Esensi Saling Memaafkan

Esensi Saling Memaafkan

Saling meminta maaf seakan menjadi tradisi di momen lebaran. Padahal untuk meminta maaf atau memaafkan tidak mesti menunggu momen lebaran. Bisa kapan saja, saat kita menyadari khilaf yang diperbuat.

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Entah sengaja ataupun tidak. Lisan kadang tergelincir untuk berbicara sesuatu yang menyakiti hati sesama. Belum mampu memiliki sifat sabar dalam menyikapi kekurangan orang lain. Atau kadang lupa untuk berterima kasih terhadap pemberian orang lain.

Meminta maaf dan memaafkan adalah dua hal yang berkaitan. Sama-sama dibutuhkan hati yang lapang. Bagi yang minta maaf butuh kekuatan hati untuk mengakui kesalahan. Bagi yang memberi maaf perlu berbesar hati untuk tidak mengungkit kejadian yang menyesakkan hati.

Memang benar hati yang sakit akan susah sembuh. Tapi bukan berarti tidak bisa sembuh. Tidak ada gunanya menyimpan luka. Hanya akan membuat kita makin terperosok dalam dendam dan sakit hati yang tak berkesudahan.

Mau sampai kapan seperti itu?

Luka itu harus disembuhkan. Bukan malah dipupuk dan dibiarkan mengakar hingga menimbulkan kebencian yang bahkan sampai diwariskan kepada keturunannya. Sama halnya ketika ada barang busuk di rumah kita, maka harus segera dibuang. Begitu juga dengan luka. Harus bisa segera disembuhkan, agar hidup menjadi tenang.

Bagaimana caranya agar bisa memaafkan orang yang sudah menyakiti kita?

Jangan letih memohon kepada Allah, agar hati bisa dilapangkan. Menerima bahwa diri ini memang penuh keterbatasan. Semua kesalahan yang pernah diperbuat, jadikan pembelajaran. Sambil berusaha terus memperbaiki diri. Berhenti menyalahkan takdir dan mengutuk orang lain.

Mudahkah hal itu dilakukan?

Jelas tidak. Tapi kita harus bisa belajar.
Mulai dari sekarang. Lepaskan beban dalam hati secara perlahan. Berhenti menuntut kesempurnaan dari orang lain. Memaafkan artinya membuka lembaran baru hubungan kasih sayang yang pernah pupus.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura, 42: 40)

Saat kita berbuat kesalahan. Kemudian sudah minta maaf dan berusaha memperbaiki diri. Tapi belum juga dimaafkan, lalu bagaimana?

Insyaa Allah kesalahan kita akan dimaafkan Allah. Dan bagi yang tidak mau memberi maaf, kelak harus mempertanggung jawabkannya kepada Allah

Yang bisa kita simpulkan, apabila salah satunya berusaha berdamai dengan yang lain tapi perdamaian itu tidak diterima, maka orang yang berusaha berdamai tersebut diampuni. (Syarh az-Zarqani ‘ala al-Muwaththo’, 4/335).

Semoga Allah senantiasa memberikan kelapangan hati untuk bisa minta maaf dan memaafkan sesuai syariat.

Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”
(QS. Thaha, 20: 25-28)

Menulis untuk menebar manfaat dan sebagai pengingat diri.

Barakallahu fiikum


Klaten, 6 November 2019

rumahmediagrup/siskahamira