ADA RUH DALAM TULISAN KITA

Awal mencoba untuk menulis pada tahun 1980. Naskah diterima di majalah gadis dan majalah Bobo. Yang diterima hanyalah naskah kiat membuat keterampilan. Waktu itu aku ingin menjadi penulis fiksi. Mungkin syarat dan ketentuan yang tidak kupatuhi akhirnya dua kali naskah dikembalikan oleh redaktur. Atas kejadian itu tidak cukup membangkitkan semangatku untuk menulis kembali yang dikirim ke sebuah majalah.

Aku tetap menulis, yang kulihat maupun kegelisahan-kegelisahan yang sedang berkecamuk di pikiranku. Kutulis di mana pun kumau, kutulis meski hanya di atas kertas tergeletak, tidak ada harapan lagi untuk mengirimkannya ke sebuah terbitan.

Menulis adalah salah satu cara menyampaikan isi pikiran yang tidak bisa disampaikan secara langsung secara tatap muka.
Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang tidak mampu menyelesaikan melalui komunikasi tatap muka. Kemungkinan karena diplomasi bahasanya yang kurang mengena, mungkin juga terdapat data pendukung yang kurang signifikan disampaikan, atau mungkin juga sikap penguat sebuah pendapat kurang mendukung.

Hal ini terjadi karena memberikan pengaruh terhadap orang lain untuk menyetujui opini kita diperlukan hal-hal lain selain yang kita sampaikan. Antara lain ekspresi, body language atau bahasa tubuh dan kepada siapa, apa, di mana serta kapan kita menyampaikan hal tersebut. Ini penting, oleh sebab itu menyampaikan isi pikiran dalam sebuah tulisan sebisa mungkin mewakili lebih kurang 75% kondisi tersebut. Selebihnya bisa disampaikan secara face to face.

Percaya atau tidak silakan dicoba.

Pernahkan mendengar sebuah ungkapan yang menyatakan. “Tidak akan dia terima jika pendapat itu keluar dari diriku, dia akan menerima mentah-mentah jika yang sedang bicara adalah Mirna”

Sebutan terhadap sebuah nama yang bernama Mirna bisa saja terjadi. Mirna adalah sosok yang lembut pandai mengambil hati dan selalu tampil dengan senyuman. Jika mendapatkan hujatan dari temannya dia tersenyum. Dia sosok yang tidak memaksakan kehendaknya.

Nah, ini bagian dari tekniknya Mirna dalam menghadapi permasalahan secara face to face. Namun dia adalah satu-satunya orang yang tak mampu menulis apa yang dia lakukan. Mengapa? Karena dia mempunyai kelebihan kecerdasan interpersonal yang tentu menggunakan bahasa aktif, bukan bahasa pasif.

Bagi orang lain yang senang menulis, dia lebih baik menulis daripada kecewa karena berhadapan dengan lawan bicara yang sikapnya tidak familiar dengan pendapat yang disampaikan.

Bagi saya, yang luar biasa dalam menulis adalah jika ketika menulis, pikiran mengalir seolah keluar masuknya udara lewat nafas layaknya. Kita sedang menyatu dengan tulisan. Lupa dengan yang lain. untuk mengimbangi kecepatan pikiran kita maka cobalah rekam pikiranmu kemudian setelah itu ambil langkah menjadikan rekaman itu dalam bentuk tulisan.

Jujur, sebuah tantangan kadang mengganggu kondisi ini. Namun, mencoba untuk menepis. 😊 inilah makna belajar menulis. kadang untuk sebuah pembelajaran kita perlu dipaksa untuk berada pada posisi orang lain. Artinya di sini kita mencoba memahami pikiran dan perasaan orang tersebut. Dengan cara ini insya Allah terdapat ruh dalam tulisan kita.