Abah dan Mbu

Abah dan Mbu

Panggilannya Abah Anom, pria sepuh yang tinggal bersama istri tercinta, biasa dipanggil Mbu Anom. Pasangan lanjut usia yang tampak sehat, disayang oleh para tetangga lingkungan tempat tinggalnya. Keramahan pasangan ini membuat mereka selalu diperhatikan oleh para warga. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung.

Abah Anom adalah sosok pria yang senang berbincang dan humoris. Banyak cerita lucu yang ia lontarkan sehingga membuat para warga betah bercengkrama dengan Abah. Begitu juga dengan Mbu Anom. Perempuan baik hati dan masih terlihat cantik karena senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Hobi Mbu Anom adalah membuat berbagai penganan enak. Biasanya akan ia letakkan di meja kecil di depan rumahnya, berikut dengan air minum dalam kemasan cup. Siapapun boleh mengambilnya, ini adalah bentuk sedekah Mbu dan Abah.

Kisah kebersamaan pasangan ini terkadang membuat siapa saja yang melihatnya menjadi iri karena mereka memperlakukan pasangannya dengan lemah lembut dan sopan. Bagaimana Abah begitu menyanjung Mbu, begitupun Mbu kepada Abah. Tetapi adakalanya kebiasaan Abah yang pelupa membuat gemas bagi orang yang melihatnya.

Jika ada pertemuan warga rt, Abah dan Mbu selalu menawarkan kediamannya dijadikan tempat berkumpul. Seperti minggu ini rencananya akan diadakan rapat rt dua bulanan. Abah dan Mbu sudah mulai merancang makanan apa yang akan disuguhkan untuk warga. Tidak hanya makanan kecil saja, Mbu juga pasti menyediakan menu makan siang. Semuanya biasa ia kerjakan berdua Abah, mulai dari ke pasar hingga memasaknya. Beberapa ibu-ibu juga ada yang datang membantu.

“Abah, tolong antar Mbu ka pasar. Mbu mau bikin liwetan kumplit buat rapat rt.”

“Ka pasar mana, Mbu sayang. Pasti atuh Abah siap mengantar kemanapun Mbu ingin.” Dengan senyum khas, Abah menjawab permintaan Mbu.

“Ah, nu deket aja, Abah. Kita ka pasar baru. Sekalian mampir beli kopi aroma di banceuy.”

Tidak butuh waktu lama, Abah dan Mbu tiba di pasar baru.

“Abah mah langsung sajalah beli kopi aroma. Biar enggak kelamaan nungguin Mbu belanja. Biar Mbu belanja sendiri, nanti kalau sudah dapat kopinya, Abah jemput lagi Mbu di sini ya. Tah, inget toko keripik ini, ya. Mbu nanti nunggu di sini.” Sambil menunjuk plang toko, Mbu mewanti-wanti Abah agar ingat.

“Iya, Mbu cantik. Nanti selesai beli kopi Abah jemput di sini. Sok atuh belanja yang tenang, jangan rusuh buru-buru. Hati-hati, Mbu.”

Setelah antri cukup lama demi kopi yang termasyhur di Kota Bandung. Abah melanjutkan perjalanan dengan motor kesayangannya. Ia berhenti sejenak di depan pasar baru, ia tergiur melihat mangga gedong gincu kesukaan istrinya. Dua kilo mangga ia dapatkan untuk Mbu. Wajah Abah berseri-seri langsung tancap gas inginsegera bertemu Mbu.

Setibanya di rumah, Abah membereskan belanjaan. Dimasukkan kopi yang baru dibelinya ke dalam toples khusus kopi. Ia juga menata mangga ke wadah buah. Sempat ia kupas dan memotong tiga buah mangga yang matang untuk Mbu, lalu disimpannya ke wadah tertutup. Setelah membereskan sampah kulit mangga, Abah beranjak ke teras rumah. Ia bermaksud duduk santai melepas lelah di kursi favoritnya.

“Asalamualaikum … Abah, Mbu mana, Bah? Katanya hari ini mau buat kue. Saya dan Bu Eli mau bantuin Mbu.”

“Waalaikumsalam … Eeh, Bu Nana, Bu Eli. Ayo masuk, duduk sini. Tunggu sebentar, sepertinya mah Mbu lagi belanja ke warung sayur Bi Een.” Sambil berdiri, Abah meminta dua tamu Mbu untuk masuk ke teras.

“Warung Bi Een tutup atuh Abah, kan sudah dua hari Bi Een mudik ka Garut.” Sambil duduk, Bu Nana menyangkal jawaban Abah.

“Wah, ka mana atuh Mbu teh, ya. Masa iya pergi enggak pamit sama Abah.” Abah terdiam sejenak seperti berpikir kemana gerangan pujaan hatinya.

“Astagfirullah al-azim, Ya Allah, Gusti …!” pekik Abah langsung berdiri lalu masuk ke dalam rumah mengambil helm

“Ada Apa, Abah. Abah mau ke mana?” kepanikan terlihat di wajab Bu Nana dan Bu Eli.

“Mbu … ketinggalan di pasar baru!” seru Abah sebelum menyalakan motornya

Sejurus kemudian Abah bergegas menjemput Mbu meninggalkan Bu Nana dan Bu Eli yang tertawa lepas melihat kelakuan Abah yang pelupa.

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.