Sosok tak Bermata

Sosok tak Bermata

Kami baru saja selesai salat isya saat ada yang mengetuk pintu depan. Segera kuberanjak dari tempat salat untuk membukakan pintu. Seorang pria berdiri tepat di depan pintu. Kak San, sepupuku.

“Eh, Kak San! Masuklah!” ajakku sambil memberinya jalan untuk masuk.

Dia buru-buru masuk lalu duduk di sofa ruang tamu. Tangannya terlihat agak gemetaran. Tatapan matanya agak beringas seperti orang ketakutan. Aku menyodorkan segelas air putih. Dengan sigap, dia mereguknya hingga habis. Aku hanya memandanginya dengan heran. Kubiarkan dia menenangkan diri dulu.

“Aku barusan mengantar ibumu,” katanya tiba-tibadengan suara tersengal membuatku tersentak.

“Maksud Kak San?” Aku menatapnya menunggu jawaban.

“Tadi ibumu menengok rumahnya dulu. Lalu, dia memintaku mengantarnya ke rumahnya yang sekarang,” jawabnya.

Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya barusan. Ibu menengok rumahnya dulu, lalu minta Kak San mengantarnya pulang ke rumahnya yang sekarang? Bagaimana itu bisa terjadi? Aku memang pernah mendengar jika dia punya indera ke enam sehingga bisa melihat makhluk halus. Tapi, mengapa yang dia ceritakan itu ibuku? Baru beberapa minggu ibuku meninggal. Apakah benar yang dikatakan orang bahwa sebelum empat puluh hari, orang yang telah meninggal masih bisa ke sana ke mari? Pengetahuanku yang teramat sedikit mengenai hal demikian membuatku semakin bingung.

“Kalau benar Ibu, mengapa pulangnya minta diantar Kak San?” tanyaku. Aku tidak bisa menyembunyikan ketidakmengertianku itu.

“Kata ibumu, Kak San ini pemberani. Makanya dia meminta diantarkan,” jawabnya.

“Siapa yang minta diantar pulang?” tanya suamiku yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah. Dia duduk di sampingku.

“Kata Kak San, tadi Ibu nengok rumahnya dulu. Lalu, pulangnya minta diantar Kak San,” kataku menjelaskan.

“Lho, kok bisa?” Suamiku terperangah.

“Orang yang baru meninggal memang masih bisa jalan-jalan. Malah beberapa hari lalu, ibumu juga cerita bahwa dia sempat berjalan-jalan ke Bogor dengan teman-temannya satu mobil elf. Kak San menambahkan ceritanya yang membuatku semakin tidak mengerti.

“Ibu sempat ngomong apa saja ke Kak San?” tanyaku penasaran.

“Kak San cerita kalau Kak San punya utang padamu. Kata ibumu, kalau belum punya untuk bayarnya, ya ga usah bayar dulu,” jawabnya.

“Ya … kalau memang belum ada, ya ga apa-apa,” timpalku. Entah kenapa, saat itu, aku percaya saja dengan apa yang dikatakannya. Aku tiba-tiba jadi kangen pada Ibu. Ada juga rasa kecewa yang muncul dalam hati, mengapa Ibu malah menemui Kak San, bukannya aku? Tapi segera aku sadar, bahwa aku tidak mungkin bisa melihatnya.

“Sekarang Ibu di mana?” tanyaku lagi.

“Dia ada di sini,” jawab Kak San membuatku dan suami terkejut.

Aku celingak-celinguk mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tamu. Tidak melihat atau merasakan tanda-tanda hadirnya ibuku di situ.

“Dia minta segera diantarkan pulang,” lanjut Kak San.

“Ayo, kita antar,” sahutku spontan.

Tanpa melihat sosoknya, aku dan suami menyertai Kak San yang katanya mau mengantar Ibu ke rumahnya sekarang yang letaknya memang tidak begitu jauh dari rumahku. Kami berjalan di keremangan malam melalui jalan kecil yang baru beberapa waktu diaspal. Di kanan kiri jalan terhampar sawah yang terlihat seperti hamparan tanaman padi yang berdiri kaku di kegelapan. Tidak memerlukan waktu lama untuk tiba di rumah baru ibuku. Sebentar kemudian, kami telah berlulut di samping gundukan tanah merah di bawah naungan pohon kemboja yang lumayan besar. Suara “plak-pluk” bunga kemboja yang jatuh menimpa tanah, memecah keheningan malam yang mulai larut itu.

Andai saja aku bisa melihat ibuku, ingin sekali aku meluapkan rasa rinduku padanya. Suamiku mengajak berdoa untuk arwah Ibu agar tenang beristirahat di rumah barunya. Selesai berdoa, suamiku mengajak kami untuk segera beranjak meninggalkan tempat itu. “Ibu, kami pamit pulang,” bisikku sambil memegang papan kayu jati yang belum lama menjadi ciri rumah baru ibuku.

Sepanjang perjalanan pulang, tak satupun dari kami yang angkat bicara. Kaki kami berjalan seiring pikiran kami yang sepertinya sama-sama mengingat kejadian yang baru saja kami alami. Setiba di rumah, kami langsung masuk. Sementara Kak San berjalan cepat menuju rumahnya yang lumayan jauh dari rumah kami. Diajak mampir pun dia menolak. Katanya ingin segera tiba di rumah untuk beristirahat.

Sebelum kembali duduk di ruang tamu, aku melongok ke kamar. Kulihat anakku tidur begitu lelapnya.

“Ayah percaya apa yang dikatakan Kak San?” tanyaku pada suami sambil duduk di sampingnya.

“Ah … entahlah. Ayah tidak begitu mengerti tentang hal-hal seperti itu. Besok akan Ayah tanyakan pada teman yang sedikit banyak tahu tentang hal demikian,” jawabnya.

“Iya, Yah. Tanyakan padanya apakah benar itu Ibu atau yang menyerupakan Ibu. Atau …,” aku tidak melanjutkan kalimatku.

“Atau apa?” tanya suamiku.

“Ayah curiga ga sih kalau tadi tuh akal-akalan Kak San karena belum bisa bayar utang?”

“Sempat kepikiran gitu juga sih,” timpal suamiku.

“Kalau dugaan kita benar bahwa itu sekadar akal-akalan Kak San agar terhindar dari bayar utang, kebangetan ya, Yah,” gerutuku.

“Iya. Tapi kita jangan suudzon dulu. Di sinilah perlunya kita banyak belajar agar tidak ragu-ragu begini. Sudah ah, sudah malam. Ambil air wudu sekalian cuci tangan dan kaki, lalu kita tidur,” ajak suamiku.

Aku hanya bisa mengangguk lalu mengikuti langkahnya.

***

“Sudah tanyakan tentang kejadian semalam pada teman Ayah itu?” tanyaku pada suami yang baru saja tiba di rumah.

“Sudah tidak sabar menunggu jawabannya ya?” suamiku balik bertanya sambl menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

“Iya, yah. Bunda ingin segera tahu jawabannya,” kataku sambil menyodorkan secangkir teh hangat padanya.

“Kata teman ayah, hati-hati dengan hal demikian. Bisa saja itu jin yang menampakkan wujud seperti ibumu. Dia ingin menjerumuskan agar kita musyrik,” kata suamiku.

“Oh, begitu ya, Yah?” aku manggut-manggut.

“Tapi, kata dia juga, memang terkadang dalam kondisi tertentu ada juga penampakan dari orang yang sudah meninggal,” lanjut suamiku.

“Jadi, bagaimana cara membedakannya, Yah?” tanyaku makin penasaran.

“Tatap wajahnya. Jika bagian matanya rata … emmm maksudnya tidak ada matanya, maka itulah penampakan dari yang sudah tiada.”

“Tidak bermata?” tanyaku setengah berteriak. Aku bergeser merapatkan tubuhku padanya. “Kenapa jadi horor gini? Matanya … matanya ke mana emang?” kepegang erat lengannya.

“Kata dia, mata itu untuk yang masih hidup. Kalau sudah meninggal, tidak perlu mata lagi,” jawabnya santai seolah tidak mempedulikanku yang makin bergelayut di lengannya sambil gemetaran.***

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.