Arti Pengalungan Medali

Arti Pengalungan Medali

Pandemi corona telah memporak-porandakan rencana yang telah disusun begitu matang. Pandemi ini telah membuat demikian banyak hati kecewa. Demikian pula yang pernah menimpa para guru dan para siswa kami.

Sudah menjadi tradisi, setiap tahun ajaran, selalu dilaksanakan acara perpisahan dengan siswa kelas IX yang baru lulus. Acara perpisahan ini digelar berdasarkan keputusan rapat antara pihak orang tua siswa, komite, dan pihak sekolah. Dalam hal ini, orang tua siswalah yang bertindak sebagai panitia penyelenggara kegiatan tersebut. Ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu perpisahan di sekolah atau di luar sekolah.

Jika disepakati perpisahan di sekolah, maka hal yang paling dinantikan adalah prosesi penglepasan. Dalam prosesi itulah digelar acara upacara adat, sungkeman dan pengalungan medali alumni.

Jika perpisahan di gelar di luar, biasanya dilaksanakan sekaligus dengan kegiatan studi wisata. Acaranya digelar di aula penginapan atau di tempat wisata dengan inti acara prosesi penglepasan sederhana. Dalam prosesi itu, acara pengalungan medalilah yang paling mereka tunggu.

Belakangan ini, pihak sekolah sempat dibuat repot oleh aturan tentang perpisahan ini. Acara perpisahan dianggap sebagai kegiatan yang berpotensi akan adanya pungutan liar. Makanya, ketika digelar acara seperti itu, berdatanganlah mereka yang mengatasnamakan LSM. Mereka datang untuk mencari-cari kesalahan. Padahal jika dilihat dari prosedur dan susunan kepanitiaannya, jelas bahwa pihak sekolah tidak melakukan kesalahan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ajaran 2019/2020 pun disepakati untuk mengadakan perpisahan. Orang tua siswa sepakat untuk menggelar perpisahan itu dalam rangkaian acara studi wisata. Rencananya akan dilaksanakan di Jogjakarta pada awal Juni setelah Idul Fitri, sebelum kegiatan Penilaian Akhir Semester bagi kelas VII dan VIII.

Manusia hanya berencana, Tuhan juga yang menentukan segalanya. Jargon itu sangatlah sesuai untuk kondisi kami saat itu. Pandemi corona telah mengubah banyak hal. Pembelajaran tidak lagi bisa dilakukan secara tatap muka. Pembelajaran diterapkan melalui jarak jauh (PJJ). Bahkan, kelas IX pun tidak jadi mengikuti UNBK. Kkarena itulah maka mereka dijuluki siswa yang lulus tanpa ujian

Pandemi juga telah membuat acara studi wisata sekaligus perpisahan itu gagal total. Pemberlakuan karatina wilayah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat kami tidak mendapat izin untuk melakukan kegiatan itu. Tentu saja yang paling kecewa dalam hal ini adalah para siswa itu sendiri. Kandas sudah harapan mereka untuk mengikuti studi wisata dan perpisahan dengan teman-temannya.

Para siswa memohon agar tetap diadakan perpisahan meskipun dengan sangat sederhana. Mereka pun siap untuk tetap mengikuti protokol kesehatan covid-19. Mereka hanya menginginkan adanya prosesi pengalungan medali. Akan tetapi, Kepala Sekolah tetap tidak
mengizinkannya. Benar-benar kandaslah harapan mereka.

Waktu terus melaju. Mereka pun mulai fokus pada pembelajaran daring di sekolah mereka sekarang. Ketika pihak sekolah mengundang untuk mengambil ijazah, terbit kembalilah keinginan mereka untuk dikalungi medali oleh wali kelas mereka dulu.

Banyak dari mereka yang mengirim pesan WA kepada mantan wali kelas mereka dan kepada ketua OSIS untuk meminta digelarnya acara pembagian ijazah dan pengalungan medali. “Masa sih pake medali sendiri. Sedih banget deh, ga ada kenangan sama sekali.” begitulah dalih mereka.

Tuntutan mereka sangatlah sederhana. Mereka hanya ingin punya kenangan dikalungi medali alumni oleh mantan wali kelasnya.

Setelah berembug dengan dewan guru, maka kepala sekolah pun akhirnya mengizinkan untuk menggelar acara pembagian ijazah sekaligus pengalungan medali kepada mereka. Itu pun dengan aturan ketat. Acara digelar per kelas dengan waktu berbeda. Kepala sekolah pun mewanti-wanti agar tetap dilaksanakan protokol kesehatan covid.

Karena kesigapan pembina kesiswaan dan kekompakan pengurus OSIS, kegiatan yang semula akan digelar cukup dengan pengalungan medali dan pembagian ijazah saja, akhirnya digelar dengan cukup meriah. Mata para lulusan kelas IX tahun ajaran 2019/2020 itu sempat berkaca-kaca saat menyimak kata-kata sambutan dari kepala sekolah dan wali kelas. Setelah itu, mereka berfoto sepuasnya pada spot foto yang telah disiapkan pengurus OSIS.

Bahagia sekaligus terharu melihat wajah-wajah sumringah mereka. Jelas terlihat bahagia di hati mereka. Apalagi uang mendapat peringkat tiga terbaik. Pengalungan medali mereka langsung dilakukan oleh kepala sekolah.

Meski waktu yang diperuntukkan bagi mereka telah lama berakhir, mereka masih betah duduk-duduk di teras kelasnya dulu. Hingga harus berkali-kali meminta mereka untuk segera pulang agar tidak terjadi kerumunan. Meskipun belum terpuaskan rasa kangen pada almamater dan teman-temannya, akhirnya mereka pun beranjak pergi meninggalkan sekolah dan guru-guru yang selama tiga tahun lalu mendidik mereka.

Tersentuh hatiku melihat betapa bangganya mereka berkalung medali dan menyandang map berisi dokumen hasil belajar mereka selama tiga tahun itu. “Selamat jalan, Nak. Selamat berjuang untuk meraih mimpi besar kalian!” batinku.***

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.