Pelangi di Matamu

Bak tak mempunyai hati, Hasan meninggalkan Inem yang sedang menangis. Ia membawa uang hasil rampasan untuk bersenang-senang dengan teman tongkrongannya. Main judi, minuman keras dan merokok sudah menjadi kebiasaan setiap malam. Dia habiskan malam untuk bermaksiat, pulang dini hari hampir tiap malam ia lakukan.

Inem cemas menanti Hasan yang belum kunjung pulang. Di sela salat dan sujud ia berdoa, semoga anak semata wayangnya diberikan hidayah. Dengan khusyuk ia mengadukan semua penderitaannya tertumpah kepada Zat yang Maha Pengasih.

“Ya Allah Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak-anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” QS Ibrahim: 40-41

Doa nabi Ibrahim selalu ia bacakan ketika salat, doa yang diyakini mampu mengubah anaknya menjadi lebih baik dan berharap mendapatkan hidayah. Inem mendapatkan doa tersebut ketika mengikuti majlis taklim di musala . Tak bosan ia mendoakan anak dan keluarganya. Inem termasuk ibu yang begitu sabar menghadapi Hasan. Walaupun kenakalan anaknya begitu menjadi. Namun, jangan sampai mulutnya mengeluarkan perkataan yang dapat merugikan anak dan keluarga.

“Bu, Bu buka pintu,” teriak Hasan dari luar. Dengan sedikit sempoyongan, ia menempelkan badan ke daun pintu sambil mengetuk-ngetuk dengan kuat. Inem yang belum selesai salat tahajud, ia tergopoh membuka pintu.

“Lama banget buka pintu saja!” teriak Hasan sambil mendorong Inem yang berdiri tepat di depan pintu, hingga terhuyung. Tubuhnya mengenai tembok, sakit rasanya. Namun, lebih sakit perlakuan Hasan kepadanya.

Inem mengelus dada, sambil mengucapkan istigfar. Kembali netranya meneteskan beningan air mengenai pipi yang kian keriput. Hasan yang sedikit mabuk, ia langsung masuk kamar lalu tertidur. Inem berusaha menemui Hasan, ia khawatir dengan kondisi anaknya yang sedang mabuk. Namun, pintu terkunci dari dalam. Beberapa kali ia mengetuk pintu, tetap tak terbuka.

“Hasan Solih, buka pintunya Nak,” panggil Inem dengan lembut. Sambil mengetuk pintu dengan perlahan, Inem memastikan dan sangat berharap anaknya dapat membuka pintu. Namun, tak ada suara apa pun di dalam kamar, hening dan sunyi. setelah memastikan tak ada jawaban Inem balik ke kamarnya.

Di kamar, Inem sangat prihatin melihat kondisi suaminya kian memburuk. Bagaimana pun juga, besok aku akan membawa Mas Paijo ke klinik, gumam Inem dalam hatinya. Alhamdulillah ada uang hasil mencuci hari ini. Ya Allah Mas, aku tak tega melihat kamu, terbaring tak berdaya.

Mana tanganmu yang dulu kekar memelukku saat aku bersedih? Mana dadamu yang bidang tempatku mencurahkan kedukaanku. Aku tak sanggup Mas hidup sendiri, bebanku terlalu berat jika harus menanggung sendiri. Segeralah sembuh, jangan kau biarkan aku dalam kedukaan yang kian mendalam. Inem berbicara sendiri dalam heningnya kamar, tak berhenti ia menatap wajah suaminya yang dulu sempat gagah.

Pemuda idaman semua wanita, kebaikan dan tawadunya menjadikan Paijo rebutan para gadis di kampung. Dulu Paijo yang tegap dan gagah, hidungnya yang mancung, garis muka yang tampan dibaluti kealiman sebagai anak remaja masjid. Pemuda yang tak pantang menyerah dalam berusaha. Inem merasa bangga ketika ia menjadi pilihan dan mengalahkan banyak gadis di desa itu.

Sempat lama mereka belum dikarunia anak. Paijo tetap sabar, dan menenangkan agar tetap berusaha. Ia bukan tipe suami yang gampang terpikat oleh wanita lain. Walaupun kondisi waktu itu, belum mengandung dan tidak menjadikan Inem rendah diri, ia meyakinkan bahwa akan setia dan sabar menantikan, kapan pun Allah memberikan kepercayaan kepada mereka.

Samar-samar suara selawat dari musala mulai dikumandangkan, Inem perlahan mendekati suaminya yang terbaring tenang. Ia mulai menyentuh pipi Paijo yang kian menua, dengan lembut dan suara lirih, ia memanggil Paijo mengajak salat berjamaah.

“Mas, bangun. Salat subuh yuk? Inem membangunkan suaminya dari tidur. Namun, Paijo tetap terdiam. Lalu diulangi lagi, inem menyentuh suaminya itu dengan lembut.
“Mas, sudah subuh. Mari salat berjamaah,” ucap Inem dengan penuh kasih. Namun, Paijo tetap tak bangun.

Melihat kondisi seperti itu, Inem panik. Langsung ia mengguncangkan lembut tubuh suaminya dan menempelkan jari di ujung lubang hidung Paijo. Alhamdulillah masih bernapas, kembali Inem mengguncangkan lebih kuat dan meraba urat nadi di pergelangan suaminya. Alhamdulillah masih berdenyut. Dipanggil kembali Paijo dengan dibarengi tepukan lembut di wajahnya.

“Mas, Mas bangun Mas, jangan tinggalkan aku sendiri,” pekik Inem lalu berhambur keluar untuk mencari bantuan. Tetangga yang baru selesai salat dari musala langsung menghampiri dan menanyakan apa yang telah terjadi.

“Bu Inem kenapa? tanya Parmin tetangga rumah. Lalu masuk ke kamar melihat kondisi Paijo yang terbaring tak sadarkan diri.

“Suami saya tak sadarkan diri, saya mohon bantuan bapak-bapak,” cerita Inem di sela-sela tangisnya. Parmin dengan sigap mengeluarkan minyak angin yang biasa ia pakai lalu ditempelkan ke hidung Paijo. Selang beberapa menit, Paijo siuman dan perlahan ia membukakan matanya.

“Alhamdulillah, Mas sudah siuman? tanya Inem

“Sudah Bu Inem, jangan ditanya dulu. Tolong ambilkan air minum buat Pak Paijo,” pinta Parmin. Inem bergegas ke dapur untuk mengambil air minum. Karena merasa terdengar keributan di kamar sebelah, Hasan yang sedang tertidur pun terbangun.

“Ada apa sih, berisik. Mengganggu saja orang sedang tidur!” bentak Hasan kepada ibu dan tetangganya.

“Kamu jangan begitu, Nak. Ini bapakmu pingsan dan tetangga kita sudah menolongnya,” ujar Inem menenangkan.

“Mana? itu sudah sadar? sudahlah jangan lebay, sekarang bubar! Gua masih mengantuk ini,” teriak Hasan sambil memukul pintu kamar Inem. Tetangga yang menolong Paijo kaget, mereka berhamburan keluar.

“Pak Parmin, maaf kan anak saya, terima kasih sudah menolong kami,” ucap Inem sambil menangis. kembali netra Bu Inem mengalirkan beningan air yang tak henti-henti membasahi pipinya.

“Kamu sudah keterlaluan Hasan, tidak tahu terima kasih. Tadi bapakmu pingsan dan Pak Parmin sama tetangga yang lain menolongnya,” ucap Bu Inem sambil menyentuh tangan Hasan. Namun, tangan Inem ditolak olehnya, gontai Hasan berlalu dan kembali ke kamarnya.

Setelah tragedi pingsan, akhirnya Paijo dibawa ke kliniK dan sempat dirawat di sana beberapa hari. Alhamdulillah Paijo sembuh, ia kembali mengais rezeki dengan menjadi tukang cukur keliling. Sebentar lagi Hasan melaksanakan ujian, Paijo harus lebih giat mencari nafkah untuk biaya sekolah, SPP yang belum dibayar harus segera dilunasi.

***

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari luar rumah.

“Waalaikumussalam,” jawab Inem sambil mendatangi arah suara itu. Inem kaget ada seorang perempuan berpakaian rapi berdiri di luar sambil memegang amplop putih. Ia bergegas membuka pintu dan menghampirinya.

“Mohon maaf, Ibu siapa ya? tanya Inem sambil membungkukkan badan dan menunjuk dengan jempolnya.

Bersambung ….

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.