ACONITUM

Dunia itu seperti seperti aconitum, indah, cantik, banyak jenisnya dan beragam manfaat sebagai obat herbal. Dalam pengobatan barat aconite digunakan hanya sampai pertengahan abad ke-20. Sementara di Inggris pada tahun 1911, oleh British Pharmaceutical Codex aconite kembali digunakan dalam medis (SimpleWorld 2019). Namun ada yang unik dari aconitum jika salah dalam penggunaan, pengolahan, dan takaran dosis justru berakibat fatal. Meskipun banyak manfaat bunga  cantik ini bisa bersifat racun hingga dijuluki devil’s helmet, bahkan beberapa jenis lainya dapat menyebarkan rancun hanya dengan sentuhan.

Sama hal dengan kita yang bertebaran di muka bumi ini mencari penghidupan dan memanfaatkan semua yang ada. Kehidupan indah kerap alihkan pandangan, hidup kelam berasa di dalam jurang. Namun jika salah dalam menetapkan tujuan hidup juga akan berakibat fatal. Dunia yang begitu indah mampu hipnotis penduduknya, keindahan fatamorgana yang ditawarkan sangat melenakan. Tak banyak yang menyangka keindahan itu justru menjadi racun yang siap membunuh persiapan menuju akhirat. Menemukan formulasi tepat untuk hidup sesuai dengan pentunjuk Pencipta adalah sesuatu yang tak boleh salah dan harus menemukan makna hidup yang benar untuk jadikan tujuan penciptaan manusia.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (TQS. Adz Dzariyaat: 56)

Benar, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Apapun aktivitasnya, ibadah motivasinya. Karena hidup kita sekarang akan menentukan hidup kita di akhirat kelak. Allah beri kita kebebasan untuk memilih langkah, Allah beri kesempatan tentang apapun. Kita bebas menentukan pilihan, setinggi-tingginya cita-cita, seluas-luasnya harapan,  dan sebanyak-banyaknya keinginan. Semua itu boleh asalkan tetap pada rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya. Menentukan sesuatu tidak sesuai hawa nafsu. Memilih bukan karena manfaat semata dan meninggalkan sesuatu bukan hanya ia tak berarti menurut akal karena standar memilih bukan suka atau tidak suka tapi ridhonya Allah.

Bukan aconitum yang bersalah karena ia beracun, bukan juga dunia yang salah dengan keindahan yang melenakan tapi bagaimana kita sebagai manusia memaknainya dengan standar yang kita punya.

Sumber: https://knockdown941.blogspot.com/2014/06/aconitum.html

sumber gambar: httpshajardaku.files.wordpress.com201103untitled-14.jpg

rumahmediagrup/firafaradillah