Adam Smith: Upah itu Moral dan Pasar

Sumber gambar : http;//www.liputan6.com

Adam Smith: Upah itu Moral dan Pasar

Adam Smith dengan bukunya yang berjudul The Wealth of Nations yaitu tentang sistematis ekonomi pasar. Tetapi sebenarnya Smith berdiri pada transisi pemikiran ekonomi. Pasar muncul sebagai lembaga sosial yang dominan dan hanya samar-samar menyadari adanya potensi kekuatan pasar. Di dalamnya, terdapat perbedaan antara moral ekonomi dan ekonomi pasar. Smith menemukan pasar dalam terminologi ekonomi modern, yakni menarik upah layak ke dalam moral dan pasar.

Pemikiran Smith berkembang dan dipengaruhi oleh pemikiran keagamaan yakni tentang harga upah yang adil (Stabile, 1997). Aturan ini tentu saja dekat dengan pemikiran Plato dan Aristoteles terkait konsep manajemen rumahtangga, pengetahuan moral dibentuk oleh rumahtangga (Lowry, 1987). Ekonomi moral Smith tidak konsisten denfan industri atau ekonomi kelompok rumahtangga yang ada di kota. Karena moral menurut Smith banyak ditemukan dalam kelompok masyarakat pedesaan, terutama moral agama. Dan konsekuensi dari pemikiran Smith ini, maka The Wealth of Nations kurang menyenangkan bagi ekonomi pasar, di mana masih bekerja tanpa adanya moral.

Dengan pemikiran Smith ini, pasar melihat bahwa adanya kepentingan pribadi dan dibiarkan. Padahal pasar menangani masalah persoalan masyakarat, sehingga demikian, Smith memperhatikan ekonomi politik. Artinya, Smith menganggap bahwa persoalan subsisten pada rakyat dibutuhkan kebijakan, yakni kebijakan yang menyediakan kesempatan bagi masyarakat untuk memeroleh kesejahteraan melalui pendapatan atau untuk penghidupan mereka sendiri. Dan untuk mendorong kepentingan ekonomi ini, maka insentif berbasis pada moral ekonomi adalah cara terbaik. Karena bisa jadi dalam pasar, muncul keserakahan dan kekerasan atau dominasi dari kelompok tertentu, kelompok yang kuat akan menggilas habis kelompok masyarakat miskin.

Bagian utama dari pemikiran Smith ini membawa dampak pada sistem pasar, yakni membiarkan individu bertindak berdasarkan insentif, jelasnya dalam tindakan ini terdapat diikuti oleh kepentingan mereka sendiri dan menghasilkan barang-barang yang terbaik untuk dirinya (Smith, 1976). Dalam pasar persaingan akan membawa harga ke “tingkat alami”, di mana pemilik bisnis akan melakukan beberapa hal untuk mendapatkan keuntungan dan pekerja akan menginginkan penghasilan upah yang alami (layak).

Smith mendefinisikan upah alami sebagai upah subsisten, bahwa definisi ini juga termasuk keberlanjutan tenaga kerja. Bahkan Smith menuliskan bahwa seorang laki-laki selalu hidup dengan pekerjaannya, dan upahnya setidaknya harus demikian cukup untuk bertahan hidup. Bahkan disarankan Smith, seorang pria harus memiliki upah di atas upah layak, agar tetap bertahan. Jika tidak, maka tidak mungkin baginya untuk membesarkan keluarganya, pekerja yang tidak demikian, maka tidak akan dapat bertahan melampaui pada generasi pertamanya (Smith, 1976). Jika pekerja tidak mendapatkan upah subsisten (beresiko diambang tidak layak), maka tenaga kerja akan menggunakan secara berlebihan dan fungsi ekonominya tidak berhenti.

Lalu, Smith mendefinisikan juga, dalam upah subsisten ini pekerja diizinkan untuk menjaga dirinya, yakni memenuhi kebutuhannya sendiri. Tetapi ini memastikan bahwa kebutuhannya juga bersifat subsisten. Upah yang tidak cukup, membuat kebutuhan hidupnya juga tidak dicukupi.  Biasanya dimiliki oleh pekerja kasar.

Definisi Smith tentang upah ini hampir sama dengan kehidupan sekarang. Kehidupan layak masih menjadi cita-cita banyak orang. Masalahnya ada pada biaya barang-barang kebutuhan yang bervariasi, cenderung naik tiap waktu. Pertanyaan sesungguhnya oleh Smith, apa yang diperlukan untuk menjawab persoalan ini, apakah cukup dari upah saja?

Upah dijelaskan oleh Smith, bahwa upah itu bervariasi, subsisten atau tidak. Hal ini tergantung pada kesepakatan pekerja dan pemilik usaha. Ada banyak yang mempengaruhi, salah satunya ketrampilan yang dibutuhkan pekerjaan, biaya untuk mencapai pemenuhan keterampilan dalam pekerjaan, resiko pekerjaan. Dijelaskan juga bahwa kondisi penawaran permintaan dapat mempengaruhi upah di pasar tenaga kerja, dalam jangka pendek, karena industri berkembang akan memiliki peningkatan permintaan tenaga kerja. Dan dalam jangka panjang, ekonomi akan tumbuh dan permintaan tenaga kerja secara umum akan baik dan mengarahkan pasar untuk menaikkan upah (Smith, 1976).

Sesuai pendapat Smith, maka optimis pasar tenaga kerja dalam menaikkan upah. Perdagangan akan mendorong seseorang untuk memeroleh nafkah di luar upahnya. Akibatnya, pekerja akan melihat peningkatan dan kekuatan pasar akan memiliki yang positif konsekuensi menuju upah yang kuat.

Referensi:

Lowry, S. Todd (1987), The Archaeology of Economic Ideas, Durham, NC: Duke University Press.

Stabile, Donald R. (1993), Activist Unionism: The Institutional Economics of Solomon Barkin, Armonk, NY: M.E. Sharpe.

Stabile, Donald R. (1996), Work and Welfare: The Social Costs of Labor in the History of Economic Thought, Westport, CT: Greenwood Press.

Stabile, Donald R. (1997), ‘Adam Smith and the natural wage: sympathy, subsistence and social distance,’ Review of Social Economy, 55 (Fall), 292–311.

Stabile, Donald R. (2000), ‘Unions and the natural standard of wages: another look at “the J.B. Clark problem”,’ History of Political Economy, 32 (3), 585–606.

Stabile, Donald R. (2007), Economics, Competition and Academia: An Intellectual History of Sophism versus Virtue, Cheltenham, UK and Northampton, MA, USA: Edward Elgar.

Stabile, Donald R. (2008), ‘Automation, workers and union decline: Ben Seligman’s contribution to the institutional economics of labor,’ Labor History, 49 (August), 275–97.

Smith, Adam (1976a), The Theory of Moral Sentiments, D.D. Raphael and A.L. Macfie (eds), Oxford: Clarendon Press.

Smith, Adam (1976b), An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, 2 vols, Chicago, IL: University of Chicago Press.

rumahmediagrup/Anita Kristina