Berbagi Rezeki Dan Kebaikan Itu Menyehatkan.(Teks Paparan Hortatori)

Berbagi Rezeki Dan Kebaikan Itu Menyehatkan.
(Teks Paparan Hortatori)


Bukan harus menunggu pernyataan para ahli kesehatan, dokter, dan psikiater bila ingin membuktikan judul diatas. Saya sudah melakukannya dan terbukti selalu berhasil membahagiakan/melegakan hati setelah berbagi.

Dan jangan lupa perasaan bahagia setelah memberi itu menimbulkan rasa bersyukur akan kemudahan yang kita punya, dan itu secara tidak langsung menyehatkan psikhis. Bila jiwa kita kuat (sehat), maka badan akan terjaga sehat pula, seperti dalam pepatah kuno Men  Sana In Corpore Sano.

Berbagi tidak perlu menunggu setelah kita berlebihan kepemilikan (uang misalnya) karena semakin ikhlas kita sering menyisihkan hak Allah, hak orang-orang miskin dan anak yatim dari rezeki kita semakin berkah pula hasilnya pada diri.

Dengan berbagi akan menjadikan kita mempunyai jadwal keteraturan kapan saatnya harus menyisihkan pendapatan kita untuk hak-hak di atas tanpa mengesampingkan keperluan keluarga dan pribadi, sebagai wujud menghargai kelelahan diri dalam menjemput rezeki.

Kita bisa berbagi apa saja yang menurut kita baik untuk dibagikan, bisa berupa benda kepunyaan yang berlebih, uang (infaq), pengalaman baik, ilmu pengetahuan yang baru kita dapatkan dari suatu pelatihan atau sekedar pemikiran selintas berupa mengomentari suatu postingan di WAG yang sekiranya komen kita bisa memberi manfaat pada yang lain.

Perasaan lega bahagia setelah menyisihkan sebagian pendapatan dan rezeki kita tidaklah sama dengan ketika kita  dituntut melakukan pembayaran cicilan yang tertarget harus ada (sengaja disisihkan). Infaq bisa kita lakukan saat kita juga dalam keadaan  tidak sedang banyak uang, tetapi Allah juga melarang kita berlebihan dalam melakukannya, manakala kewajiban kita tertinggal hanya demi bisa berinfaq, misalnya kewajiban membayar hutang.

Melakukan infaq tidak sama dengan mengeluarkan shadaqoh dan zakat, dengan tujuan kita membersihkan pendapatan kita dari penyertaan hal-hal yang mungkin mengotori gaji kita. misalnya  tersisipi dari hasil ‘riba’ yang kita tidak sengaja dan tidak menyadarinya. Makanan yang masuk ke tubuh kita dari hasil yang bersih tentulah akan menyehatkan raga, perasaan lega, bahagia dan bersyukur adalah kunci kesehatan jiwa.

Rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah menjamin keadilan atas rezeki yang kita peroleh.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Daripada kita habiskan uang dengan menumpum-numpuk benda koleksi yang menjadi mubazir karena teramat jarang dipakai. Kelak pun akan ada hisab dari barang-barang mubazir tadi, bukankah kita lebih baik tidak bersifat ishrof (boros berlebiban)?

Jadi dari gambaran yang saya uraikan tentang berbagi yang bisa menyehataka, tergantung persepsi anda juga, saya hanya memberikan contoh apa yang sudah saya lakukan. Adapun dampak buruknya belum pernah saya rasakan, silahkan anda mau mencoba atau tidak pilihan tetap di tangan anda.

pic:  https://r.search.yahoo.com/
Kata Bijak – Qurhadee. com

rumahmediagrup/isnasukainr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.