Adakah Eksternalitas Dalam Upah?

Sumber Gambar : Http;//www.liputan6.com/

Adakah Eksternalitas Dalam Upah?

Eksternalitas adalah situasi di mana seseorang atau pebisnis mengejar keuntungan/kepentingan pribadi dan menciptakan efek samping yang merugikan atau membantu orang lain. Sering kan kita temui dalam pasar kerja, atau biasa di sebut ada kongkalikong atau main orang dalam. Dalam ilmu ekonomi hal ini disebut eksternalitas.

Dalam kegiatan pasar ketenagakerjaan yang ketat, eksternalitas sangat khas ketika perusahaan menghasilkan produk untuk dijual dan dalam prosesnya melibatkan pembebanan biaya atau manfaat pada orang yang tidak tertarik untuk membeli. Atau dimaknai bahwa banyak orang yang menginginkan pekerjaan tertentu pada perusahaan tertentu, namun perusahaan memberikan beban biaya atau manfaat lain pada pekerja lainnya yang tidak menginginkannya. Biaya-biaya yang muncul seringkali dimaknai negatif (kolusi, nepotisme pada pekerjaan tertentu) , atau bahkan manfaat (eksternalitas positif).

Sebenarnya gagasan munculnya eksternalitas tidak diterapkan pada pekerjaan dan upah, namun banyak pemikir ekonomi memberikan argumen bahwa eksternalitas juga muncul dalam pasar tenaga kerja dan bekerja pada pembentukan upah. Dipahami bahwa ekonomi bebas membentuk upah sebagai hasil dari tawar menawar, sebagai pertukaran sukarela antara pencari kerja dan pihak perusahaan, maka dalam prosesnya telah terjadi keuntungan tertentu bagi keduanya atau ada hal lain yang tidak akan terjadi yang mempengaruhi kesepakatan upah di dalamnya. Tawar menawar upah inilah yang disebut sebagai eksternalitas uang (Friedman, 2000).

Eksternalitas uang terjadi pada pasar tenaga kerja. Jika seorang pekerja menerima pekerjaan dengan upah rendah, perusahaan akan memberikan tekanan pada pekerja yang ingin mengurangi jam kerjanya. Pekerja yang mengambil uaph rendah, telah membebankan biaya pada pekerja lain. Perusahaan yang mempekerjakan dengan upah rendah,  akan memberikan nilai manfaat menjadi nol. Eksternalitas negatif yan muncul bisa juga membebankan pada masyarakat. Tapi ini biasa terjadi pada masyarakat dengan penghasilan rendah.

Upah yang tidak mampu mencukupi kehidupan keluarga akan menjadi beban biaya bagi keluarga bahkan masyarakat luas. Hal ini diasumsikan adanya pertimbangan keberlajutan upah pada kehidupan seseorang dan keluarganya akan berdampak membebani masyarakat. Upah bekerja layaknya asuransi atau jaminan kehiduapn seseorang dan keluarganya. Bisa saja hal ini telah terjadi eksternalitas dalam upah.

Upah juga berdampak pada kesehatan, perawatan kehidupan seseorang dan keluarganya. Makanan bernutrisi, pendidikan yang baik adalah salah satu eksternalitas manfaat dari upah yang layak. Penambahan biaya sebagai akibat dari upah ditafsirkan sebagai eksternalitas. Atau bisa jadi terjadi jika perusahaan tidak membayar penuh upah pekerja. Akibatnya, insentif yang mereka peroleh terlalu banyak jika dibandingkan dengan upah yang ia peroleh. Ini berarti pekerja tidak efisien dalam menggunakan kemampuannya dalam bekerja. Terlalu fokus memeroleh insentif daripada fokus dalam meningkatkan upah. Karena upah diyakini sebagai hal yang lebih berkelanjutan daripada insentif.

Bagaimana solusi adanya eksternatilitas negatif ini? Ide dasarnya adalah memberi insentif bisnis agar menginternalisasi eksternalitas dalam bagian dari struktur biaya. Maksudnya? Biaya eksternalitas masuk dalam struktur biaya produksi, sehingga perusahaan mencapai internalisasi dengan kesukarelaan, artinya perusahaan mengakui bahwa jika terjadi kerusakan mesin, kecelakaan kerja, mereka harus mengurusnya sendiri, mengeluarkan biaya dan tidak membebankan pada biaya upah.

Negosiasi upah dalam pasar tenaga kerja terdapat alokasi biaya eksternalitas, seharusnya demikian. Perusahaan seharusnya menemukan cara dalam hal pembebanan biaya di laur biaya upah. Konsekuensi dalam proses produksi dan peningkatan produktivitas tidak hanya di bebankan pada pekerja dan dalam upah yang telah disepakati. Keterbukaan dalam negosiasi upah sangat dibutuhkan untuk mengurangi munculnya eksternalitas negatif. Setidaknya ada motivasi moral dalam mekanisme struktur upah yang terbentuk.

Referensi

Friedman, David D. (2000), Law’s Order, Princeton, NJ: Princeton University Press.

Friedman, Milton (1982), Capitalism and Freedom, Chicago, IL: The University of Chicago Press.

Friedman, Rose D. (1965), Poverty: Definition and Perspective, Washington, DC: The American Enterprise Institute.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina

One comment

Comments are closed.