Ada Apa Dengan Hama (1)

Ada Apa Dengan Hama

“Nah, anak-anak sekalian, jadi kita semua harus selalu menjaga kesehatan mata, supaya tidak cepat rusak dan terpaksa harus berkacama ….”
“Taaaa ….” Anak-anak mahasiswa itu menyahut sambil tertawa cekikikan.
Alya menghela napas lega. Microteaching kali ini berjalan cukup lancar. Bahannya ia kuasai dengan baik, dan teman-temannya yang berpura-pura jadi murid SD itupun cukup berbaik hati untuk tidak terlalu menggodanya, seperti kejadian Selly kemarin yang hampir menangis gara-gara “murid-muridnya” bandel-bandel semua. Senyum di bibir Alya hampir mengembang sempurna ketika tiba-tiba di atas tengkuknya terasa gatal. Refleks tangannya menyelip di balik jilbabnya lalu menggaruk sekilas. Rasa gatal itu hilang.
“Baiklah anak-anak, sekarang pelajaran sudah selesai. Jangan lupa belajar di rumah, ya.” Alya menutup pelajarannya dengan senyum manis.
“Ya bu guru,” teriak murid-murid SD gadungan itu. Alya tengah membereskan berkas-berkasnya ketika tiba-tiba rasa gatal itu kembali menyengat ubun-ubunnya. Tangannya bergerak menuju ubun-ubun, namun garukan kali ini tidak terlalu mantap karena ubun-ubunnya tertutup jilbab. Ia bergegas kembali ke bangkunya sambil menahan gatal. Bu Dosen mulai mengomentari penampilannya tadi, tapi Alya tidak lagi terlalu memperhatikan. Rasa gatal itu kini menyerang di bagian samping kepalanya. Alya menjatuhkan pulpennya, lalu sambil membungkuk mengambil pulpen tangannya menyelip ke balik jilbabnya lalu mulai menggaruk dengan keras. Rasa gatal itu hilang lagi, bersamaan dengan hilangnya mood belajarnya hari itu.
Sudah dua minggu ini kepalanya seringkali diserang rasa gatal tiba-tiba. Gatalnya tak tertahankan, dan disertai rasa panas yang mengganggu. Jika digaruk, nikmat sekali rasanya. Alya tak mengerti apa penyebab gatal tiba-tiba itu. Seingatnya ia rajin mencuci rambutnya yang panjang sampai melewati pundak itu setiap dua hari sekali. Iapun tak pernah ragu mengenakan baju hitam, karena di pundaknya tidak pernah ada serpihan ketombe seperti iklan-iklan sampo di televisi. Mengganti sampo? Tak pernah terpikir olehnya. Ia sudah menggunakan sampo kesayangannya itu sejak SMP, dan selama ini tak pernah bermasalah. Bahkan teman-teman perempuannya yang pernah melihat rambutnya memujinya dan mengatakan seharusnya ia jadi model iklan sampo untuk gadis berjilbab saja. Alya tertawa ngakak ketika itu. Kalau model iklannya berjilbab, rambutnya bagus atau jelek tidak bakalan ada yang tahu, kan?
Hal yang membuat Alya kesal adalah, rasa gatal itu sering tak tahu tempat dan waktu. Kapan pun dan di mana pun ia bisa menyerang dengan tiba-tiba. Di rumah ia bisa dengan bebas menggaruk kepalanya dari berbagai sudut. Namun di kampus tentunya itu mustahil, kecuali kalau mau jadi perhatian semua orang karena bertingkah seperti orang tidak pernah keramas selama dua bulan.
Satu tepukan keras di pundak membuyarkan lamunannya. Spontan Alya menoleh. Dilihatnya Rosy menatapnya sambil nyengir.
“Udah selesai, ya?” tanyanya bloon. Rosy tertawa.
“ Bu Wati aja udah keluar dari tadi, neng! Tugasnya segambreng tuh!” Rosy beranjak dari duduknya sambil menyambar lembaran tugas yang dibagikan Winda. Refleks tangan Alya ikut mengambil lembaran tugas itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya tanpa dilihatnya lagi. Semua kelelahan menyiapkan microteaching hari ini kini mewujud dalam bentuk raungan-raungan kecil di dalam perutnya. Hal yang ada dalam pikirannya sekarang adalah semangkuk mie ayam bakso di halaman DPR. Tak perlu jauh-jauh ke Senayan, DPR di kampus Universitas Negeri Jakarta bermakna Di bawah Pohon Rindang, alias sederet gerobak penjual makanan yang berbaris manis di pinggir jalan Rawamangun Muka diteduhi rimbunan pepohonan tua yang tumbuh di halaman kampus.
Teman-temannya dari jurusan Tata Boga seringkali mengkritik kebiasaannya makan di DPR. Katanya tempat jajan itu sama sekali tidak memenuhi semua persyaratan, mulai dari cara pengolahan yang merusak gizi, bahan-bahan tambahan makanan yang bisa merusak kesehatan, sampai kebersihan peralatan dan tempat yang mendapat nilai 0,75 dalam skala 0-100. Namun, rasa lapar memang sensasi paling primitif dalam sejarah perkembangan manusia. Maka segala pertimbangan biasanya menjadi samar dan membuat orang menghalalkan segala cara untuk memuaskan rasa lapar itu, termasuk mengkorupsi dana pendidikan yang sudah minim porsinya dalam anggaran belanja negara.
Semangkuk mie ayam bakso sudah mengepul di tangan kirinya, Alya sibuk mengaduk-aduk supaya panasnya berkurang. Rosy yang memesan nasi goreng masih menunggu pesanannya datang, sibuk mengipasi tubuhnya yang kepanasan karena bangku tempat duduknya tidak beruntung mendapat rimbunan pohon flamboyan. Jajan di DPR memang harus tahan panas, baik tubuh maupun tangan. Karena memanfaatkan trotoar yang cuma selebar satu meter, maka jangan berharap ada kemewahan berupa meja tempat menaruh makanan ataupun sekedar menumpangkan siku.
“Wah, jangan dipesen semua dong mie ayamnya Al, aku juga laper nih.” Satu suara menghentikan gerakan tangan Alya menuju mulut. Sosok tinggi itu tiba-tiba sudah ada di depannya. Mendadak mie ayam itu terasa makin pedas di lidahnya. Aduh, kenapa harus ketemu di sini? Penampilannya saat ini sangat jauh dari representatif. Jilbab berantakan, wajah berkeringat, hidung merah menahan pedas. Kadang-kadang ia harus menyedot hidungnya yang selalu berair setiap makan yang pedas-pedas.
“Eh, Fathur mau makan juga?” Rosy yang penuh pengertian menyelamatkannya dari kebuntuan otak sementara.
“Nggak.” Fathur memperlihatkan sebotol teh manis dingin di tangannya.
“Ooh. Masih ada kuliah ya?” Rosy menyambung lagi.
“Kuliah udah abis, tapi ada rapat buat nyiapin Festival TP bulan depan. Kalian ikut nyumbang kan?”
“So pasti. Kami bakal nyiapin foto-foto yang dahsyat buat pameran di festival nanti. Liat aja.” Rosy sesumbar. Festival TP adalah ajang unjuk karya para mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan, dan Fathur sebagai ketua BEM otomatis jadi penanggung jawab. Alya cuma bisa menanggapi dengan senyum. Ia masih sibuk menata lidahnya yang mulai reda dari panas, sambil menata jantungnya yang sedari tadi berdetak-detik dengan irama semaunya.
“OK deh, aku cabut dulu ya. Assalamualaikum.” Fathur bergerak pergi.
Jawaban salam Alya mungkin tak terdengar olehnya, entahlah. Setiap pertemuan dengan pemuda itu selalu membuatnya berubah menjadi orang dengan kepribadian aneh. Sekali waktu ketika mereka bertemu di ruang Sekertaris Jurusan yang selalu dipenuhi mahasiswa yang menjarah lemari perpustakaan, Alya harus menahan malunya karena menyibukkan semua orang untuk membantunya mencari kacamatanya.
Tidak akan memalukan jika saja benda sialan itu tidak tengah bertengger dengan manisnya di puncak kepalanya, dan tidak akan membuatnya berharap bumi merekah dan menelannya saat itu juga jika saja yang menemukannya bukan Fathur. Pemuda itu tidak berkata satu patahpun, hanya tersenyum saja sambil menunjuk ke arah kepala Alya. Bingung Alya meraba ubun-ubunnya. Barulah ia ingat, ia menaruh kacamatanya di situ ketika mengelap wajahnya dengan tisu tadi, agar mudah ditemukan. Hah!
Lamunan tentang Fathur selalu membuat perjalanan pulang di dalam bis kota yang pengap dan panas itu menjadi tak terasa. Kalau saja ini iklan televisi, mungkin bis itu sudah berubah menjadi limusin mewah berwarna pink, dengan supir pribadi berjas rapi, dan suara sember pengamen jalanan berubah menjadi lantunan lagu-lagu jazz yang berkelas. Ia duduk di kursi empuk, menikmati sejuknya pendingin udara, sementara di hadapannya Fathur tersenyum tampan sampil menawarkan segelas es cendol kesukaannya….
Kejanggalan meminum es cendol di dalam limusin mewah menyentakkannya dari lamunan. Huh! Sering-sering ngelamunin cowok emang berbahaya, maki Alya dalam hati. Hampir saja halte bus tujuannya terlewat. Alya turun dari bis sambil menggaruki kepalanya yang gatal sejak setengah perjalanan tadi. Tak dipedulikannya penjaga kios rokok yang memperhatikan kelakuannya sejak turun dari bis sampai naik mobil angkot yang menuju rumahnya. Berada di tengah kerumunan orang yang tak dikenalnya memberinya sedikit keleluasaan untuk menggaruk bagian manapun dari kepalanya yang mulai gatal-gatal panas lagi.
“Mbak, rambutnya ada kutunya ya. Kok dari tadi garuk-garuk terus?” Suara usil tukang ojek yang langsung disahut tertawaan semua orang di sekitarnya menghentikan gerakan tangannya yang tengah menggaruk-garuk dengan dahsyat.
Alya mendelik bengis ke arah si tukang ojek usil. Untung saja angkot segera bergerak pergi. Namun seiring dengan deru angin kencang yang masuk lewat jendela angkot, pikiran Alya melayang mengingat ucapan tukang ojek tadi. Kutu? Mungkinkah? Tapi tidak! Ia sangat apik menjaga kebersihan rambutnya. Makhluk kecil menjijikkan itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Sejak kecil ia belum pernah berkutu, bahkan ketika sebagian besar teman-temannya berambut cepak karena dibabat oleh ibu masing-masing untuk membasmi masyarakat kutu yang berkembang pesat, ia dengan bangga bisa memperlihatkan rambutnya yang panjang, tebal dan bersih pada semua teman mainnya. Ia memang rajin keramas sejak kecil, dan selalu cerewet jika menyangkut pinjam-meminjam sisir ataupun peralatan pribadi lainnya. Jadi “berkutu” tidak pernah termasuk ke dalam daftar masalah kesehatannya sepanjang hidupnya hingga menyandang status mahasiswa ini, dan Alya yakin ia tidak akan pernah mengalaminya.
“Teteh Alya pulang!” Suara nyaring Popy menyambutnya di teras depan. Alya mengembangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar, dan gadis kecil itupun berlari menubruknya dengan riang. Alya memeluk adiknya dengan gemas. Gadis kecil lincah dan cerewet itu selalu bisa membuatnya melupakan semua kelelahan sepulang kuliah.
“Mmm, Popy udah mandi ya?” Alya mencium bau wangi dari tubuh adiknya.
“Iya dong. Tadi keramas sama Bunda,” jawab Popy sambil memaksakan bunyi “r” dalam ucapannya. Baru seminggu ini ia mulai bisa mengucapkan bunyi “r”, dan hampir semua kata dengan lafal “l” diubahnya. Mereka bergandengan masuk rumah. Popy sibuk menceritakan semua kegiatannya hari ini pada kakaknya sambil menggerak-gerakkan tangannya ke sana-ke mari, membuat Alya tertawa-tawa karena geli.
“Tadinya aku nggak mau keramas, tapi kata Bunda kalau nggak keramas nanti rambutnya bau,” kata Popy sambil duduk mencangkung di tepi tempat tidur Alya.
“Iya betul, kalau mau sehat harus rajin keramas, kayak Teteh Alya,” kata Alya sambil mengganti bajunya dengan pakaian rumah. Ia menunggu rasa gerahnya hilang dulu sebelum bisa menikmati segarnya air mandi di sore hari yang panas itu.
“Lagian kata Bunda, kalau aku nggak mau keramas nanti kutunya nggak mau pergi.” Suara Popy kali ini menghentikan gerakan tangan Alya yang hendak menutup lemari bajunya.
“Kutu? Emang Popy ada kutunya?” Suara Alya cemas. Bayangan makhluk kecil hitam itu berkeliaran di kepala adiknya kini mulai mengganggu.
“He-eh,” jawab Popy enteng sambil merebahkan badannya di kasur. Spontan Alya berteriak.
“Jangan tiduran di kasurku!!”
Popy bangkit tergesa. Wajahnya kaget.
“Emang kenapa?” Senyum di wajah manis itu memudar.
“Ntar kutunya loncat ke kasur! Turun, turun!” Alya mengibas-ngibas kasurnya dengan panik. Ia mulai mencari-cari sapu lidi khusus untuk membersihkan kasur. Tidak dilihatnya wajah muram Popy yang perlahan beranjak meninggalkan kamarnya.

Bagaimana nasib Popy selanjutnya? Benarkah Alya diserang hama kutu rambut? Ikuti cerita selanjutnya besok …

#rumahmediagrup

#miradjajadiredja

#latihanmenuliskomunitas