Ada Apa Dengan Hama (2)

Ada Apa Dengan Hama

Recap: Alya pulang dari kampus dengan kepala gatal bukan kepalang. Setibanya di rumah, Popy adiknya mengejutkannya dengan kabar kalau kepalanya berkutu. Alya pun panik. Jangan-jangan ….

Ikuti lanjutannya di bawah ini.

Suara isak perlahan dari sudut kamar mengusik telinga Bunda. Dihampirinya sumber suara itu, dan seperti sudah diduganya, gadis kecilnya tengah duduk sambil menekuk lutut, menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya. Bunda menghela napas. Sudah beberapa hari ini terjadi. Biasanya setiap kali Alya pulang kuliah, Popy selalu menyambut dengan riang. Suara celoteh mereka selalu jadi hiburan manis buat Bunda. Sungguh membahagiakan melihat anak-anaknya bercanda akrab, saling menyayangi. Namun sejak Alya tahu kalau adik kecilnya itu berkutu, ia tak lagi mau berakrab-akrab dengan gadis mungil itu. Misteri gatal-gatal di kepalanya terjawab sudah, dan Popy resmi jadi tersangka utama sekaligus terdakwa. Tuduhan: pengedar benih kutu. Dan seperti semua terdakwa di dunia, Popypun dikucilkan dari lingkungan pergaulan Alya. Kamar Alya jadi daerah terlarang buat Popy, dan acara membaca buku cerita sambil duduk di pangkuan kakak tersayangnya sudah tidak pernah mereka lakukan lagi.
Alya masih sayang setengah mati pada adiknya yang lucu dan cerdas itu, dan semua celoteh Popy masih bisa membuatnya sejenak melupakan tugas kuliah yang bertumpuk. Tetapi ia tidak lagi membiarkan Popy dekat-dekat wilayahnya dalam radius satu meter. Selama Bunda belum menemukan cara ampuh untuk membasmi kutu di rambut Popy, Alya tetap memberlakukan ketentuan daerah terlarang baginya. Jika tidak demikian, maka semua usahanya akan jadi sia-sia. Alya sudah mengganti seprainya, menjemur kasur dan bantal-gulingnya, mencuci selimutnya ke laundry, mencuci rambutnya setiap pagi-sore, tapi tetap rasa gatal itu menyerangnya di saat-saat tak terduga.
Dicobanya obat pembasmi kutu rambut yang dibelinya diam-diam di apotek yang jauh dari rumahnya – agar tidak kepergok tetangga sedang membeli obat pembasmi kutu – dan untuk seminggu kepalanya terasa sejuk, sejuk sampai ke hatinya. Namun setelah lewat seminggu, rasa gatal itu kembali muncul di bagian belakang kepalanya, tepat ketika ia sedang mempresentasikan koleksi fotonya di hadapan Fathur agar lolos pameran foto di Festival TP.
“Foto ini diambil dari atas jembatan penyebrangan – kruk-kruk – dengan menggunakan shutter kecepatan rendah – kruk-kruk – tujuannya agar bisa menangkap gerak cepat kendaraan –kruk-kruk – yang lewat – kruk-kruk …“
Hancurlah sudah. Bukan koleksi fotonya, karena ternyata Fathur sangat suka dan mengambil sepuluh (sepuluh!) untuk dipamerkan, melainkan penampilan dan harga dirinya. Jilbab kuning gadingnya kusut dan miring-miring gara-gara digaruk, padahal ia sengaja memakainya khusus untuk hari itu karena Fathur pernah mengomentarinya suatu pagi “wah, cerah betul keliatannya hari ini!” ketika ia sedang mengenakan jilbab itu.
Sebenarnya Bunda sudah mengusulkan satu jalan pintas untuk mengatasi masalah hama menjengkelkan ini. Namun solusi yang ditawarkan Bunda terlalu radikal bagi Alya. Ini menyangkut harga diri dan kebanggaannya sejak kecil. Apa kata Rosy nanti? Gadis yang mengenalnya sejak Taman Kanak-kanak itu tahu betul, rambut merupakan aset tak ternilai bagi Alya. Lebat dan hitam kemilaunya selalu membuat Rosy iri. Maka iapun menolak mentah-mentah usul sadis Bunda: “potong cepak saja, pasti kutunya habis.” Huh, ibu-ibu memang selalu mau praktisnya saja.
Popy sendiri sudah tiga minggu berambut cepak. Setiap hari Bunda menyisiri rambutnya dengan sisir bergigi rapat, dan perlahan-lahan makhluk kecil pengganggu itupun berkurang hingga hampir punah. Lain halnya dengan Alya. Rambut tebalnya jadi rumah yang nyaman bagi para kutu, dan sekarang gantian ia yang jadi persona non grata di kamar Popy.
“Teteh Alya nggak boleh masuk kamar aku. Nanti kutunya loncat ke kasur aku,” katanya judes. Ingin rasanya Alya meremas gadis mungil itu, kesal, gemas dan lucu berbaur jadi satu. Tapi apapun yang terjadi ia tidak akan mengorbankan rambutnya hanya karena serangan kutu. Baginya itu berarti kekalahan, dan tidak ada orang yang suka jadi pihak yang kalah.
Sampai suatu ketika.
Festival TP berlangsung lancar. Jumlah pengunjung terus bertambah, tidak padat tapi terus mengalir. Pojok Media Pembelajaran menjadi pojok yang paling ramai dikunjungi. Para calon guru dari berbagai jurusan mengamati dan mencoba dengan antusias berbagai media pembelajaran yang dipamerkan. Kalau melihat antusiasme seperti itu, optimis rasanya dunia pendidikan kita akan cerah. Sayangnya idealisme para mahasiswa dan dosen seringkali berbenturan dengan birokrasi dan kepentingan penguasa, sehingga laju pendidikan jadi seperti jalan di tempat.
Alya dan Rosy mengawal stand pameran foto dengan antusiasme yang sama. Apalagi foto hasil karya mereka banyak mendapat komentar positif dari pengunjung.
“Ini foto yang sangat menyentuh. Tidak saja dari sisi kualitas fotografi cukup baik, tapi juga mengandung unsur human interest.” Pak Situmorang, dosen Fotografi, mengomentari hasil jepretan Alya yang menggambarkan seorang pengamen kecil tengah duduk memeluk lututnya, tangan kanannya menggenggam kantong plastik bekas permen yang sudah lusuh, sementara tangan kirinya memegangi sebilah kayu kecil yang ujungnya dihiasi sederet tutup botol bekas. Alat musik paling sederhana yang bisa dijangkau seorang pengamen jalanan. Kamera Alya berhasil menangkap ekspresi lesu pengamen cilik itu, sementara di latar belakang mobil-mobil berseliweran dalam garis-garis hablur yang memperkuat suasana kota besar yang sibuk, begitu sibuknya hingga kehadiran seorang pengamen kecil jadi tidak berarti.
Alya mengangguk-angguk, hatinya menggelembung bangga. Komentar seperti itu tidak mudah didapat dari seorang ahli seperti Pak Situmorang.
“Kalau ini hasil foto saya, Pak.” Rosy tak mau kalah ingin memperlihatkan fotonya pada pak Situmorang. Ketika dosennya itu beralih mengamati foto Rosy, mata Alya menangkap sosok yang tak asing. Langkah-langkah Fathur semakin mendekat, sejalan dengan semakin kerasnya debar di dada Alya. Aduh, apa jilbab putihnya sudah rapi? Jaket almamater terkancing? Rok rapi? Sepatu mengkilap? Kaos kaki ….
“Wah, sukses ya, alhamdulillah.” Kesibukan Alya mengecek penampilan membuat teguran sederhana itu terdengar seperti bunyi halilintar.
“Eh.. i.. iya, syukur semuanya lancar.” Alya menjawab terbata. Kenapa manusia satu ini selalu sukses membuatnya jadi orang paling konyol sedunia?
“Jangan lupa nanti sore jam setengah lima kita adakan evaluasi harian. Kelihatannya stand pameran foto cukup baik, nanti bisa berbagi pengalaman dengan stand lain. Eh… itu apa?” Jari Fathur tiba-tiba menunjuk kepala Alya. Apa?
Refleks tangan Alya meraba kepalanya. Sesuatu yang kecil dan licin membuat jantungnya berhenti berdetak. Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Alya menjepit benda kecil itu dengan jarinya, meliriknya sekilas. Entah bagaimana caranya makhluk kecil sialan itu bisa menemukan jalan keluar dari jilbabnya, merambat naik menyusuri kepalanya, dan bertengger dengan nyaman di ubun-ubunnya menikmati suasana Festival yang meriah. Bahkan berani-beraninya menyapa Fathur dan melambai-lambai minta perhatian! Ya Tuhan! Kiamat ternyata tiba lebih cepat dari ramalan! Tanpa berpikir dua kali Alya berbalik dan berlari keluar dari arena Festival. Tidak dipedulikannya suara Fathur yang memanggil-manggil bingung.
“Al! Alya! Ada apa? Jangan lupa evaluasi nanti sore!” pemuda itu berseru sambil menangkupkan tangan di mulut membentuk corong. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak disangkanya, gadis semanis Alya ternyata takut pada semut.


Bunda tersenyum melihat pemandangan yang sudah lama tak dilihatnya. Alya duduk bersila di teras belakang sambil memegang buku cerita, sementara Popy duduk di pangkuannya sambil bersandar manja. Ia mendengarkan cerita Alya dengan tekun, sambil sesekali mengomentari atau menirukan. Perjanjian damai sudah berhasil dicanangkan kemarin, dan sejak itu Alya dan Popy kembali lengket. Apalagi kini keduanya sama-sama berambut cepak dan bersih dari segala jenis hama.

Selesai

#rumahmediagrup

#miradjajadiredja

#latihanmenuliskomunitas