Ada Apa dengan Jingga

Ada Apa dengan Jingga

Seringkali kita sibuk melanglang buana mencari cinta, padahal ia begitu dekat sedang menanti dengan setia.

~~~~~~~~~~

“Hoyyy, nanti pulang sekolah mampir makan es campur yokk gue yang traktir,” seru Rio sambil menepuk perlahan bahu Jingga membuyarkan lamunannya.

“Beneran? Yukk ah, asik deh segerrr pas udara panas banget kayak gini,” jawab Jingga antusias sambil tersenyum ceria menampakkan giginya yang rapi dan bersih.

Mendengar jawaban Jingga dengan senyumannya yang khas itu saja sudah membuat hati Rio kelepek-kelepek kegirangan. Obrolan singkat mereka terpotong oleh bel sekolah yang berbunyi tanda jam istirahat selesai.

“Nanti gue samperin ke kelas lo ya, jangan lupa lhoo, jangan sampe pulang duluan ya,” kata Rio setengah berteriak sambil bergegas berjalan ke arah kelasnya. Dan dibalas dengan lambaian tangan manis dari Jingga yang cekikikan melihat tingkah sahabatnya itu.

Teman-teman sekolah Jingga dan Rio banyak yang menyangka bahwa mereka berdua memiliki kedekatan khusus, lebih dari hanya sekadar sepasang sahabat. Namun kenyataannya mereka selalu mengakui sebaliknya.

“Jingga …” Rio mengawali obrolan sambil menyeruput es campur dalam gelas besar di hadapannya, “perasaan akhir-akhir ini gue sering banget liat lo bengong-bengong sendiri deh. Ada apaan sih?” sambungnya melontarkan pertanyaan yang mengusik hatinya.

Yang ditanya malah menggoda, “Ya iyalah bengong sendirian. Masa’ bengong mau ngajak-ngajak orang lain,” jawab Jingga sambil tertawa lepas.

Entahlah, Jingga selalu merasa santai maksimal jika sedang berhadapan dengan Rio. Sahabatnya yang satu ini memang selalu sukses menjadi pelipur lara di saat gundah gulana. Bahkan terkadang tanpa harus bercerita, hanya dengan duduk bercengkarama dengan Rio saja sudah terasa lebih tenang dan ringan hatinya.

Bukannya tidak mau menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya, tapi Jingga merasa malu kalau sampai sahabatnya itu mengetahui sebuah kebodohan yang baru saja diperbuatnya.

Sebenarnya beberapa hari yang lalu ia telah menyatakan perasaan hatinya kepada seorang teman laki-laki pujaan hatinya. Awalnya Jingga ragu-ragu. Lalu teman-temannya meyakinkan Jingga untuk terus maju karena mereka yakin bahwa si pujaan hati yang sekelas dengannya itu sebenarnya menyimpan perasaan yang sama, tapi malu untuk menyampaikannya.

Bermodal nekat, ditambah dukungan dari teman-teman sekelasnya, Jingga menyusun surat cinta terindah dan mengirimkannya lewat pesan WhatsApp kepada Krisna, pujaan hatinya.

Centang dua berwarna biru pertanda pesannya sudah dibaca, namun tak kunjung ada balasan. Kemudian keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya Krisna selalu terlihat menghindar dari Jingga. Membuat Jingga menjadi salah tingkah. Apalagi mereka adalah teman sekelas yang pasti bertemu setiap hari.

Perilaku Krisna tentu saja menimbulkan suasana yang terasa kikuk di antara mereka. Jingga merasa malu luar biasa, berharap agar ditelan bumi saja agar tak perlu bertatap muka lagi dengan Krisna.

“Hoyyy, tuh kan bengong lagi deh dia … Hoyyy, Jinggaaaaa!” seru Rio sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah sahabatnya.

“DEG …” jantung Jingga serasa berhenti berdetak sesaat ketika matanya bertemu dengan tatapan mata Rio yang menyejukkan, “nyesss …” gejolak di hatinya padam seketika, berganti menjadi rasa nyaman yang tak terjelaskan.

~~~~~~~~~~

Jingga berulang kali membaca surat itu seolah tak percaya. Setiap aksara yang digoreskan Rio seakan memunculkan rasa yang tersembunyi namun selalu ada. Sahabatnya itu pergi tanpa kata, hanya secarik kertas bertuliskan sebuah pesan yang terangkai menjadi kalimat-kalimat indah penuh makna :

~~~~~~~~~~

Jingga …
Namamu selalu menjadi warna favoritku.
Hadirmu senantiasa menjadi energi dalam hidupku.

Kehangatan, kenyamanan, keceriaan yang selalu kau pancarkan. Bagai mentari yang tak pernah berhenti menerangi.
Kebahagiaan dan semangat yang kau bagi, bagai hembusan lembut yang menyejukkan hingga ke relung hati.

Aku memang bukan Krisna yang sempurna. Namun rasa untukmu ini sungguh luar biasa, tulus dan akan selalu terjaga.

Maafkan aku pamit tanpa kata, tapi kuyakin kita kembali akan bersua. Tentunya aku berharap dirimu menyimpan rasa yang sama. Namun tak perlulah kau menjawab dengan tergesa.

Jingga …
Seandainya kamu memutuskan untuk menungguku, yakinlah bahwa aku takkan mengecewakanmu.

Dari aku, sahabat sepanjang hidupmu …
Yang selalu siap menjadi pendengar favoritmu.

– RIO –

~~~~~~~~~~

Jingga tersenyum simpul, setetes air mata menumpuk di ujung pelupuk matanya. Ada semburat rasa bahagia tak terlukiskan merekah di dada. Rasanya ia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikannya pada Rio bila kelak tiba saatnya mereka bersua.

Ditulis ulang dari :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157976555082847&id=748347846

rumahmediagrup/arsdiani

2 comments

Comments are closed.