Acceptance Terus, Agar Tidak Menjadi Istri dan Ibu yang Semena-mena Melampiaskan Emosi Sesuka Hati

Acceptance Terus, Agar Tidak Menjadi Istri dan Ibu yang Semena-mena Melampiaskan Emosi Sesuka Hati

Oleh: Ribka ImaRi

Entah mengapa, aku paling susah untuk ACCEPTANCE (penerimaan) keadaan yang satu ini. Sebuah teknik penerimaan keadaan yang aku pelajari dari mindfulness parenting, yaitu ilmu pengasuhan dengan kesadaran untuk mengasuh diri ibu lebih dulu.

“Sadar untuk sabar”

Seperti hari itu, karena akhir pekan, aku sudah niat sekali ingin berjalan-jalan sedari pagi. Karena sudah lama juga tidak jalan-jalan blusukan ke tempat wisata yang berada di pedalaman (bukan cuci mata ke mall).

Aku rindu melihat pemandangan hijau dan segar hawa pegunungan. Ternyata, hujan mengguyur bumi sekitar pukul 5.30 pagi hujan. Ya sudah, aku memutuskan masak saja. Supaya anggota keluarga serumah bisa sarapan bersama. Biasanya kalau jalan pagi, kami sarapan bersama di luar rumah.

Setelah aku selesai masak dan kami selesai sarapan semua, Tyaga dan Jehan mandi secara bergantian. Mereka sudah rapih semua jam 10 pagi. Akan tetapi, aku, bundanya justru belum selesai berberes rumah.

Selesai aku berberes, rapihlah semua. Sehabis dzuhur aku siap berangkat. Eh, justru suami yang tidur. Akhirnya jadi lah tidur semua, termasuk Tyaga dan Jehan. Hehe. Sabar.

Accept. Accept. Accept.

“TERIMA KEADAAN SUAMI YANG TIDAK JADI MENGAJAK PERGI, MALAH PAMIT TIDUR. KARENA SUAMI LELAH AKIBAT SEMALAM BERGADANG BERSAMA TETANGGA KARENA MEMBICARAKAN HAL PENTING TENTANG KEAMANAN DI PERUMAHAN KAMI.”

Lalu aku menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya. Aku menggunakan teknik pernapasan perut. Aku melakukannya berkali-kali dan berulang-ulang. Sampai dada benar-benar terasa lega dan tidak lagi menyesek.

Padahal ingin sekali mengamuk rasanya. Ternyata, sumber kekesalanku karena membayangkan rasa cemas akibat weekend depan suami ada acara. Itu artinya, butuh waktu bersabar lebih lama lagi menunggu waktu yang pas untuk kami bisa jalan-jalan kembali.

Kemungkinan harus menunggu tiga kali weekend lagi. Itu pasti melelahkan jiwaku. Jujur, aku sangat kesal. Kesal ini juga yang membuat aku sempat bicara nge-gas sedikit saat mengingatkan Tyaga yang terlalu lama mandinya. Namun, karena sudah bisa memahami sumber kekesalanku, jadi bisa cepat mengendalikan emosiku lagi. Aku tidak jadi merepet sepanjang hari.

UNTUK SEORANG IBU, SANGAT DIBUTUHKAN KETRAMPILAN PENGENDALIAN EMOSI. MESKI NAMPAK SEPELE, HANYA SEKADAR BELUM JADI DIAJAK JALAN OLEH SUAMI. MEMBUAT CEMBERUT DAN MEREPET. NAMUN, BISA JADI MELUKAI HATI ANAK KARENA SANGAT MUDAH MELAMPIASKAN EMOSI KE ANAK YANG TIDAK TAHU APA PENYEBAB BUNDANYA MARAH-MARAH TIDAK JELAS.

Akhirnya, aku memilih menjadi ROLE MODEL untuk Tyaga dan Jehan dengan menjadi bunda yang sabar menerima keadaan. Sabar menunggu waktu terbaik. Sabar menunggu sampai suami mengajak kami jalan-jalan sekeluarga.

Alhamdulillah…akhirnya kami tetap bisa jalan-jalan di sore harinya. Tanpa aku harus semena-mena kepada suami dan anak. Hanya demi memuaskan hasrat istri dan bundanya yang mencari hiburan.

Aku berjuang menenangkan inner child (IC)-ku yang inginnya semua dituruti. Aku belajar mengasuh IC-ku menjadi mendewasa sehingga mudah bersabar dalam banyak hal.

rumahmediagroup/ribkaimari