Kategori
Dunia Puisi puisi

Senyuman Oktober

Karya: Nurilatih

Senyummu masih berkelebat
Membayangi langkahku
Membuat getar hati rekah kembali
Ketulusan tergambar menyeret anganku pada sebuah jendela rapuh
Di balik sana menghampar padi menghijau

Pada catatan-catatanku namamu selalu terukir hingga cinta terakhir penuh coret-moret
Masih menjadi penyejuk lorong-lorong panas tak terkendali

Lewat jendela rapuh ini
Merebak harum bunga kuhantarkan
Tertinggalkan kesan sejuk jiwa

Dirimu yang jauh di sana hanya bisa kurengkuh dengan pandangan yang tak tersentuh

Masih tergambar jelas lembaran bertuliskan pesan manis agar aku sabar menunggumu

Oktober dua puluh tujuh tahun yang lalu meskipun tanpa janji senyum dan sorot matamu menyampaikan bahwa kita terjerat benang rindu

Asparaga, 10022020

Kategori
Cerita Pendek Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas

Misteri Hilangnya Buah Pisang

Misteri Hilangnya Buah Pisang

Belakangan ini, banyak warga yang mengeluhkan hilangnya buah pisang yang siap panen di kebun mereka. Tentu saja mereka merasa sangat kecewa karena buah pisang yang selama ini ditunggu tuanya, ternyata sudah ada yang mendahului memanennya tanpa izin.

“Mau ke mana, Yah?” tanyaku pada suami yang mengambil golok dari tempatnya.

“Ke kebun dekat sungai,” jawabnya. “Di sana ada buah pisang yang nampaknya sudah cukup tua untuk dipanen,” lanjutnya.

“Kalau sudah bisa dipanen, panen saja, Yah! Daripada didahului orang,” kataku mendukungnya untuk segera memanen pisang itu.

Sesaat kemudian, suamiku kembali dengan setandan pisang nangka yang terlihat cukup tua. Letak kebun kami memang tidak terlalu jauh dari rumah. Di sana, suamiku menanam berbagai jenis tanaman buah, termasuk beberapa pohon pisang nangka. Salah satunya dipanen barusan.

“Ternyata bukan hanya satu pohon yang berbuah. Yang semula mau Ayah tebang, ternyata buahnya belum cukup tua untuk dipanen. Malah dapat yang ini,” katanya sambil meletakkan buah pisang bawaannya di samping rumah.

“Memang sebelumnya Ayah tidak tahu ada pohon lain yang berbuah?” tanyaku heran.

“Justru itu. Ayah hanya melihat dari jauh. Jadi yang terlihat hanya satu pohon yang terlihat dari jalan,” jelas suamiku. “Yang ini sih, diperam sehari juga matang,” lanjutnya.

“Yang satunya tidak sekalian dipanen, Yah?” tanyaku.

“Belum cukup tua, Bun,” jawabnya singkat.

“Tapi … gimana jika nanti didahului tokoh misterius,” kataku khawatir.

“Mudah-mudahan sih tidak,” tukas suamiku dengan santai.

***

Sekitar dua minggu setelah itu, kami mengobrol di teras sambil menikmati indahnya sore.

“Eh, Pak. Ngomong-ngomong … kira-kira siapa ya yang suka mendahului memanen pisang?” tanyaku memecah keheningan.

“Dulu, saat di kebun, Ayah bertemu Bang Jajil. Itu lho yang kebunnya berbatasan dengan kebun kita,” katanya seperti tidak memperhatikan pertanyaanku.

“Ngobrol apa dengan Bang Jalil?” tanyaku.

“Ternyata, pisang Bang Jalil juga hilang,” jawabnya sekenanya. Lagi-lagi, dia seperti tidak memperhatikan pertanyaanku.

“Dia cerita. Ada satu orang yang dicurigai sebagai tersangka utama menghilangnya pisang dari pohonnya,” katanya mulai menjawab pertanyaanku.

“Siapa, Yah? Orang mana?” aku tak sabar ingin segera tahu siapa pelaku utamanya.

“Orang desa sebelah,” jawabnya singkat.

“Ada yang memergokinya saat beraksi, Yah?” tanyaku lagi. Aku semakin penasaran.

“Belum ada sih. Hanya dari gerak-geriknya yang mencurigakan saja,” jawabnya sambil menyeruput kopinya.

“Menduga-duga dong?” cetusku.

“Iya. Banyak juga yang mencuriganya. Kata mereka, jika si orang itu terlihat wara-wiri di sekitar kebun yang ada pisang tuanya, maka sekejap kemudian, raiblah si pisang itu dari pohonnya,” papar suamiku. ”Anehnya, aksinya itu selalu dilancarkan pada hari Jum’at,” tambahnya.

“Oh, apa dia menganut ilmu hitam? Kata orang-orang, banyak pencuri yang menganut ilmu hitam.”

“Entahlah. Mana Ayah tahu!” jawabnya sambil tertawa.

“Yaaa … kali aja dia ngasih tahu Ayah,” candaku.

“Emangnya Ayah teman dia, apa?” suamiku pura-pura cemberut.

“Jangan-jangan … malah Ayah dukunnya, ha ha ha …,” candaku lagi. “Dia beraksi pada waktu salat Jum’at kali, ya?” lanjutku.

“Kayaknya sih begitu. Bang Jalil cerita, istrinya pernah menyuruh dia untuk mengintai. Tapi, Bang Jalil tidak mau. Lagian, ngapain ninggalin salat Jum’at sekadar mengintai pencuri pisang. Eh, ngomong-ngomong … sekarang hari Jum’at, kan?” Dia terperanjat. Sepertinya suamiku itu baru menyadari sesuatu.

“Iya, Yah. Tadi siang kan Ayah jum’atan,” ujarku.

Segera dia beranjak mengambil golok, lalu bergegas meninggalkanku. “Melihat pisang di kebun,” katanya sambil berlalu.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan wajah kecewa. Aku hanya menatapnya sambil menduga-duga.

“Sudah didahului maling,” katanya. Dengan lesu dia terduduk di teras. Tangannya mengetuk-ngetukkan ujung golok ke lantai teras.

“Nah, kan! Pasti nyesel ga segera dipanen,” kataku spontan.

Dia hanya mendengus kesal.

“Ternyata kita dapat giliran jadi targetnya juga ya, Yah,” candaku.

“Heemh …,” jawabnya tak bernapsu.

“Belum rezeki kita,Yah,” kucoba menghiburnya.

“Iya, Bun,” jawabnya singkat. Masih terlihat gurat kesal di wajahnya.***

rumahmediagrup/sinur

Kategori
Dunia Puisi Latihan Menulis Komunitas puisi

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu Sederhana

Mengapa resah
Untuk apa juga merasa gundah
Jika hati percaya
Bahwa untuk bahagia itu
sangatlah sederhana

Untuk apa pula khawatir
Apa lagi hingga ketar-ketir
Jika hati yakin sepenuhnya
Bahwa Tuhan selalu ada
untuk memberi kita bahagia

Tiada celah untuk berputus asa
Jika hati seluas samudera
Biarkan ombaknya berdebur
Melebur dalam rasa syukur
Semua duka yang dirasa
menjadikannya bahagia seketika

Tiada sulit untuk bahagia
jika hati bersih dari syakwa sangka
Karena letak bahagia
serta merta hadir dalam lapangnya dada
juga hati yang sebening kaca.

#puisi_sinur

rumahmediagrup/sinur