Ada Apa dengan Tetangga?

Ada Apa dengan Tetangga?

Terdapat beberapa perbedaan antara masyarakat yang hidup di kota besar dengan masyarakat di wilayah yang lebih kecil. Salah satunya adalah hubungan antara tetangga. Di tengah kota besar yang sibuk dengan hiruk-pikuknya, masing-masing penduduk sudah terlalu sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing.

Hubungan serta komunikasi dengan tetangga di kota besar kurang mendapatkan perhatian. Padahal tetangga seharusnya menjadi orang terdekat dengan kita di samping keluarga. Kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang artinya :ُ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)

Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah berfirman yang artinya :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.

***

Obrolan di grup WhatsApp malam itu semakin menghangat. Seorang anggota grup bercerita mengenai perilaku tetangganya yang dirasa sering mengganggu ketenangan lingkungan. Beberapa anggota grup yang terdiri dari ibu-ibu ini pun bergantian memberikan tanggapan dan saran, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi tetangga tersebut.

Seorang anggota grup bahkan mengirimkan sebuah meme yang kira-kira bertuliskan seperti ini, “Dengan siapa kita akan bertetangga, seharusnya menjadi satu kriteria penting saat hendak membeli rumah atau memutuskan tempat tinggal.”

Syariat Islam mengabarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau bersabda :
Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘ ” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata :
Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’ ” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Sikap dan adab yang baik sudah selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Di antaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

Beliau juga bersabda :
Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik.” (HR. Muslim 4766)

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat sekaligus semakin memotivasi kita agar bisa berbuat baik terhadap tetangga ❤

rumahmediagrup/arsdiani