung kecil yang ia kelola, akan tetapi sebuah restoran besar yang terkenal akan kelezatannya yang ia jalani kini.

Tidak hanya itu, atas saran dari salah satu pelanggannya, Kemala menjalani serangkaian perawatan tubuh. Wajahnya yang dulu pas-pasan, kini berubah menjadi perempuan cantik jelita bak bidadari.

Kemala yang sedari perawan telah menggunakan hijab, makin terlihat pancaran kecantikan dari wajahnya yang rupawan.

Lelaki yang kini tengah berdiri di hadapan Kemala merasa takjub dengan kecantikan perempuan dengan senyum menawan itu.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya Kemala lembut.

Lengkung bibirnya semakin membuat lelaki itu tak berkedip. Ia hapal betul siapa lelaki itu, tapi sebagai seorang tamu, Kemala patut memperlakukannya sopan.

“Cantik,” ucap lelaki itu menuai senyum menggoda.

“Maaf ya, Bang, jika kau sudah tak punya keperluan di sini, silakan kau tinggalkan tempat ini,” ujar Kemala menahan kesal.

Lelaki itu terkejut seketika. Gaya bicara itu seperti pernah dikenalnya. Kembali ia tatap lekat wajah perempuan di depannya. Ia terkesiap ketika menyadari jika itu adalah Kemala, mantan istrinya.

“Kemala?”

Kemala menarik bibirnya melebar, memperlihatkan gigi-giginya yang berderet putih bersih.

“Syukurlah kalau kau masih mengingatku, Bang.”

Lelaki itu masih tak percaya. Digosok-gosok kedua mata dengan tangannya. Perempuan itu memang Kemala, yang telah menjelma menjadi perempuan cantik dan menawan. Haris berdebar.

“Kau benar-benar Kemala rupanya? Benar-benar telah berubah sekarang. Kau sangat cantik.”

Kata-kata lelaki itu tak membuat Kemala tersipu.

“Jika Abang sudah tak ada lagi kepentingan di sini, silakan keluar dari restoranku, dan jangan pernah kembali lagi.”

Tak lama kemudian, ia memberi kode dengan tangannya pada seorang satpam yang berdiri di luar pintu, untuk membawa lelaki menyebalkan itu keluar dari restoran.

Satpam pun dengan sigap menyeret paksa lelaki yang meronta itu, keluar dari restoran. Sementara Kemala menatap sinis mantan suaminya itu.

‘Aku memang pernah terluka karena perlakuan burukmu, Bang. Tapi dengan semua itu, aku belajar banyak hal, tak mau lagi tertindas dan terhina. Semoga kau bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi,’ bisik Kemala pilu.

SELESAI

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.