Adab Sebelum Ilmu

Setiap orang tua mempunyai harapan berbeda terhadap putra putrinya. Namun saat menerima raport hasil pencapaian belajar di sekolah rata-rata semua orang tua mempunyai harapan yang sama. Semua orang tua mengharapkan agar putra putrinya mendapatkan nilai yang baik, malah mungkin terbaik dari seluruh siswa di kelasnya. Pertama dilihat adalah nilai pengetahuan dan keterampilan.

Orang tua akan langsung menanyakan,
“Bagaimana bu, dengan nilai putra atau putri saya? Aduh nilai matematikanya kecil ya, ya nilai Bahasa Inggrisnya rendah sekali.” Ucap orang tua ketika mengambil hasil belajar putra maupun putrinya. Kerap sekali mereka kecewa ketika melihat nilai pengetahuan dan keterampilannya rendah.
“Bu, ada les tambahan tidak? Biar nilai putra saya tinggi, soalnya saya berharap dia bisa kuliah di universitas yang terbaik.” Ulas orang tua yang lain.

“Bu, kapan putra saya bisa remedial, agar nilai di raportnya bisa lebih bagus.” Ujar salah satu orang tua yang lain.
“Bu, boleh saya ke rumah ibu untuk tambahan pelajaran? nggak apa-apa saya bayar tambahan bu.” Rayu salah satu seorang siswa.
“Bu, Bu, Bu.”


Semua rata-rata mengharapkan ada perubahan dalam nilai yang tertulis di raport, entah itu anaknya ataupun orang tuanya. Semua rata-rata sama ingin memperoleh nilai raport. Karena anggapan mereka, jika nilai matematika atau bahasa Inggris tinggi maka dapat dikatakan bahwa putra putrinya telah berhasil. Mereka tak berpikir, bahwa nilai pengetahuan dan keterampilan bukan patokan anak tersebut berprestasi. Namun begitulah kerap pikiran semua anak dan orang tua. 

15 tahun menjadi guru, sudah 15x menjadi wali kelas dari tingkat ke-1 sampai tingkat ke-3 semua sudah aku alami. Namun baru kali ini, aku menemukan orang tua yang datang ke sekolah. Ketika mengambil raport, raport itu tak dibuka sama sekali, tidak ada pertanyaan bagaimana nilai matematika, bahasa Inggris atau mata pelajaran yang lainnya. Orang tua ini hanya menanyakan bagaimana sikap anak saya di sekolah? Sopan santun  dia di sekolah? Sholatnya bagaimana? Apakah ketika tilawah harus diperhatikan atau malah harus diperintah dulu?


MasyaAllah, seandainya semua orang tua mampu bersinergi dengan guru di sekolah. Bukan hanya melepaskan begitu saja putra atau putrinya ke sekolah. Dalam arti, silakan ajarkan, didik, bimbinglah anak saya dengan baik. Berapa administrasi yang harus kami bayar? Setelah membayar, silakan bagaimana cara dan langkah guru agar mampu mengubah anak menjadi pinter, mendapatkan nilai yang tinggi bahkan mengharapkan putra atau putrinya berprestasi. Putra atau putrinya mampu mendapatkan berbagai lomba dan piala serta sertifikat yang banyak. Sangat jarang orang tua bersikap demikian contoh di atas. Seribu satu kemungkinan ada.

Banyak orang tua menanyakan bagaimana nilainya bu? Tidak terlintas untuk menanyakan sikap kesehariannya, bagaimana akhlaknya di sekolah? Bagaimana adabnya terhadap guru di sekolah? Pertama dilihat adalah nilai.

MasyaAllah, rasanya bersyukur sekali mendengar ucapan orang tua itu. Seandainya banyak orang tua yang berpikir demikian, bahwanya  tak berarti nilai anak apabila anak kita masih jauh dari akhlak dan karakter yang islami. Aku pernah membaca, bahwasannya di Jepang itu di sekolah dasar, anak selama 3 tahun pertama mereka belajar adab dan karakter. MasyaAllah begitu berharganya adab, sebelum ilmu.
Jadi janganlah bersedih hati ketika nilai akademik, pengetahuan dan keterampilan anak masih rendah. Sedihlah ketika anak kita masih jauh dari adab dan karakter islami.

Wallahu A’lam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi