Ada Apa Dengan Kiki? (Sebuah Cerpen)

Ada Apa Dengan Kiki?

“Suatu hari, ayam dan sapi bertemu di sebuah padang rumput, lalu terjadi percakapan antara keduanya:

Sapi: ‘Hai, Sob! Ngapain kamu tampak murung begitu?’

Ayam: ‘Iya, Sob, soalnya Ane lagi sebel banget nih dengan yang namanya manusia!’

Sapi: ‘Lah, emangnya ada apa dengan manusia, Yam? Apa mereka melakukan pelecehan terhadapmu?’

Ayam: ‘Bukan begitu, Pi. Mereka sih sebenarnya baik ama Ane. Cuma dalam hal-hal tertentu, sikap mereka sungguh sangat menyakitkan.
Coba loe bayangin, gue makan beras yang berserakan di lantai atau di halaman rumah saja diusir-usir. Padahal kurang apa lagi jasa kami terhadap mereka.

Hampir setiap hari daging dan telur kami mereka santap. Tapi saat kami buang kotoran sedikit aja di teras rumah mereka, kami langsung dicaci maki dan disambit pake sandal.

Kalau mereka berbuat kesalahan, selalu kami yang dijadikan “Ayam Hitam”, misalnya:
Tulisan jelek dikatakan “Kayak Cakar Ayam”.
Tidak bisa tidur nyenyak, selalu dibilang bagai “Tidur Ayam”.
Lagi hilang semangat, mereka sebut itu “Angat-angat Tai Ayam”.

Dan parahnya lagi, jika mereka masak telur ayam, eh malah mereka bilang “Telur Mata Sapi”.
Di situ kadang Ane merasa sedih,’ kata ayam mengakhiri curhatnya.

Sapi: ‘Derita loe itu tak seberapa kalo dibanding gue.’
Ayam: ‘Emangnya loe diapain sama manusia?’

Sapi: ‘Coba loe pikir! Setiap hari susu gua dielus-elus, diremes-remes, dan dipencet-pencet, dan diambil lagi air susu gue, tapi sampai sekarang gue tak pernah dinikahin. Emangnya gue sapi murahan apa?'”


Mimi tertawa terbahak-bahak sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba ….

“Kakaaak, Kiki mau pake behel!”

Mimi terkesiap saat mendengar permintaan adiknya yang tiba-tiba.
“Ngapain kamu pakai behel?”
“Yaaa, biar gigi Kiki rapi lho, Kak. Lihat ni, gigi Kiki enggak rapi. Entar enggak dapet jodoh, loh!”

Kiki memamerkan giginya di depan Mimi. Ada yang gingsul, ada yang besar.

“Namanya jodoh tuh bukan lihat dari gigi, Dek. Kalau jodoh pasti nerima kamu apa adanya. Tuh, kayak Mbak Emmy, sahabat pena Kakak. Padahal giginya enggak rata, tapi dia udah punya pacar lho sekarang.”
Mimi menyebutkan nama salah seorang teman yang juga dikenal adiknya. Awalnya mereka hanya sahabat pena, lalu menjadi teman di sosial media.

Tiba-tiba, Mimi menutup hidungnya. “Bau lho, Dek! Kamu abis makan jengki, ya?”
Adiknya hanya cengar-cengir sambil ngeloyor pergi.

Kiki, si bungsu memang ada-ada saja, deh. Tiba-tiba aja bilang ingin pasang behel. Padahal kan mahal. Belum perawatan setelah pasangnya kan begitu ribet.

Beberapa tahun lalu, malah dia bilang ingin operasi plastik. Biar sekece artis drakor, katanya. Soalnya dia memang terinspirasi dari film “200 Pounds Beauty”. Itu lho, drakor yang mengisahkan tentang seorang gadis gemuk yang ingin tampil menjadi penyanyi di atas panggung, sementara ia selama ini hanya bernyanyi di balik layar.


“Tante Mimiiiiii ….”
Mimi yang sedang bersantai seperti biasa, dikejutkan oleh kedatangan Icha, keponakannya yang baru berusia empat tahun.
“Icha, Mama mana?”
“Mimi, Mbak titip Icha lagi ya. Cuma nyampe siang aja, kok.”
Sebenarnya Mimi hendak mengutarakan keberatannya kalau bukan karena si Icha langsung menggelendot di kaki Mimi. “Tante, mau denger lagu gembala.”

“Iya, iya. Tante puterin lagu gembala, ya.”
Mbak Sisi menitipkan satu tas perlengkapan Icha sebelum pergi. Lalu Mimi segera menghidupkan TV. Icha memang paling senang lagu “Aku Anak Gembala”. Maklum saja, Mimi enggak punya referensi lagu anak zaman now. Adanya lagu-lagu Tasya dan Sherina.

“Aku adalah anak gembala
Selalu riang serta gembira
Karena aku senang bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah.”

“Eh, ada Icha ya?”
“Tanteeee Kikiiii.”
Kiki yang baru saja pulang kuliah langsung disambut pelukan dari keponakannya.
“Icha udah dari tadi, ya? Mbak Sisinya mana?”

Mimi melirik jam dinding yang menunjukkan angka empat. Sementara belum ada tanda-tanda kepulangan Mbak Sisi.
“Entahlah, Ki. Katanya tadi sih, enggak nyampe sore.” Mimi menghela napas dan melempar tubuhnya ke sofa. “Biarin aja, toh mumpung Kakak juga masih nganggur.”

“Kasiiiaaaann, deeh.” Kiki cekikikan sebelum lanjut ke kamarnya. Dalam hati, dia merasa lega masih punya kesibukan kuliah.

Kembali Mimi mencibir. ‘Gini amat ya, jadi anak tengah. Bukannya mestinya anak tengah itu bebas.’

“Tanteeee, bikinin susu.” Mimi merasakan tarikan pada lengannya. “Iya deh, Tante bikinin susu, tapi Icha mandi dulu ya.”

Baru sekitar adzan Isya, Mbak Sisi datang mengambil Icha yang sudah terkantuk-kantuk.
“Aduh, maaf, di kantor ada rapat dadakan.”
Slalu itu alasan Mbak Sisi. Entah bohong atau tidak. Rasanya pikiran Mbak Sisi sedikit korslet setelah bercerai.

“Haha, apaan ini di HP Kakak? Kasian amat jadi sapi!”
“Kikiii, enggak boleh sembarangan buka ponsel orang.”
“Salah sendiri enggak pake password.”
Arrgh, enggak mbak, enggak adik, semuanyaa nyebeeliin!


Keesokkan harinya ….
“Kakaaaaaakkkk, Kiki enggak jadi pasang behel!”

Pagi-pagi teriakan Kiki sudah memenuhi isi rumah. Mimi yang sedang menikmati sarapannya sampai nyaris tersedak.

“Ih, apaan sih, Dek, pagi-pagi udah heboh.”
“Kiki abis dapat mimpi, Kak.”
“Mimpi apaan?”
“Mimpi jadi sapi pake behel, nyengir lagi, jelek banget! Itu tuh, percis kayak gambar di bawah!”
Gantian Mimi yang tertawa. “Haha, percis! Ini mah mirip kamu banget!”

Kiki menghentak-hentakkan kaki di lantai, lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Mimi yang masih tertawa. Lumayan, ada hiburan, walau kadang hidup itu nyebelin. Ya enggak, Sob?


Daftar Pustaka:
Aboey.2019.Kisah Percakapan Ayam dan Sapi, Antara Lelucon dan Pesan Moral. https://m.kaskus.co.id/thread/5b364811ddd770ff7f8b4572/kisah-percakapan-ayam-dan-sapi-antara-lelucon-dan-pesan-moral/. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2019.

rumahmediagrup/emmyherlina