Adek PAUD, Jangan Jadi Radikal Dong!

Adek PAUD, Jangan Jadi Radikal Dong!

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

PAUD menjadi sasaran program kontra radikalisme berikutnya setelah masjid, kampus, dan pesantren. Tidak gemen-gemen Wapres KH. Ma’ruf Amin langsung turun tangan mengawal program ini. Nah lho! Apa memang sudah segenting ini Indonesia dari paparan radikalisme?

Ma’ruf menilai perlu pengajaran pada anak sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat Sekolah Dasar (SD) untuk melawan radikalisme. Pasalnya, di tingkat PAUD hingga SD saat ini muncul gejala radikalisme yang ditunjukan dengan atribut berupa poster tokoh-tokoh radikal yang kerap dipamerkan dalam acara tertentu.

“Kita ingin libatkan secara keseluruhan, terorganisasi, tersinergi, komprehensif, sehingga perkembangan radikalisme (dapat dicegah) dari hulu sampai ke hilir. Mulai pendidikan, bukan hanya SD, dari PAUD juga mulai ada gejala, dari TK tokoh-tokoh radikal itu sudah dikenalkan,” ujar Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (15/11).
(https://m.cnnindonesia.com/nasional/20191115162509-20-448730/maruf-ingin-cegah-radikalisme-sejak-tingkat-paud)

Setali tiga uang dengan apa yang disampaikan Wapres, wacana pencegahan radikalisme sejak dini sebelumnya telah disampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemendikbud di bawah menteri Nadiem Makarim tengah menyusun program pendidikan karakter yang akan diterapkan di sekolah-sekolah PAUD di seluruh Indonesia. Program khusus bagi anak-anak usia dini ini diterapkan untuk mencegah radikalisme yang bisa menyasar anak-anak hingga usia dini.

Istilah radikalisme yang ambigu tidak jelas benar-benar menjadi narasi yang menakutkan. Menjadi hantu yang bergentayangan dimana-mana. Coba kita bayangkan radikalisme seperti apa yang bisa menyasar anak PAUD? Apa dengan mengajarkan cinta pada pahlawan ini adalah radikal? Mengajarkan mereka taat beribadah, baca tulis Al-Quran sejak dini ini juga radikal? Atau menyayikan lagu “ayo kita ke Mekah berkeliling keliling ka’bah” dan “balonku ada lima” juga radikal?

Bukankah tuduhan-tuduhan serta antisipasi yang berlebihan itulah yang berpotensi menebar kebencian, perpecahan, serta adu domba di masyarakat. Sehingga mereka curiga satu sama lain. Ujungnya saling tuduh dan lapor.

Hal inilah yang menjadikan miris para orang tua dan pendidik. Aqidah yang harusnya menjadi dasar pendidikan usia dini harus dipinggirkan karena ketakutan yang tidak berdasar atas nama radikalisme. Generasi seperti apa yang diinginkan pemimpin negeri ini? Entahlah! Adek PAUD kami mendukungmu!

Rumahmediagrup/endahsulis1234