Beristigfar Bila Pembelajaran Daring Memicu Emosi

Beristigfar Bila Pembelajaran Daring Memicu Emosi


Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiun.
Viral berita seorang ibu di kabupaten Lebak Banten menganiaya anak perempuannya yang masih duduk di  kelas 1 SD hingga tewas, karena kekesalan pada putrinya yang susah diajarkan belajar secara daring.

Kondisi si ibu yang diperkirakan stress karena selain mendampingi putrinya belajar daring, juga mengurus seluruh keperluan rumah tangga. Sang ayah yang harusnya sebagai pelindung si anak tak  berbuat apapun, cuma memarahi istrinya dan malah mengantarkan ke kampung istrinya untuk menguburkan mayat putrinya. Namun, dikarenakan terburu-buru untuk menghilangkan jejak, mayat putrinya hanya dikuburkan idengan pakaian yang  sedang dipakai ketika dianiaya. Penduduk kampung curiga dan membongkar kuburan baru karena tidak ada berita kematian sebelumnya, dan terkejut dengan kondisi mayat masih dengan pakaian lengkap.

Beban pembelajaran anak-anak SD memang sejauh yang saya perhatikan di lingkungan tempat tinggal, agak berlebihan  kadar pencapaian target belajarnya. Tiap hari harus gabung di platform belajar Zoom hanya untuk absensi dilanjutkan dengan tagihan hafalan yang dipresentasikan si anak di depan kamera. Ditambah dengan ketidak-pahaman si anak dalam mengerjakan aneka tugas mata pelajaran lainnya yang tak kalah sulit, yang sering memicu amarah orang tua (ibu), karena ibu lebih dominan sebagai pendamping anak-anak tingkat TK-SD belajar daring.

Keputusan pak menteri  untuk melaksanakan merdeka belajar agaknya perlu lebih dipahami para pendidik, dimana dalam kondisi pandemik ini menjadi serba darurat. Pencapaian target belajar tak harus sama ketika kondisi non pandemik, bahkan harus lebih ringan pengerjaan tugas-tugas kepada peserta didik.

Semua pihak terkait pembelajaran daring sang anak, baik itu orang tua maupun guru perlu lebih mengedepankan kepatuhan anak-anak kita pada jam-jam belajar yang sudah ditentukan, dan memberikan target menyelesaikan tugas yang tidak terlalu cepat.

Ada pendapat bahwa pendidikan karakter yang sudah susah payah diterapkan sejak kurikulum 2006 sampai berganti ke kurikulum 2013, perlahan memudar sejak berlaku belajar dari rumah (BDR), anak-anak SMP di pelosok kampung yang tidak punya paket kuota internet lebih memilih nongkrong, main dengan sekelompok teman yang tak manfaat, berteriak-teriak di pinggir jalan, mengecat rambut menjadi pirang, bingung mengekspresikan diri tanpa ada sentuhan berupa teguran guru dengan kasih sayang seperti ketika PTM, pembelajaran dengan tatap muka di ruang kelas.

Butuh kesabaran ekstra memang untuk menjalankan berbagai aktifitas serba terbatas di masa pandemik, khususnya peran ibu dalam mendampingi putra-putrinya belajar daring. Perbanyak istigfar dan selalu memahami bahwa kondisi belajar daring tentunya jauh dari hasil yang diharapkan paling ideal, yang membuat guru dan orang sering terpicu emosi.

Situasi sulit belajar daring tidak hanya dihadapi oleh ibu-ibu di Indonesia, tetapi juga dialami oleh ibu-ibu di belahan dunia lainnya, di dunia. Cuma mungkin penanganan masing-masing negara dalam mengurangi resiko pandemik berbeda-beda dan pasti berpengaruh juga dalam penanganan kesulitan belajar daring anak-anak usia sekolah dasar.

rumahmediagrup/isnasukainr

6 comments

  1. Betul Bu hj…sebagai pendidik kita perlu memahami kondisi saat ini..tidak semua kompetensi yg ada harus di babat habis dicapai maksimal dlm kondisi seperti ini,makanya ada istilah kd ukrk,cari kompetensi yg benar ber pengaruh n bermanfaat sbagai life skill siswa siswi kita…semngt trus b hj dlm menulis m menginspirasi

    Disukai oleh 1 orang

  2. Peran guru dan orang tua memang benar2 sangat essential terhadap tumbuh kembangnya anak/ siswa. Terlebih lg di masa pademi ini, orang tua sangat berperan dalam pendidikan karakter anak, maka dr itu sbgai ortu hrs memiliki kesabaran tingkat tinggi..melindungi, mendidik, mengayomi anak2 yg biasanya dibantu oleh para guru ketika bljr tatap muka.
    Bagi guru pada masa pandemi ini hrs ada fleksibilitas pembelajaran utk menggugah siswa agar ttp semangat bljr.
    Agar pembelajaran tdk menimbulkan stress bagi siswa ( ortu) krn dibebani banyak tugas tentu ada caranya, yaitu dg menerapkan pembelajaran berbasis tema dan problem solving. Secara tdk sadar cara ini bisa membuat anak terampil baik secara lisan maupun tulisan

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke isnasukainr Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.